Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Sama-sama Beri Utang ke Negara, Apa Beda IMF dan Bank Dunia?

KOMPAS.com - Siapa tak kenal dengan International Monetery Fund (IMF) dan Bank Dunia atau World Bank. Kedua lembaga keuangan global ini dikenal sebagai pemberi utang, terutama pada negara-negara berkembang dan miskin.

Persamaan keduanya, baik IMF dan Bank Dunia, merupakan hasil dari Konferensi Internasional yang di adakan di Bretton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat, pada Juli 1944.

Dewan Gubernur Bank Dunia dan IMF menyelenggarakan pertemuan tahunan untuk membahas berbagai masalah yang mendukung negara-negara anggota. Sisi pleno dewan gubernur kedua organisasi diadakan selama pertemuan tahunan ini.

Pertemuan ini biasanya diadakan selama dua tahun berturut-turut di markas IMF dan Bank Dunia di Washington DC. Pada tahun ketiga, pertemuan diadakan di negara anggota lain.

Indonesia sendiri pernah kebagian menjadi tuan rumah pertemuan IMF-Bank Dunia pada Oktober 2018 yang digelar di Nusa Dua, Bali.

Lalu sebenarnya perbedaan IMF dan Bank Dunia?

Bank Dunia

Bank Dunia didirikan pada tahun 1944 dengan nama Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (IBRD). Mulanya, Bank Dunia dibentuk dengan tujuan untuk memberi bantuan berupa pendanaan kepada negara-negara yang mengalami kerugian akibat Perang Dunia II.

Sejarah Bank Dunia bermula dari Konferensi Bretton Woods yang diikuti oleh delegasi dari 44 negara. Dari hasil konferensi tersebut, selain terbentuk IBRD juga terbentuk Dana Moneter Internasional atau IMF.

Negara pertama yang mendapatkan pinjaman dari Bank Dunia adalah Prancis dan kemudian diikuti oleh negara Eropa lainnya.

Dari rekonstruksi dan pembangunan kembali negara-negara terdampak Perang Dunia II, tujuan Bank Dunia pun bergeser seiring dengan berjalannya waktu. Tujuan pendanaan Bank Dunia saat ini lebih mengarah kepada proyek-proyek infrastruktur seperti irigasi, infrastruktur jalan, hingga kelistrikan.

Adapun negara non Eropa pertama yang mendapatkan bantuan dari Bank Dunia yakni Chile pada tahun 1948. Kala itu, Chile mendapatkan bantuan untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga air. Bantuan yang diterima oleh Chile adalah sebesar 13,5 miliar dollar AS.

Sebagai lembaga internasional, tujuan Bank Dunia yakni untuk menyediakan pendanaan, nasihat, dan penelitian yang membantu negara berkembang mempercepat pembangunan dan melawan kemiskinan.

Untuk mengeksekusi misi tersebut, maka dibentuklah lima lembaga yang berada di bawah bank dunia. Lembaga-lembaga di bawah Bank Dunia tersebut antara lain Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (IBRD) dan Asosiasi Pembangunan Internasional (IDA).

Berikutnya adalah International Finance Corporation (IFC), Badan Penjamin Investasi Multilateral (MIGA), dan International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID).

Terdapat beberapa kelompok yang mengiritisi Bank Dunia. Kelompok-kelompok yang merupakan oposisi dari Bank Dunia percatat, struktur fundamental lembaga tersebut hanya memperburuk kesenjangan antara negara kaya dan negara miskin.

Sistem yang saat ini berlaku di Bank Dunia memungkinan pemegang saham terbesar untuk mendominasi suara, sehingga setiap kebijakan lembaga tersebut diputuskan oleh negara-negara kaya, namun diterapkan di negara miskin.

Hal itu dinilai bisa mengakibatkan kebijakan yang tak sesuai dengan kepentingan dari negara berkembang itu sendiri.

Negara berkembang sebagai penerima bantuan kerap kali harus menyesuaikan kebijakan politik, sosial, dan ekonominya sesuai dengan resolusi Bank Dunia.

IMF

IMF sendiri merupakan organisasi pendonor utang yang relatif unik dari sisi kepemilikan maupun struktur organisasinya. Ini karena IMF bukan bank.

Dana yang dipakai IMF untuk memberikan utang ke beberapa negara berkembang, sejatinya berasal dari iuran yang didominasi dari negara-negara maju.

Uang dari dana iuran ini kemudian diputar oleh IMF, termasuk bunga yang didapatkan. Selain negara-negara maju, banyak negara berkembang juga memiliki "saham" di IMF.

