Kemenhub: 46 Juta Kiloliter Cukup kalau yang Liar Diawasi

Kompas.com - 06/08/2014, 15:04 WIB
Sejumlah bus-bus kota yang hendak keluar dari Terminal Blok M, Jakarta Selatan, Jumat (12/7/2013). Meskipun secara resmi tarif baru angkutan umum baru ditetapkan, sejumlah warga mengungkapkan bahwa mereka telah membayar kenaikan tarif sejak beberapa minggu yang lalu, tepatnya tak lama saat harga BBM bersubsidi resmi dinaikan Alsadad RudiSejumlah bus-bus kota yang hendak keluar dari Terminal Blok M, Jakarta Selatan, Jumat (12/7/2013). Meskipun secara resmi tarif baru angkutan umum baru ditetapkan, sejumlah warga mengungkapkan bahwa mereka telah membayar kenaikan tarif sejak beberapa minggu yang lalu, tepatnya tak lama saat harga BBM bersubsidi resmi dinaikan
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com — Memasuki paruh kedua 2014, pemerintah memutuskan untuk melakukan pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi agar tidak melebihi kuota sebesar 46 juta kiloliter.

Enam bulan pertama 2014, volume konsumsi BBM subsidi sudah mencapai 22,9 juta kiloliter. Awal pekan ini Menteri Keuangan Chatib Basri menyatakan tidak ada cara lain selain membatasi karena jika kuota BBM jebol, DPR tidak mengizinkan penambahan volume.

Menanggapi hal itu, Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan, Suroyo Alimoeso, membenarkan perlu ada pembatasan. Namun, dia meminta konsumsi BBM bersubsidi untuk angkutan umum tidak dibatasi.

Suroyo mengatakan, pengawasan penyaluran perlu ditingkatkan. “Sekarang ini yang subsidi Rp 5.500 per liter, kalau industri Rp 11.500 per liter. Saya beli 3 jeriken saja, saya bawa ke industri sudah dapat duit, tidak perlu jalankan bus. Artinya pengawasan untuk itu perlu dilakukan,” kata dia kepada wartawan di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Rabu (6/8/2014).

“Artinya, untuk 46 juta kiloliter itu saya pikir sampai akhir tahun cukup kalau yang liar-liar itu diawasi,” imbuhnya.

Adapun pihak yang perlu mengawasi adalah semua pihak, termasuk masyarakat umum yang mengetahui ada pembelian BBM bersubsidi dalam jumlah besar. “Kalau tahu ada yang beli 5-6 jeriken jangan didiamkan saja, laporkan,” kata dia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X