Skandal Bank Maluku, Kejahatan Kerah Putih di Tengah Kemiskinan

Kompas.com - 18/09/2015, 19:53 WIB
|
EditorJosephus Primus

AMBON, KOMPAS.com - Bank Maluku kini diterpa dua masalah besar, yakni praktik repurchase agreement (Repo) fiktif oleh PT Andalan Artha Advisindo (AAA) Sekuritas serta dugaan penggelembungan anggaran pembelian lokasi beserta gedung kantor cabang di Surabaya, Jawa Timur.

Transaksi repo mengakibatkan kerugian senilai Rp 238 miliar. Sedangkan, terjadi pembengkakan anggaran pembelian gedung dari Rp 45 miliar menjadi Rp 54 miliar.

Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku, Laksono Dwionggo di Ambon, awal September lalu, mengungkapkan, transaksi repo mulai tahun 2011. Bank Maluku menjadikan PT AAA Sekuritas sebagai perantara transaksi surat berharga dengan sejumlah bank lain di Indonesia.

Namun, pada Oktober 2014, OJK menemukan bahwa transaksi itu fiktif. Di PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), salah satu lembaga pasar modal Indonesia untuk penempatan surat berharga transaksi repo, tidak terdata surat berharga milik Bank Maluku yang diperantarai PT AAA Sekuritas.

Miris

Pertanyaannya, mengapa sejak pertama kali terjadi transaksi pada 2011, pihak Bank Maluku tidak melakukan pemeriksaan di KSEI?

Laksono mengatakan, pihak Bank Maluku tidak hati-hati dan terlalu percaya pada PT AAA Sekuritas. “Katanya bunga dari surat berharga itu dibayar dengan lancar sehingga tidak ada kecurigaan,” ucap Laksono.

Padahal, asas utama yang dianut dunia perbankan adalah kehati-hatian. Uang Rp 238 miliar pun raib. Sementara, untuk pembelian gedung di Surabaya, Ketua DPRD Provinsi Maluku Edwin Huwae menduga, manajemen Bank Maluku melanggar prosedur pembelian aset serta tidak mematuhi ketentuan dari Bank Indonesia (BI).

Pembelian pada November 2014 itu ternyata tidak menggunakan jasa lembaga penaksir harga bangunan. Penaksir baru dilibatkan setelah transaksi pembelian selasai, dan diketahui bahwa harga lokasi beserta gedung di Jalan Darmo itu hanya Rp 45 miliar.

Pihak Bank Maluku bahkan mengeluarkan dana Rp 2 miliar hanya untuk operasional berkaitan dengan proses pembelian itu. Kini, kantor itu belum bisa digunakan karena masih terkendala persoalan administrasi seperti hak guna bangunan (HGB).

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gandeng Prism Energy, PGN Subholding Gas Pertamina Masuki Pasar LNG Internasional

Gandeng Prism Energy, PGN Subholding Gas Pertamina Masuki Pasar LNG Internasional

Whats New
Mirza Adityaswara Mengundurkan Diri dari Komisaris Utama Mandiri Sekuritas

Mirza Adityaswara Mengundurkan Diri dari Komisaris Utama Mandiri Sekuritas

Whats New
2023 Bebas Tenaga Honorer, Tjahjo: Alternatifnya Ikut Tes CPNS dan PPPK

2023 Bebas Tenaga Honorer, Tjahjo: Alternatifnya Ikut Tes CPNS dan PPPK

Whats New
Jaga Stabilitas Rupiah, BI Percepat Normalisasi Kebijakan GWM Rupiah

Jaga Stabilitas Rupiah, BI Percepat Normalisasi Kebijakan GWM Rupiah

Whats New
IHSG Berakhir di Zona Hijau, Saham BBRI dan BBNI Laris Diborong Asing

IHSG Berakhir di Zona Hijau, Saham BBRI dan BBNI Laris Diborong Asing

Whats New
Awas, Modus Penipuan Tawarkan Upgrade Jadi Nasabah BCA Prioritas

Awas, Modus Penipuan Tawarkan Upgrade Jadi Nasabah BCA Prioritas

BrandzView
Ini Kendala-kendala UKM Saat Belanja Bahan Baku dari Luar Negeri

Ini Kendala-kendala UKM Saat Belanja Bahan Baku dari Luar Negeri

Whats New
Beberapa Upaya Ini Bisa Dorong Penerapan EBT untuk Mencapai Net Zero Emission

Beberapa Upaya Ini Bisa Dorong Penerapan EBT untuk Mencapai Net Zero Emission

Whats New
Penunjukan Luhut untuk Bantu Masalah Distribusi Minyak Goreng Dinilai Tak Tepat

Penunjukan Luhut untuk Bantu Masalah Distribusi Minyak Goreng Dinilai Tak Tepat

Whats New
Kini Bank Muamalat Punya Gerai Reksa Dana Syariah Online

Kini Bank Muamalat Punya Gerai Reksa Dana Syariah Online

Whats New
Gerakan Boikot Dunkin' Donuts Berlanjut, Tuntut 35 Karyawan Dipekerjakan Kembali

Gerakan Boikot Dunkin' Donuts Berlanjut, Tuntut 35 Karyawan Dipekerjakan Kembali

Whats New
PKT Tanam 1.500 Bibit Mangrove di Perairan Bontang

PKT Tanam 1.500 Bibit Mangrove di Perairan Bontang

Whats New
5 Faktor Penyebab Target Penjualan Gagal Tercapai

5 Faktor Penyebab Target Penjualan Gagal Tercapai

Smartpreneur
Inflasi RI Masih Terjaga, BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 3,5 Persen

Inflasi RI Masih Terjaga, BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 3,5 Persen

Whats New
Pengguna Livin' by Mandiri Ditargetkan Tembus 16 Juta pada Akhir 2022

Pengguna Livin' by Mandiri Ditargetkan Tembus 16 Juta pada Akhir 2022

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.