Tertarik Tol Laut Jokowi, China Gagas Jalur Sutera

Kompas.com - 13/03/2015, 11:54 WIB
Posisi pelabuhan dalam skema tol laut terhadap catatan sejarah kejadian tsunami di Indonesia. Abdul MuhariPosisi pelabuhan dalam skema tol laut terhadap catatan sejarah kejadian tsunami di Indonesia.
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com -
Rencana pemerintah membangun proyek Tol Laut mendapatkan sambutan hangat dari beberapa negara, salah satunya adalah China. Negeri Tirai Bambu ini dikabarkan tertarik untuk menyatukan proyek ambisius milik Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan proyek Jalur Sutera atau Maritime Silk Road yang tengah digagas China.

Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas Dedy Priatna mengatakan, Presiden China Xi Jinping sudah merayu Presiden Jokowi untuk segera mewujudkan kedua proyek yang diperkirakan menelan dana investasi hampir Rp 700 triliun tersebut.

Pembahasan lebih lanjut mengenai penyatuan kedua proyek ini akan dibahas di bulan Maret ini. "Rencananya dalam kunjungan Presiden Jokowi ke China, Maret ini, salah satu yang dibahas adalah tentang proyek ini," kata Dedy, Rabu (11/3/2015).

Sebelumnya, Xi Jinping sudah sempat mengutarakan keinginannya untuk kembali membangun jalur sutera yang bersinggungan dengan Indonesia, Singapura dan Malaysia. Upaya ini dilakukan untuk memperkuat kerjasama maritim dengan negara di kawasan Asia Tenggara dan meningkatkan hubungan dagang yang sudah terjadi melalui ASEAN- China Free Trade Agreement.

Pengamat Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam menyebut, dua konsep yang ingin dikembangkan oleh kedua negara tersebut memang menjanjikan. Jika kedua proyek tersebut disatukan, memang bisa menghidupkan kembali jalur perdagangan yang pernah sukses di masa lalu.

"Kalau ini disatukan, Bitung dibangun, ekspor dari Sulawesi tidak perlu ke Priok lagi, bisa langsung ke China, dan lain sebagainya, ini menguntungkan, mengingat nilai perdagangan Indonesia besar dengan China," kata Latif.

Meskipun menguntungkan, pemerintah harus memanfaatkan ketertarikan China tersebut dengan meminta insentif. Salah satunya, meminta agar Negeri Panda ini memberikan pinjaman lunak guna membangun infrastruktur tol laut.

Upaya ini harus dilakukan karena biaya untuk membangun tol laut besar. "Mereka pasti ingin komprehensif, jika Maritime Silk Road terputus, keuntungan mereka tidak akan maksimal, ini harus dimanfaatkan," kata Latif.

Asal tahu saja, dalam roadmap tol laut yang dikembangkan Bappenas, ada 24 pelabuhan yang akan dibangun dan dikembangkan untuk menunjang program tersebut. (Agus Triyono)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X