Cerita Penjual Online dari Lereng Gunung, Berjalan Berkilo-kilometer Cari Sinyal hingga Cibiran Pengangguran

Kompas.com - 30/08/2020, 11:11 WIB
Manis (25) pemilik kopi  Pustaka Kopi Masboy DOKUMENTASI PRIBADI MANISManis (25) pemilik kopi Pustaka Kopi Masboy

KOMPAS.com - Merintis usaha bukanlah hal yang mudah untuk dijalankan, namun dengan memiliki semangat dan tekat yang kuat bisa menjadi kunci utama ketika menjalankan bisnis.

Hal ini jugalah yang dirasakan oleh Manis yang merupakan pengusaha rintisan kopi yang diberi nama Pustaka Kopi Masboy.

Hidup di pelosok desa dan sulitnya mendapatkan sinyal, tidak membuat pemuda berusia 25 tahun ini patah semangat menjalankan usaha rintisannya itu.

Kepada Kompas.com ia menceritakan asal-muasal tercetusnya ide untuk membuka usaha kopinya tersebut. 

Baca juga: Omzet Penjualan Turun di Tengah Tahun? Simak 6 Strategi Jitu Ini

Wabah Covid-19 yang menghantam seluruh wilayah di Indonesia termasuk di Balikpapan, tempatnya bekerja, memaksa dia pulang ke kampung halamannya di Probolinggo tepatnya di lereng Gunung Argopuro, Jawa Timur.

"Karena ada pendemi saya harus pulang dan mengamankan diri di kampung saya. Eh pas di kampung, saya bingung, enggak ada pendapatan karena enggak kerja, sementara kalau mau pergi lagi ke Balikpapan, masih takut karena pandemi masih ada," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (29/8/2020).

Di Balikpapan, Manis awalnya bekerja sebagai penjual kosmetik, lalu ia banting stir membuka usaha kopi lantaran jumlah pemasukan dari bisnis kosmetiknya menipis dan tidak adanya perkembangan.

Bisnis kopi yang ia jalani dulu diberi nama Kopi Masboy, ia menjual berbagai macam jenis kopi dengan target pasar adalah para pengusaha cafe kopi yang tidak memiliki alat untuk menghancurkan kopi alias mesin roasting.

Namun karena adanya Covid-19 yang membuat sejumlah cafe-cafe ditutup di wilayah Balikpapan, membuat omzetnya drastis menurun. Cashflow-nya pun ikut terganggu dan mengharuskan dia harus menutup bisnis kopinya.

"Di Balikpapan saya cukup lama, bisnis kosmetik dulu saya jalani baru buka bisnis kopi. Kopi saya dulu udah lumayan cukup terkenal, banyak yang beli. Tapi karena cafe-cafe di sana pada tutup sejak PSBB, omzet saya tumbang, makanya saya paksa tutup dan saya pulang ke kampung saya,"katanya.

Pada saat itu Manis hampir tidak memiliki uang sama sekali, untungnya dia masih memiliki sedikit uang yang cukup untuk membeli tiket pulang ke kampungnya. Alhasil dia memutuskan untuk balik ke kampungnya dan mencoba untuk mengubah nasibnya.

Sesampainya di kampung pun, dia harus memutar otak. Sebab sudah lebih beberapa minggu ia tidak bekerja dan membuat dia tidak memiliki pemasukan sama sekali.

Baca juga: Bermodal Rp 300.000 Pebisnis Strawberry Beku Raup Omzet Rp 2 Juta Per Hari

Lalu dia mencoba berpikir untuk memanfaatkan kopi dari para petani tempat ia tinggal. Dia berencana untuk membuka kembali bisnis kopinya dengan konsep yang berbeda dan tentunya dengan nama yang juga berbeda.

Lalu di pertengahan bulan April, dia memantapkan diri untuk berani kembali membuka usaha kopi dengan konsep yang baru dan nama yang tentunya juga baru, Pusataka Kopi Masboy.

"Saya bingung karena enggak ada pemasukan dan enggak ada pekerjaan. Lalu saya berpikir bagaimana jika saya membuka kembali bisnis kopi dengan konsep yang beda yang enggak kayak dulu, gimana caranya bisa memanfaatkan petani kopi di daerah sini, yah akhirnya saya nekatkan lagi buat buka bisnis kopi," ungkapnya.

