Bangun KA Cepat Jakarta-Surabaya jika Pendapatan Per Kapita 10.000 Dollar AS

Kompas.com - 07/01/2016, 11:43 WIB
Kereta cepat China SANDRO GATRA/KOMPAS.comKereta cepat China
EditorErlangga Djumena
JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Transportasi Kementerian PPN/Bappenas, Bambang Prihartono mengatakan, kereta cepat Jakarta-Surabaya baru akan dibangun, ketika pendapatan per kapita Indonesia mencapai 10.000 dollar Amerika Serikat. 

"Ada syarat pendapatan per kapita kita 10.000 dolar Amerika Serikat. Kita lihat nanti, jika kita punya uang, 50 persennya menggunakan kerja sama pemerintah-swasta, sisanya swasta," ujarnya di Jakarta, Rabu (6/1/2016).

Saat ini pendapatan per kapita Indonesia masih di kisaran 3.000 dollar Amerika Serikat. 

 
Kurun 2015-2019, Indonesia memerlukan dana Rp 6.541 triliun untuk membangun semua infrastruktur yang diperlukan. Dari jumlah itu, kesanggupan pendanaan dari APBN/APBD cuma Rp 1.555 triliun, BUMN Rp 312 triliun, dari luar APBN Rp 93 triliun, dan pinjaman-obligasi Rp 3.272 triliun.
 
Opsi pembiayaan tersebut bisa saja dipilih, asalkan kondisi fiskal negara memungkinkan.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas mengungkapkan, terdapat opsi separuh porsi pembiayaan proyek kereta cepat rute Jakarta-Surabaya menggunakan skema kerja sama pemerintah-swasta.


Proyek kereta cepat Jakarta-Suarabaya merupakan proyek jangka panjang pemerintah untuk moda transportasi mutakhir, dimana bagian pertamanya rute Jakarta-Bandung, yang dikerjakan secara antarbisnis (business to business) dengan perusahaan China.

Pemerintah menilai rute kereta cepat dari Jakarta didesain melewati Bandung, karena trayek itu memiliki sisi ekonomis tinggi, sehingga memungkinkan partisipasi swasta. Dengan jarak sekitar 180 kilometer, kecepatan maksimal kereta api cepat dinilai banyak kalangan tidak tercapai.

Dalam rencana Bappenas, selanjutnya, setelah melewati Bandung, kereta api cepat itu melaju melalui Cirebon, termasuk menjadi sarana transportasi untuk Bandara Internasional Kertajati, Majalengka, Jawa Barat. Setelah dari Cirebon, kereta cepat itu akan melewati jalur trayek pantai utara menuju Surabaya.

"Kami membahasakan itu bertahap, secara makro adalah Jakarta-Surabaya, namun bagian pendeknya adalah Jakarta-Bandung," ujar dia.


Jika rute Jakarta-Bandung bekerja sama dengan China maka untuk Jakarta-Surabaya juga diwacanakan. 
 
Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya, Rizal Ramil, membahas itu bersama kalangan akademisi dari sejumlah perguruan tinggi negeri, serta perwakilan Japan Internasional Corporation Agency (JICA). 

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

JICA merupakan investor yang pernah melakukan studi kelayakan tahap pertama kereta cepat Jakarta-Bandung, dengan biaya investasi 6,2 miliar dolar Amerika Serikat. 

 
Namun, JICA meminta pembangunan rute tersebut melalui kerja sama antarpemerintah. Pemerintah menolak dan akhirnya memutuskan menyerahkan kereta cepat Jakarta-Bandung kepada swasta, yang akhirnya dikerjakan konsorsium BUMN Indonesia dengan China. 



Sumber Antara
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lelang Aset Asabri dan Jiwasraya, DJKN: Target Dapat Hasil Setinggi-tingginya

Lelang Aset Asabri dan Jiwasraya, DJKN: Target Dapat Hasil Setinggi-tingginya

Whats New
Kemenhub Mediasi Penyelesaian Santunan Pelaut RI yang Meninggal di Singapura

Kemenhub Mediasi Penyelesaian Santunan Pelaut RI yang Meninggal di Singapura

Whats New
Kapan Moge dan Brompton Selundupan Mantan Dirut Garuda Dilelang? Ini Kata DJKN

Kapan Moge dan Brompton Selundupan Mantan Dirut Garuda Dilelang? Ini Kata DJKN

Whats New
[TREN TEKNOLOGI KOMPASIANA] Perawatan Spooring dan Balancing | Masyarakat Jepang Ogah Gunakan Kendaraan Pribadi

[TREN TEKNOLOGI KOMPASIANA] Perawatan Spooring dan Balancing | Masyarakat Jepang Ogah Gunakan Kendaraan Pribadi

Rilis
IHSG Anjlok 1 Persen di Akhir Pekan, Rupiah Ikut Melemah

IHSG Anjlok 1 Persen di Akhir Pekan, Rupiah Ikut Melemah

Whats New
Saham Unilever Indonesia Anjlok 30,95 Persen sejak Awal Tahun, Ini Pemicunya

Saham Unilever Indonesia Anjlok 30,95 Persen sejak Awal Tahun, Ini Pemicunya

Whats New
Banyak Penipuan Lelang, Ini Ciri-cirinya

Banyak Penipuan Lelang, Ini Ciri-cirinya

Whats New
Mau Jadi Pemenang Lelang di Lelang.go.id? Ini Tips Kemenkeu

Mau Jadi Pemenang Lelang di Lelang.go.id? Ini Tips Kemenkeu

Spend Smart
Minat Work From Bali? Ini 4 Hal yang Perlu Dipersiapkan

Minat Work From Bali? Ini 4 Hal yang Perlu Dipersiapkan

Whats New
Buktikan Kepedulian akan Pasien Covid-19, “Pengusaha Peduli NKRI” Gelar Donor Plasma Konvalesen

Buktikan Kepedulian akan Pasien Covid-19, “Pengusaha Peduli NKRI” Gelar Donor Plasma Konvalesen

Rilis
Pelindo II Tindak Tegas 12 Pelaku Pungli di Pelabuhan Tanjung Priok

Pelindo II Tindak Tegas 12 Pelaku Pungli di Pelabuhan Tanjung Priok

Whats New
Masih Terbebani The Fed, Harga Bitcoin Lanjutkan Penurunan

Masih Terbebani The Fed, Harga Bitcoin Lanjutkan Penurunan

Whats New
[TREN EDUKASI KOMPASIANA] Tabel Periodik dengan Jembatan Keledai | Vibranium pada Tabel Periodik

[TREN EDUKASI KOMPASIANA] Tabel Periodik dengan Jembatan Keledai | Vibranium pada Tabel Periodik

Rilis
Cerita Kara Nugroho, Bangun Bisnis PVRA hingga Ikut London Fashion Scout

Cerita Kara Nugroho, Bangun Bisnis PVRA hingga Ikut London Fashion Scout

Smartpreneur
Mengenal Perbedaan dari Pasar Monopoli dengan Oligopoli

Mengenal Perbedaan dari Pasar Monopoli dengan Oligopoli

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X