Kompas.com - 17/10/2016, 12:00 WIB
|
EditorAprillia Ika

LONDON, KOMPAS.com - Pemerintahan Presiden Rusia Vladimir Putin baru saja merancang anggaran untuk tiga tahun ke depan berdasarkan asumsi bahwa Rusia dapat tetap menjual minyak produksinya dengan harga 40 dollar AS per barrel.

Harga itu 10 dollar AS lebih murah ketimbang harga minyak dunia saat ini. Rusia adalah pengekspor minyak terbesar kedua setelah Arab Saudi.

Negara itu telah melakukan pembicaraan dengan Arab Saudi dan anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) lainnya tentang pemangkasan produksi guna mendongkrak harga.

Anggaran yang disusun pemerintahan Putin mengindikasikan bahwa ia ingin mempersiapkan diri pemangkasan produksi minyak seperti yang disepakati OPEC dalam pertemuan bulan lalu tidak terimplementasi atau terbukti tidak efektif.

Barangkali, penyusunan anggaran ini juga belajar dari kenyataan pahit bahwa tahun lalu pemerintah Rusia menyusun anggaran dengan asumsi harga minyak 100 dollar AS per barrel.

Anjloknya harga minyak memaksa Rusia memangkas belanja. Ini mengganggu rakyat Rusia yang sudah bertahan di tengah kenaikan harga barang dan jatuhnya upah, membuat sebagian warga turun ke jalan untuk unjuk rasa.

Mengutip CNN Money, Senin (17/10/2016), awalnya Rusia menyusun anggaran dengan asumsi harga minyak 50 dollar AS per barrel.

Akan tetapi, pada awal bulan Oktober 2016 ini pemerintah Rusia membuat anggaran perubahan guna mengakomodasi belanja pertahanan yang lebih tinggi dan bonus bagi pensiunan yang akan dibayarkan pada bulan Januari 2017.

Dengan demikian, defisit anggaran akhirnya melebar menjadi 3,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), di atas batas atas resmi, yakni 3 persen dari PDB. Pemerintah pun mengekspektasikan defisit anggaran turun menjadi sedikit di atas 3 persen dari PDB di tahun 2017 mendatang.

Pekan lalu, Perdana Menteri Dmitry Medvedev menyatakan Rusia tidak bisa terus terlilit utang. Medvedev pun memerintahkan untuk melakukan pemangkasan anggaran lebih besar lantaran ingin defisit anggaran mencapai kurang dari 1,2 persen dari PDB pada tahun 2019.

Rusia sangat membutuhkan keuangan yang tertata lantaran cadangan devisanya tergerus dengan cepat. Namun, banyak ahli merasa skeptis akan keberhasilan Rusia dalam membenahi anggaran.

"Ketidakmampuan Rusia untuk tetap bertahan pada rancangan fiskal bahkan hanya dalam beberapa bulan akan mengganggu target belanja dan defisit untuk tahun 2017," ujar analis dari Eurasia Group.

Rusia mencoba untuk menurunkan ketergantungan pada migas. Saat ini sektor energi menyumbang 37 persen dari total penerimaan negara, turun dibandingkan 50 persen pada dua tahun silam. 

Kompas TV Negara OPEC Sepakat Pangkas Produksi Minyak
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.