H-6 Lebaran, Kemenhub Sebut Ada Penurunan Penumpang Pesawat Domestik

Kompas.com - 31/05/2019, 16:01 WIB
Suasana lobi Bandara Halim Perdanakusuma pada H-5 Lebaran, Jumat (31/5/2019). KOMPAS.com/Ardito Ramadhan DSuasana lobi Bandara Halim Perdanakusuma pada H-5 Lebaran, Jumat (31/5/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melaporkan penurunan jumlah penumpang moda transportasi udara rute domestik pada H-6 Lebaran sebesar 16,26 persen jika dibandingkan periode tahun lalu.

Pada 2019, jumlah penumpang pesawat tercatat sebesar 301.317 jiwa, sementara pada 2018 tercatat mencapai 359.844 penumpang. Tren penurunan juga terjadi untuk jumlah penerbangan pesawat.

Ketua Harian Posko Mudik Nasional Kemenhub Arif Toha Tjahjagama mengatakan, data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menunjukkan jumlah pesawat tahun ini untuk H-6 sebanyak 2.227 penerbangan. Lebih sedikit dari tahun lalu yang mencapai 2.608 penerbangan.

"Artinya, terjadi penurunan sebesar 14,6 persen ketimbang 2018," tutur Arief saat ditemui di Jakarta, Jumat (31/5/2019).

Baca juga: Penumpang Pesawat Turun 47 Persen hingga H-6, Efek Harga Tiket Mahal?

Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan yang terjadi pada H-7 Lebaran, Rabu (29/5/2019).

Sebagai informasi, jumlah keberangkatan penumpang pesawat rute domestik pada H-7 Lebaran tahun ini merosot 21,10 persen ketimbang tahun lalu.

Penumpang penerbangan domestik untuk keberangkatan pada H-7 Lebaran 2019 berjumlah 228.422 jiwa, tahun lalu mencapai 289.522 jiwa.

Sedangkan untuk jumlah pesawat yang beroperasi di rute domestik, Kementerian Perhubungan mencatat hanya ada 1.870 penerbangan pada 2019, turun 17,77 persen dari tahun lalu yang mencapai 2.274 penerbangan.

Baca juga: Kemenhub Sebut Tiket Pesawat Mudik Lebih Murah dari Tahun Lalu

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sebelumnya sempat menjelaskan tahun ini volume penumpang jalur udara tidak akan mengalami kenaikan.

"Relatif sama tidak ada kenaikan. Asumsi saya selama Lebaran akan sama. (Di Bandara) Bali naik, Yogya turun. (Jumlah penumpang) udara harapannya paling enggak sama," jelasnya.

Selain harga tiket mahal, faktor lain dinilai ikut berpengaruh ialah ketersediaan modal transportasi darat maupun laut yang sudah memadai dan baik.

Baca juga: Soal Tiket Pesawat Rp 21 Juta, Ini Kata Traveloka

Kini, bagi masyarakat kereta api tidak lagi pilihan utama karena sudah ada bus yang beroperasi lewat ruas Tol Trans Jawa. Sehingga terjadi pengalihan atau pergeseran (shifting).

"Jalur darat menyerap traffic memungkinkan masuk ke sana," ujar dia.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X