Siklus Pelemahan Rupiah

Kompas.com - 11/06/2013, 02:52 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diduga merupakan bagian siklus yang terjadi setiap pertengahan tahun. Hal ini akibat melonjaknya kebutuhan dollar AS untuk membayar utang luar negeri dan impor. Bank Indonesia pun menjamin pasokan dollar AS di pasar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Difi Ahmad Johansyah menekankan, BI siap menjaga nilai tukar rupiah di pasar, sesuai fundamental ekonomi. ”Kami akan menjaga pasar spot. Caranya dengan intervensi pasar. Termasuk membeli surat utang negara saat harganya jatuh,” katanya di Jakarta, Senin (10/6).

Utang luar negeri Indonesia per Maret 2013 sebesar 253,183 miliar dollar AS. Adapun pembayaran utang luar negeri pada kurun waktu Januari-Maret 2013 sebesar 37,763 miliar dollar AS.

Kemarin, nilai tukar rupiah AS berdasarkan kurs tengah BI sebesar Rp 9.806 per dollar AS, melemah dibandingkan Jumat (7/6) yang sebesar Rp 9.790 per dollar AS.

Kendati siap mengintervensi pasar, BI tidak bersedia menyebutkan cadangan devisa yang akan digunakan untuk keperluan itu. BI juga menolak menyebutkan batasan nilai tukar rupiah yang akan dijaga. Cadangan devisa per 30 April 2013 sebesar 107,269 miliar dollar AS.

”BI memang mempertimbangkan level tertentu. Meskipun, yang penting bagi BI adalah menjaga kestabilan nilai tukar rupiah,” kata Difi.

Volatilitas rupiah pun menyeret Indeks Harga Saham Gabungan terperosok lebih dalam. Hal ini terjadi di tengah penguatan mayoritas bursa saham di kawasan regional Asia. Di akhir perdagangan kemarin, IHSG ditutup melemah 87,96 poin (sekitar 1,81 persen) ke level 4.777,37 dengan jumlah transaksi sebanyak 10,6 juta lot atau setara dengan Rp 7,2 triliun. Seperti sepanjang dua pekan lalu, investor asing kembali menjual saham-saham dengan total catatan penjualan bersih di pasar reguler senilai Rp 964 miliar.

Analis riset Panin Sekuritas, Purwoko Sartono, menyatakan, pelemahan nilai tukar rupiah juga terkait langsung dengan aksi jual investor asing itu. Aksi jual asing ini terkait ketidakpastian kebijakan bahan bakar minyak.

”Di tengah kurs rupiah yang melemah, diperlukan figur pimpinan yang dapat memberikan ketenangan kepada para pelaku pasar. Orang-orang yang pada krisis 2008 menjadi pemimpin ekonomi dan berhasil menenangkan pasar, saat ini tidak ada lagi,” ujar ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan.

Sementara itu, Nurul Ety Nurbaity, Kepala Riset Treasury BNI, mengatakan, pelemahan rupiah ini karena pasokan dollar AS yang kurang.

”Pada awal bulan biasanya tekanan terhadap kurs rupiah berkurang. Inflasi pun masih stabil. Pelemahan ini masih karena sentimen,” ujar Nurul.

Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, A Tony Prasetiantono, menyatakan, pelemahan rupiah disebabkan faktor internal dan eksternal.

Sementara, Ekonom Kepala Asia Pasifik Lembaga Pemeringkat Utang Standard & Poor’s Paul Gruenwald di Singapura mengungkapkan, pelemahan kurs mata uang yen selama lima bulan terakhir bisa berdampak positif bagi Asia. (IDR/BEN/JOE/HAM/LAS)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X