Kompas.com - 26/05/2014, 20:47 WIB
Salah satu SPBU di Kendal kehabisan BBM. Kompas.com/ Slamet PriyatinSalah satu SPBU di Kendal kehabisan BBM.
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com
 — Pemerintah lebih memilih mengendalikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dengan mengurangi volume, bukan dengan menaikkan harga.

Hal ini berbeda dengan tahun lalu, ketika pemerintah mengendalikan anggaran subsidi BBM dengan menaikkan harga BBM bersubsidi.

“Tahun lalu, langkah kita adalah menaikkan harga BBM, jadi sedikit banyak itu kan terkompensasi. Sekarang kan dengan situasi politik begini tidak mudah menaikkan harga. Karena tidak mudah menaikkan harga, opsinya ada di volume. Namun, soal volume, itu kembali lagi ke (wewenang) Kementerian ESDM,” ujar Menteri Keuangan Chatib Basri, Senin (26/5/2014).

Sebagaimana diketahui, anggaran subsidi BBM, LPG, dan BBN naik dari Rp 210,7 triliun menjadi Rp 285 triliun dalam RAPBN Perubahan 2014. Sementara itu, subsidi listrik naik dari Rp 71,4 triliun menjadi Rp 107,1 triliun.

Chatib memaparkan, dengan naiknya volume subsidi BBM menjadi 48 juta kiloliter, dalam asumsi bahwa rupiah sama dengan tahun lalu, maka penambahan anggaran subsidi sebesar Rp 74 triliun.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X