Salin Artikel

IHSG Jeblok, Saatnya Investor Balik ke Pasar Modal

JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot sejak 3 pekan belakangan.

Pada sesi pertama perdagangan hari ini, Kamis (12/3/2020), IHSG sempat menyentuh titik terendah di level 4.929,56.

Adapun pada penutupan perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup turun 2,94 persen atau 151,54 poin pada level 5.002,55.

Bahkan, pada pukul 15.33 WIB, IHSG terpantau turun sebesar 5,01 persen ke level 4.895,75 yang menyebabkan perdagangan saham dihentikan selama 30 menit.

Pengamat pasar modal Teguh Hidayat mengatakan, turunnya IHSG sekitar 20 persen dari level tertinggi memang disebabkan karena sentimen dari virus corona dan jatuhnya harga minyak.

Namun, merosotnya IHSG merupakan kondisi terburuk yang sudah diperkirakan sebelumnya.

Jauh sebelum fenomena corona dan jatuhnya harga minyak, bursa saham telah terhantam isu Jiwasraya dan reksa dana bermasalah sejak November 2019.

"Itu membuat pasar sepi enggak ada volume. Kalau pasar sepi itu gampang turunnya. Sebetulnya secara fundamental, secara valuasi saham kita enggak masalah. Cuma masalahnya itu tadi, ada rekening yang diblokir, segala macam," kata Teguh kepada Kompas.com, Kamis (12/3/2020).

Selain itu dia menyebut, sejak 5 tahun belakangan, saham-saham di bursa Amerika Serikat juga mengalami kenaikan yang signifikan sehingga bervaluasi sangat tinggi, sehingga penurunan hanya soal waktu, hanya menunggu pemicunya.


"Contohnya saham Apple Inc, pada tahun 2017 valuasinya dari sisi PEER itu 13 kali. Tapi terakhir dia sudah tembus 20 kali. Ya ibaratnya ada mobil yang harganya Rp 200 juta sekarang disuruh beli pada harga Rp 500 juta. Nah contoh Apple itu terjadi pada semua bursa saham di AS sana, jadi cepat atau lambat dia akan turun, tinggal tunggu pemicu," jelasnya.

Adapun di momen seperti ini, Teguh menyarankan para investor untuk kembali lagi masuk ke pasar modal secara perlahan-lahan.

Dia menyebut, investor bisa menjadikan fenomena ini menjadi investasi jangka panjang.

"Kalau ditanya apa saran saya, ya sudah kita cicil masuk saja. Jangan sekaligus. Enggak perlu kita masuk instrumen yang aneh-aneh karena terakhir kali seburuk ini tahun 2008. Jadi ini kesempatan kita investasi jangka panjang sebenarnya," jelasnya.

Apalagi, kata Teguh, ekonomi di dalam negeri tidak ada masalah. Meski ada fenomena corona, masyarakat masih bisa berbelanja.

Investor pun masih memiliki uang tunai meski saham dan reksa dana turun dalam. Fenomena ini tentu berbeda dengan krisis tahun 2008 dan 1998, yang saat itu terjadi krisis uang.

"Zaman itu, orang enggak bisa beli saham karena enggak punya duit. Sekarang (di fenomena corona) orang punya duit. Ketika pasar turun, mereka siap-siap belanja lagi. Krisis ini tidak sama seperti tahun 2008. Sekarang di luar sana masih banyak uang yang siap masuk ke pasar modal," ucapnya.

Sementara itu, saham-saham yang direkomendasikan adalah saham-saham yang berkinerja baik, seperti saham bluechip.

"Saya masih percaya sama saham-saham yang bluechip, yang secara kinerja enggak ada masalah kayak Telkom, Sampoerna dan Unilever. Karena tahun ini kinerja emiten bagus," pungkasnya.

https://money.kompas.com/read/2020/03/12/174200426/ihsg-jeblok-saatnya-investor-balik-ke-pasar-modal

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.