Keanggotaan IMF bisa dikatakan memiliki beberapa kemiripan dengan koperasi simpan pinjam. Sebagai anggota IMF, Indonesia harus menyetorkan sejumlah dana keikutsertaan yang bisa diambil dari APBN maupun Bank Indonesia.

Dari dana yang dititipkan di IMF tersebut, Indonesia juga bisa mendapatkan pendapatan berupa bunga. Sebaliknya, dengan keikutsertaannya di IMF, Indonesia tentunya juga bisa mengajukan pinjaman di kemudian hari saat membutuhkan dana.

Dikutip dari laman resmi IMF, Indonesia memiliki jumlah aset sebesar SDR 4.648,4 juta di IMF. Apabila dicairkan, jumlah SDR ini setara dengan 6,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 93,9 triliun (kurs saat ini Rp 14.600).

SDR adalah singkatan dari Special Drawing Rights atau Hak Penarikan Khusus yang berasal dari dana yang disuntik negara anggota ke IMF.

SDR berbentuk aset cadangan mata uang asing pelengkap yang ditetapkan oleh IMF pada 1969. Fungsi dari SDR adalah sebagai pelengkap untuk cadangan mata uang para negara anggota IMF. Nilai dari SDR didasarkan pada 5 mata uang yaitu dollar AS, euro, renminbi, poundsterling dan yen.

SDR atau simpanan aset di IMF ini juga dimasukan sebagai salah satu cadangan devisa yang dilaporkan Bank Indonesia setiap tahunnya.

SDR ini bisa ditarik kapan saja oleh pemerintah Indonesia, tentunya dengan persetujuan anggota IMF lainnya. SDR yang ditarik ini juga bisa dikembalikan lagi ke IMF.

Terbaru, pada Agustus 2021, Indonesia sempat menarik SDR sebesar 6,31 miliar dollar AS atau lebih dari Rp 90 triliun untuk mendongkrak cadangan devisa.

Masih dikutip dari laman IMF, dengan kepemilikan SDR 4.648,4 juta, maka Indonesia berhak mendapatkan voting dalam pengambilan keputusan di IMF (voting power) sebesar 0,98 persen.

Meski memiliki suara di IMF, kekuatan voting Indonesia relatif tidak signifikan. Sehingga bukan merupakan negara yang secara langsung bisa mengendalikan organisasi keuangan dunia ini.

Untuk diketahui, penyumbang dana terbesar IMF saat ini dipegang oleh Amerika Serikat dengan jumlah SDR 82.994,2 juta dengan kepemilikan voting power 17,43 persen.

Sementara dalam keanggotan Indonesia di IMF, saat ini diwakili oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Gubernur BI Perry Warjiyo.

Indonesia sendiri sempat memiliki utang 9,1 miliar dollar AS dari IMF di tahun 1998 atau saat negara ini dilanda krisis moneter hebat. Belakangan, pemerintah Indonesia secara bertahap mencicil pinjamannya dan lunas di era Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.

Beda IMF dan Bank Dunia

Meski memiliki tugas dan fungsi yang beririsan satu sama lain, beda IMF dan Bank Dunia sebenarnya sangat mendasar.

IMF memiliki peran untuk menyelesaikan masalah ekonomi jangka pendek, sementara Bank Dunia fokus pada rencana jangka panjang. Fokus Bank Dunia ini biasanya berkaitan dengan program pembangunan yang berkelanjutan.

Bantuan IMF ini utamanya berkaitan dengan bank sentral dan masuk ke dalam cadangan devisa negara.

Bila sebuah negara menghadapi krisis, maka akan dibantu IMF dengan dana bantuan yang akan memperbaiki kondisi neraca pembayaran sekaligus memberikan saran keluar dari masalah tersebut.

Sementara Bank Dunia memberikan kucuran pinjaman atau bantuan untuk negara dengan tingkat ekonomi berkembang atau yang sedang mengalami transisi.

Selain itu, jika pinjaman dari IMF banyak digunakan untuk stabilisasi moneter, pinjaman dari Bank Dunia banyak digunakan untuk program pembangunan seperti pembangunan infrastruktur.

Mekanisme pinjaman yang diberikan pun melalui mekanisme antarnegara yang dilaksanakan oleh lembaga terkait.

Adapun dari semua negara anggota, baik kaya atau miskin, dapat memanfaatkan layanan dan sumber daya IMF.

Walaupun begitu, Indonesia yang saat ini merupakan negara dengan taraf kelas ekonomi menengah tidak lagi memerlukan pinjaman dari IMF, namun masih menerima bantuan dari Bank Dunia untuk pembangunan jangka menengah-panjang.

https://money.kompas.com/read/2022/07/03/122458826/sama-sama-beri-utang-ke-negara-apa-beda-imf-dan-bank-dunia

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke