Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Giliran Tiongkok yang Menghantui Ekonomi Indonesia

Kompas.com - 09/07/2015, 11:34 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com -
Ekonomi Indonesia kembali mendapat cobaan. Kali ini, datangnya dari Tionglok. Adalah, pasar saham China yang mengalami koreksi tajam belakangan ini.  Setelah menggelembung atau bubble, pasar saham China mulai  memecah dengan terjadinya koreksi yang cukup dalam. Kondisi ini diperburuk adanya eksposure pemerintah China pada surat utang Yunani yang gagal bayar (default).

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, ekonomi China sangat dekat dengan Indonesia. Risiko yang menimpa China lebih tinggi dampaknya dibanding krisis finansial di negeri para dewa, Yunani. Saat ini, kondisi yang terjadi di China efeknya bukan hanya akan menimpa pasar keuangan, namun juga perdagangan Indonesia.

Agus bilang, saat ini pasar saham China sedang terkoreksi. Dalam satu bulan terakhir, pasar saham Tiongkok terkoreksi hingga 30 persen. "Kita harus antisipasi karena China menjadi pusat bagi pertumbuhan regional dan dunia," ujarnya, Rabu (8/7/2015).

Jika koreksi pasar modal China terus terjadi dan cukup tajam, lanjut Agus, dampaknya berantai. Dampak yang langsung terasa adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Sebab itu, Agus mengingatkan, dalam kondisi seperti ini, Indonesia harus menjaga fundamental ekonomi. Inflasi yang terkendali dan defisit transaksi berjalan lebih sehat  ke arah 2,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) harus terus dipantau. "Daya tahan ekonomi Indonesia harus dijaga," kata Agus.

Ekspor bisa makin drop

Kekhawatiran Agus tak berlebihan. China adalah negara tujuan ekspor keempat Indonesia setelah AS, India, dan Jepang. Sebab itu, BI telah merevisi proyeksi penurunan pertumbuhan ekspor Indonesia tahun ini lebih dalam dari 11 persen menjadi 14 persen.

Berdasarkan data Badan Pusat Statitik (BPS), ekspor pada 2014 tercatat sebesar 176,29 miliar dollar AS atau menurun 3,43 persen dibanding periode yang sama 2013. Jadi, jika BI memperkirakan ekspor drop hingga 14 persen, berarti tahun ini kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Desember 2015 hanya 151,61 miliar dollar AS.

Salah satu penyebab kinerja ekspor yang lebih buruk ini diakibatkan perekonomian China melemah. BI memperkirakan ekonomi China hanya tumbuh 7,1 persen di 2015.

Sasmito Hadi Wibowo, Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS mengakui, tren pelambatan ekonomi China telah berdampak  terhadap ekspor Indonesia di tahun ini. Sasmito bilang, dengan gejolak ekonomi di China saat ini, ekspor Indonesia bisa semakin turun lebih dalam.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih berpendapat, nilai tukar rupiah masih rentan tekanan eksternal. Kondisi ekonomi Yunani dan China yang dikhawatirkan mengalami krisis, menjadi persoalan yang bakal menekan rupiah.

Namun, Ekonom Bank BCA David Sumual menilai, anjloknya indeks saham China tidak berdampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia. Alasannya, kondisi itu belum berdampak kepada sektor riil China. Jadi, dampaknya belum akan dialami Indonesia.

Lagi pula, pasar keuangan China belum terlalu terbuka. Selain itu, pasar bursa China tidak sebesar bursa AS.  Menurut David, jebloknya pasar saham China lebih disebabkan faktor bubble di sektor keuangan. Pemicunya, pemerintah China melakukan intervensi untuk menstabilkan harga saham. Sebab, indeks saham China selalu naik berlipat beberapa tahun terakhir.

Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia, Ndiame Diop juga bilang jatuhnya harga saham China belum berdampak terhadap ekonomi China.  Sebab, hingga kini sektor riil di negara tirai bambu tak terpengaruh.

Diop juga menilai jatuhnya saham di China belum mempengaruhi pertumbuhan ekonomi global,  meskipun  China merupakan mitra dagang terbesar Amerika Serikat (AS) dan Eropa. (Adinda Ade Mustami, Asep Munazat Zatnika, Margareta Engge Kharismawati) 
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Pendapatan Usaha Garuda Indonesia Tumbuh 18 Persen di Kuartal I-2024

Pendapatan Usaha Garuda Indonesia Tumbuh 18 Persen di Kuartal I-2024

Whats New
Kuartal I-2024, Emiten Sawit Sumber Tani Agung Resources Cetak Pertumbuhan Laba Bersih 43,8 Persen

Kuartal I-2024, Emiten Sawit Sumber Tani Agung Resources Cetak Pertumbuhan Laba Bersih 43,8 Persen

Whats New
Pendaftaran CASN 2024, Instansi Diminta Segera Isi Rincian Formasi ASN

Pendaftaran CASN 2024, Instansi Diminta Segera Isi Rincian Formasi ASN

Whats New
Masuk Musim Panen, Bulog Serap 30.000 Ton Gabah Per Hari

Masuk Musim Panen, Bulog Serap 30.000 Ton Gabah Per Hari

Whats New
Pekerja Mau Sejahtera dan Naik Gaji, Tingkatkan Dulu Kompetensi...

Pekerja Mau Sejahtera dan Naik Gaji, Tingkatkan Dulu Kompetensi...

Whats New
Hindari Denda, Importir Harus Lapor Impor Barang Kiriman Hasil Perdagangan dengan Benar

Hindari Denda, Importir Harus Lapor Impor Barang Kiriman Hasil Perdagangan dengan Benar

Whats New
Pendaftaran Seleksi CASN Dibuka Mei 2024, Menpan-RB Minta Kementerian dan Pemda Percepat Input Formasi Kebutuhan ASN

Pendaftaran Seleksi CASN Dibuka Mei 2024, Menpan-RB Minta Kementerian dan Pemda Percepat Input Formasi Kebutuhan ASN

Whats New
IHSG Turun 0,84 Persen di Awal Sesi, Rupiah Bangkit

IHSG Turun 0,84 Persen di Awal Sesi, Rupiah Bangkit

Whats New
Harga Emas Terbaru 2 Mei 2024 di Pegadaian

Harga Emas Terbaru 2 Mei 2024 di Pegadaian

Spend Smart
Harga Emas ANTAM: Detail Harga Terbaru Pada Kamis 2 Mei 2024

Harga Emas ANTAM: Detail Harga Terbaru Pada Kamis 2 Mei 2024

Spend Smart
Harga Bahan Pokok Kamis 2 Mei 2024, Harga Jagung Tk Peternak Naik

Harga Bahan Pokok Kamis 2 Mei 2024, Harga Jagung Tk Peternak Naik

Whats New
CIMB Niaga Cetak Laba Sebelum Pajak Rp 2,2 Triliun pada Kuartal I-2024

CIMB Niaga Cetak Laba Sebelum Pajak Rp 2,2 Triliun pada Kuartal I-2024

Whats New
Rincian Tarif Listrik per kWh Berlaku Mei 2024

Rincian Tarif Listrik per kWh Berlaku Mei 2024

Whats New
Inflasi AS Sulit Dijinakkan, The Fed Pertahankan Suku Bunga

Inflasi AS Sulit Dijinakkan, The Fed Pertahankan Suku Bunga

Whats New
The Fed Tahan Suku Bunga, Mayoritas Saham di Wall Street Melemah

The Fed Tahan Suku Bunga, Mayoritas Saham di Wall Street Melemah

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com