Kalahkan Doktor Lulusan Oxford, Kakak Adik Ini Mendunia

Kompas.com - 14/12/2014, 09:09 WIB
Arfi’an Fuadi dan M. Arie Kurniawan KONTAN/DOK PRIBADIArfi’an Fuadi dan M. Arie Kurniawan
EditorErlangga Djumena

Sejauh ini, Dtech sudah melayani lebih dari 150 klien dari berbagai belahan dunia, seperti Amerika, Eropa, Singapura, Australia, dan Selandia Baru. Order yang diterima pun sangat beragam, mulai dari membuat gantungan kunci yang kecil sampai membuat sasis mobil dan ultralight aircraft.

Setiap bulan, Arfian biasanya mengerjakan 10 hingga 20 proyek. Namun, bila proyek yang dikerjakan berskala besar, mereka hanya menerima lima proyek. Tiap proyek desain dikerjakan dalam kurun waktu yang sangat beragam. "Ada proyek yang selesai dalam waktu beberapa jam, tetapi ada juga yang sampai setahun," ucap dia.

Kerja sama dengan klien tak hanya berdasarkan proyek. Arfian mengatakan, ada juga klien yang menerapkan sistem kontrak selama enam bulan. Tarif yang dipatok Arfian dan Arie saat ini sekitar Rp 175.000 atau sekitar 15 dollar AS–20 dollar AS per jam untuk tiap orang.

Tertipu klien
Bekerja sama dengan klien dari luar negeri disebut keduanya sebagai pengalaman menarik. Menurut pengamatan mereka, klien mancanegara lebih terbuka dan fleksibel.

Meski tak punya gelar akademik, klien tak pernah meremehkan karya mereka. "Klien tak mempermasalahkan ijazah, berbeda klien lokal yang masih memandang gelar," kata Arfian.

Namun, Arfian pernah punya pengalaman buruk soal klien. Lantaran komunikasi hanya lewat e-mail dan Skype, Dtech pernah ditipu klien dari Amerika. Pada 2012, mereka mendapat proyek untuk membuat pulpen berbahan aluminium. Mereka sudah mengerjakan 30 persen dari total 400 buah pulpen yang diminta. Namun, pesanan itu ternyata tidak dibayar.

Pengalaman pahit itu tak membuat mereka patah arang. Malahan, setelah kejadian itu, Arfian dan Arie semakin bersemangat mencari order baru. Tahun lalu, misalnya, Dtech dipercaya mengerjakan proyek serupa dengan tadi, yakni membuat pulpen eksklusif, dari bahan alumunium dan batok kelapa. Pulpen tersebut lantas terjual dengan harga 79 dollar AS–99 dollar AS per unit.

Dengan pencapaiannya ini, Arfian dan Arie tak pelit berbagi ilmu. Tahun ini, mereka mulai membuka kelas gratis untuk orang-orang yang punya minat serupa. "Kami sudah belajar banyak dari klien, jadi sekarang kami mau berbagi juga dengan anak muda lain yang tertarik bidang design engineering," kata Arfian.  

Selain itu, masih ada mimpi yang ingin diwujudkan oleh Arfian, yakni melanjutkan kuliah. Alih-alih mengambil jurusan teknik atau desain, Arfian justru lebih tertarik mempelajari bisnis. "Kalau bidang yang sekarang bisa saya pelajari dari buku, internet, atau teman-teman. Tetapi, saya mau mendalami bisnis untuk membesarkan Dtech," tutur dia.    

"Ngetop" seusai mengalahkan lulusan Oxford
Meski sudah menggeluti bisnis desain mekanik sejak 2009, baru tahun ini nama Arfian Fuadi dan M Arie Kurniawan dikenal banyak orang. Kakak beradik ini tenar setelah memenangkan kompetisi 3D Printing Challenge yang diadakan General Electric, beberapa bulan lalu.

Halaman:


Sumber
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X