BPJS Kesehatan: Pendapatan Iuran Per Bulan Tak Sebanding dengan Pembayaran Klaim

Kompas.com - 17/04/2019, 05:32 WIB
Deputi Direksi Bidang Treasuri dan Investasi BPJS Kesehatan Fadlul Imansyah bersama Kepala Humas BPJS Keaehatan M. Iqbal di Jakarta, Selasa (16/4/2019).KOMPAS.com/AKHDI MARTIN PRATAMA Deputi Direksi Bidang Treasuri dan Investasi BPJS Kesehatan Fadlul Imansyah bersama Kepala Humas BPJS Keaehatan M. Iqbal di Jakarta, Selasa (16/4/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mengakui pihaknya masih mengalami defisit. Sebab, penerimaan total dana iuran dalam satu bulan tak sebanding dengan pembayaran klaim kepada fasilitas kesehatan yang jadi mitra BPJS Kesehatan.

Deputi Direksi Bidang Treasury dan Investasi BPJS Kesehatan Fadlul Imansyah mengatakan, tiap bulannya rata-rata pihaknya mendapatkan pemasukan dari iuran sebesar Rp 6,5 triliun hingga Rp 7 triliun. Dari jumlah itu BPJS Kesehatan harus membayarkan klaim sebesar Rp 8 triliun.

“Jadi silakan dihitung sendiri saja kira-kira berapa kebutuhannya,” ujar Fadlul di Jakarta, Selasa (16/4/2019).

Menurut Fadlul, Rp 8 triliun yang dibayarkan tiap bulannya sudah termasuk biaya denda ganti rugi keterlambatan sebesar 1 persen tiap bulannya.

“Iya kita didalam setiap pembayaran kepala cabang hitung ganti rugi yang diwajibkan ke kita. Itu termasuk ke dalamnya denda karena dibayar tiap bulannya,” kata Fadlul.

Sebelumnya, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan membayar utang jatuh tempo per April 2019 sebesar Rp 11 triliun kepada fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKTRL).

Deputi Direksi Bidang Treasuri dan Investasi Fadlul Imansyah mengatakan, selain itu BPJS Kesehatan juga melakukan pembayaran sebesar Rp 1,1 triliun dalam bentuk dana kapitasi kepada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X