Tinggalkan Karier, Catur Sukses Bisnis Kemasan Makanan Beromzet Miliaran

Kompas.com - 25/04/2014, 07:35 WIB
Catur Jatiwaluyo KONTAN/BAIHAKICatur Jatiwaluyo
EditorErlangga Djumena

Dari produksi di pabrik seluas 5.000 meter persegi (m²) tersebut, Paperocks mampu mencetak penjualan di pasar domestik sebesar Rp 18 miliar per tahun. "Jika ditambah ekspor, omzet bisa mencapai Rp 40 miliar per tahun," ujarnya.

Permintaan kemasan diperkirakan terus tumbuh. Ini disokong oleh ekspansi waralaba resto di Indonesia. Catur yakin, pertumbuhan penjualan kemasan Paperocks bisa mencapai 40 persen–50 persen per tahun.

Tinggalkan karier

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 2008 menjadi titik balik kesuksesan Catur Jatiwaluyo di dunia bisnis. Pasca krisis ekonomi itu, ia bersama dua orang rekannya mendirikan PT Paperocks Indonesia yang fokus menggarap pasar domestik.

Ceritanya bermula ketika Catur diajak Dillon Sutandar dan Philip Sumali untuk bekerjasama mendirikan usaha. Ketika itu, bisnis kemasan milik kedua temannya itu tengah limbung diterpa krisis.

Gara-gara krisis, kedua temannya banyak kehilangan pesanan, baik di pasar ekspor maupun pasar domestik. Lantaran sepi order, pabrik kemasan milik temannya ini tidak jalan. “Teman saya lagi kebingungan, sebab dia punya aset tapi tidak jalan,” kenang Catur.

Saat itu Catur sebenarnya sedang tidak ingin bekerja di tempat lain. Soalnya, posisinya saat itu sudah cukup tinggi dengan jabatan country manager di Detpack, perusahaan kemasan asal Australia. “Pada saat itu saya bilang saya sudah nyaman,” ucap Catur.

Namun, kedua temannya itu terus membujuk dan meyakinkannya untuk ikut mendirikan perusahaan patungan. Terus-terusan didekati, akhirnya hati Catur luluh juga.
Pada 2011, mereka resmi mendirikan perusahaan kemasan makanan bernama PT Paperocks.

“Dan kebetulan juga hampir semua customer saya, yang sudah jadi teman, juga mendukung,” tambah Catur. Saat pertama bergabung, Catur urunan modal sebesar Rp 200 juta. Duit itu dimanfaatkan buat membeli bahan baku.

Sementara, permesinan memanfaatkan mesin milik temannya yang sempat vakum lama karena krisis 1998. Sampai saat ini, Catur memiliki 30 persen saham perusahaan. Sedangkan sisanya dimiliki kedua temannya.

Selain dalam bentuk modal uang, yang banyak disumbang Catur ketika awal mendirikan perusahaan adalah jaringan pelanggan. Dillon sendiri sebenarnya pernah bekerja di Detpack sama seperti Catur.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Sumber
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.