Bagaimana Proyeksi IHSG di Awal Pekan? Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Kompas.com - 01/03/2021, 08:10 WIB
Suasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSuasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan bergerak melemah pada Senin (1/3/2021). Sebelumnya IHSG ditutup negatif dengan penurunan 0,76 persen pada level 6.241,79.

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, sentimen utama yang mendorong pelemahan IHSG adalah naiknya yield obligasi pemerintah AS jangka panjang. Untuk tenor 10 tahun yield sempat naik melewati level 1,6 persen, atau merupakan yield tertinggi dalam lebih dari 1 tahun terakhir.

“Melihat masih naiknya trend Yield government bond AS dan terkoreksi sebagian pasar saham global membuat kami perkirakan IHSG masih berpotensi terkoreksi,” kata Hans dalam rekomendasinya, dikutip Senin (1/3/2021).

Baca juga: Akhir Pekan, IHSG Bergerak ke Zona Merah

Kenaikan yield tenor 10 tahun memberikan tekanan pada ekonomi karena digunakan menjadi patokan untuk suku bunga hipotek dan pinjaman mobil.

Kenaikan yield ini juga menempatkan imbal hasil acuan US Treasury berada di atas dividen yield saham-saham di dalam indeks S&P 500. Ini berakibat ekuitas yang dianggap sebagai aset berisiko telah kehilangan premi atas obligasi dan dianggap lebih mahal.

Menurut Hans, kenaikan yield memicu aksi jual invsetor terhadap saham-saham khususnya sektor teknologi yang lebih diuntungkan dengan kondisi suku bunga rendah.

Sektor teknologi selama ini mengandalkan pinjaman murah untuk mendorong pertumbuhan. Sedangkan sektor yang diuntungkan karena pembukaan Kembali ekonomi mengalami kenaikan, yakni sektor energi, industry serta keuangan.

Meskipun pada akhir pekan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mulai turun, posisi yield tersebut masih tetap berada di atas level 1,5 persen. Lonjakan yield tersebut didorong ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan inflasi naik akibat sentimen program vaksinasi virus covid. Selain itu potensi pengesahan stimulus stimulus fiskal jumbo AS berpotensi mendorong pemulihan ekonomi.

“Stimulus besar juga meningkatkan defisit anggaran yang akhirnya mendorong penerbitan surat hutang baru dengan yield yang lebih tinggi. Bila yield government bond AS masih terus naik, kemungkinan besar pasar saham dunia masih akan terus terkoreksi,” jelas Hans.

Berdasarkan analisis teknikal, IHSG membentuk membentuk candle dengan body tipis dan shadow di atas dan bawah indikasi konsolidasi tertekan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X