Mengkaji Pengalaman Negara Lain untuk Mendorong Investasi Energi Terbarukan

Kompas.com - 21/08/2013, 15:51 WIB
Seorang bocah memerhatikan maket kompleks Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang 4 Garut, Jawa Barat,  saat pameran BUMN Innovation Expo & Award di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta pada 27-30 Juni 2013. PLTP ini merupakan satu dari 11 proyek garapan PT Rekayasa Industri di bidang energi terbarukan. 
Josephus PrimusSeorang bocah memerhatikan maket kompleks Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang 4 Garut, Jawa Barat, saat pameran BUMN Innovation Expo & Award di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta pada 27-30 Juni 2013. PLTP ini merupakan satu dari 11 proyek garapan PT Rekayasa Industri di bidang energi terbarukan.
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia Clean Energy Development (ICED) mengkaji pengalaman beberapa negara dalam mendorong investasi di bidang energi terbarukan untuk pembangkit listrik yang tersambung ke jaringan (on grid power generation plant).

Negara-negara tersebut adalah Amerika Serikat, China, Brazil, India, Bangladesh dan Thailand. Untuk Amerika, China, Brazil dan India termasuk dalam peringkat sepuluh besar negara-negara di dunia dengan perkembangan energi terbarukan yang amat pesat.

Sementara itu Bangladesh dan Thailand dinilai memiliki pengalaman yang relevan untuk Indonesia meskipun mereka tidak berada di peringkat atas dunia.

Deputy Chief of Party ICED-US AID Raymond Bona menjelaskan, studi ini berfokus pada upaya bank sentral dan pemerintah di negara-negara tersebut, untuk menggairahkan pemanfaatan air, bio masa, sinar matahari, angin dan bio gas bagi pembangkit listrik dengan kapasitas hingga 10 mega watt.

"Berbagai inisiatif mereka di bidang keuangan dan perbankan dapat menjadi pembanding dan memberikan petunjuk bagi kita, dalam memilih fokus untuk meningkatkan pengembangan energi terbarukan," ujarnya di Kantor Bank Indonesia, Rabu (21/8/2013).

Raymond mengatakan, banyak pengalaman dan pelajaran yang relevan dari negara-negara tersebut dalam studi ini, seperti membuat skema pasar karbon cap and trade. Mekanisme ini memberikan insentif kepada energi bersih tanpa beban pendanaan dari pihak pemerintah. Begitu juga dengan pengurangan subsidi BBM.

"Pemerintah kita telah melakukan upaya ini, namun perlu langkah yang lebih intensif. Kita dapat merujuk pada pengalaman Brazil, yang berhasil mengurangi subsidi BBM dan listrik dalam waktu singkat," jelasnya.

Selain itu pemerintah Indonesia harus memperkuat insentif fiskal. Menurut Raymond, Indonesia belum memberikan pengurangan pajak produksi, pajak investasi, atau hibah untuk proyek energi terbarukan skala kecil. Sebagian besar insentif ini dirancang untuk mengurangi biaya peralatan atau sistem, sehingga dapat meningkatkan keekokomian proyek setelah memperhitungkan FIT yang berlaku.

"Kebijakan ini dapat dikaitkan dengan public benefit fund, yang dapat diambil dari tambahan biaya listrik dari konsumen, atau dari penghematan subsidi BBM," katanya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Maskapai Minta Pemerintah Gulirkan Beragam Insentif Secepatnya

Maskapai Minta Pemerintah Gulirkan Beragam Insentif Secepatnya

Whats New
Kesempatan UMKM untuk Ikut Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Makin Terbuka

Kesempatan UMKM untuk Ikut Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Makin Terbuka

Whats New
Penyelundupan Benur Marak, KKP Lepasliarkan Lagi Ribuan Benih Lobster

Penyelundupan Benur Marak, KKP Lepasliarkan Lagi Ribuan Benih Lobster

Whats New
Investor Pemula, Hati-hati Fenomena 'Pompom' Saham

Investor Pemula, Hati-hati Fenomena "Pompom" Saham

Whats New
Berapa Proporsi Investasi Emas yang Ideal untuk Karyawan?

Berapa Proporsi Investasi Emas yang Ideal untuk Karyawan?

Earn Smart
Ingin Jajan Enak Tanpa Takut Boros? Manfaatkan Promo 3.3 Pesta Cashback ShopeePay

Ingin Jajan Enak Tanpa Takut Boros? Manfaatkan Promo 3.3 Pesta Cashback ShopeePay

Whats New
[POPULER DI KOMPASIANA] Pamer Gaji di Media Sosial | Netizen Indonesia Tidak Sopan | Menghindari dan Mengatasi FOMO

[POPULER DI KOMPASIANA] Pamer Gaji di Media Sosial | Netizen Indonesia Tidak Sopan | Menghindari dan Mengatasi FOMO

Rilis
BCA Imbau Ganti Kartu ATM Magnetic Stripe ke Chip Secepatnya

BCA Imbau Ganti Kartu ATM Magnetic Stripe ke Chip Secepatnya

Whats New
Selama Pandemi, Warung Mitra Bukalapak Meningkat 4 Juta Pelapak

Selama Pandemi, Warung Mitra Bukalapak Meningkat 4 Juta Pelapak

Whats New
Pamer Cupang, Erick Thohir Teringat Masa Awal Coba Berbisnis

Pamer Cupang, Erick Thohir Teringat Masa Awal Coba Berbisnis

Whats New
Gandeng BRI, TaniFund Siapkan Dana Rp 200 Miliar untuk Petani dan UMKM

Gandeng BRI, TaniFund Siapkan Dana Rp 200 Miliar untuk Petani dan UMKM

Rilis
Pendaftaran Kartu Prakerja Gelombang 13 Mau Dibuka, Jangan Lupa Persiapannya

Pendaftaran Kartu Prakerja Gelombang 13 Mau Dibuka, Jangan Lupa Persiapannya

Whats New
Bayar Biaya Nikah KUA Bisa Via Bukalapak, Simak Caranya

Bayar Biaya Nikah KUA Bisa Via Bukalapak, Simak Caranya

Whats New
Hati-hati Terjebak Skema Money Game seperti Vtube dan TikTok Cash

Hati-hati Terjebak Skema Money Game seperti Vtube dan TikTok Cash

Earn Smart
Resmi, Ini Cara Dapat Diskon PPnBM Mobil dari Sri Mulyani

Resmi, Ini Cara Dapat Diskon PPnBM Mobil dari Sri Mulyani

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X