Produk-produk yang dijual Manis, awalnya hanya diambil dari orang tuanya yang juga merupakan petani kopi.  Seiring dengan waktu, dia pun mengambil pasokakan kopi dari petani lain yang berada di wilayahnya.

Karena tak ada modal, dia pun terpaksa mengambil pinjaman melalui kartu kredit untuk memulai usahanya.

"Bahkan sampai sekarang biaya untuk beli alatnya masih belum lunas, karena saya pakai kredit kemarin," ucapnya sambil tertawa.

Memilih untuk berjualan di marketplace pun bukan tanpa alasan dia lakukan. Tetapi, supaya tidak mengeluarkan budget yang lebih banyak untuk menyewa atau membuka sebuah toko, menjadi alasan utama dia berjualan secara online.

"Saya memilih jualan di marketplace karena jualan di offline itu sudah tidak memungkinkan dan enaknya lagi itu tidak perlu mengeluarkan uang untuk menyewa, tidak bayar iuran yang macam-macam," jelasnya.

Berjualan secara online pun juga tidak gampang, kata dia. Apalagi karena ia tinggal di daerah lereng gunung membuat dia kesulitan untuk mendistribusikan barangnya ke pelanggannya.

Belum lagi masalah sulitnya mengakses internet lantaran di kampungnya berada di lereng Gunung dan belum memiliki fasilitas yang mumpuni.

Tak jarang Manis harus berjalan berkilo-kilo meter agar bisa bertemu dengan kurir dan mengirimkan produknya ke para pelanggannya.

Baca juga: Dari Usaha Beresin Kamar Kos, 2 Alumni UGM Ini Raup Omzet Rp 24 Juta

Ketika hujan turun, Manis harus lebih ekstra berhati-hati, sebab jalan yang ia tempuh pun cukup terjal.

"Jadi aku harus jalan kaki berkilo-kilometer biar bisa ketemu sama kurir. Pernah suatu kali saya bawa 10 kilogram paket karena enggak ada motor dan ini paket pesanan dari Tokopedia dikirim ke Cirebon," katanya.

Karena di daerah tempat ia tinggal sulit mendapatkan sinyal, sementara ia harus berjualan online, membuat dia jarang sekali berada di rumah. Dia pun sering tidur di gardu, di tempat yang ada sinyal agar bisa memantau bisnis onlinenya.

"Kadang sampai tidur di gardu atau kalau enggak di hammock. Kayak orang camping lah, harus bawa kompor portabel dan mi instan," ungkapnya.

Perjuangannya pun perlahan berbuah manis. Kini produk kopi yang dipasarkan oleh Manis bisa dinikmati oleh masyarakat luas bahkan hingga ke Kalimantan. Memang untuk omzetnya sendiri, Manis mengaku masih tergolong kecil untuk dia kelola dan walau begitu Manis tetap optimistis untuk mengembangkan usaha kopinya .

"Masih kecil sih, sebulan itu masih sekitar Rp 1.500.000-an. Saya jalani dulu saja, sambil inovasi dan tingkatkan kualitas, siapa tahu ke depannya bisa lebih baik," harapnya.

Untuk harga kopinya, Manis membanderol dengan harga yang berbeda-beda setiap jenisnya. Misalnya saja untuk produk Green Bean Arabika Natural dibanderol dengan harga Rp 90.000 per kilogram, Arabika Full Wash dibanderol dengan harga Rp 80.000 per kilogram, Arabika Wine dibanderol dengan harga Rp 145.000 per kilogram dan masih banyak lainnya.

Tak jarang juga dia mendapatkan banyak cibiran dari tetangganya karena berjualan online yang terlihat seperti pengangguran.

"Walaupun banyak yang mencibir karena berjualan online terlihat seperti pengangguran (hanya mengoperasikan gawai). Saya akan terus melakukan sosialisasi pemanfaatan platform digital seperti Tokopedia dalam berbisnis demi kemajuan desa," pungkasnya.

Baca juga: Cerita Perajin Tas Kulit, Omzet Anjlok 50 Persen akibat Virus Corona



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X