INVESTASI

Investasi Bukan Tergantung Pendapatan

Kompas.com - 01/03/2011, 11:57 WIB
EditorErlangga Djumena

KOMPAS.com — Sebenarnya setiap orang dapat berinvestasi. Tidak peduli berapa pun penghasilannya. Sayangnya, hingga kini masih banyak yang beranggapan berinvestasi di kala ada uang sisa di kantong. Padahal, investasi seharusnya dialokasikan terlebih dahulu, bukan menunggu sisa pendapatan. Ini seiring dengan pepatah "Pay yourself first".

Hal yang penting dalam investasi adalah berapa jumlah yang dialokasikan, bukan berapa jumlah pendapatan seseorang. Baik orang itu adalah pegawai negeri, karyawan swasta, maupun orang yang sudah berduit.

Kebanyakan orang "ngeri" ketika mendengar kata investasi. "Ah, penghasilan masih segini mau investasi", "belum ada sisa untuk investasi", atau "harus sedia berapa puluh juta untuk investasi". Ungkapan seperti itu sering terdengar. Masih banyak orang mengira berinvestasi haruslah memiliki pendapatan besar atau harus mengalokasikan dana dalam jumlah besar.

Pemikiran seperti inilah yang membuat banyak orang tidak mau mulai menata masa depan finansialnya, akhirnya hanya mengeluh tidak dapat mencukupi kebutuhan dan mulai menyalahkan pihak lain. Padahal, setiap individu bertanggung jawab atas masa depannya, termasuk masa depan finansialnya, bukan orang lain atau perusahaan tempatnya bekerja.

Sebenarnya, beragam instrumen investasi dapat dijadikan sarana mencapai tujuan finansial kita. Mulai investasi reksa dana yang dimulai dari Rp 100.000 hingga investasi yang canggih dan rumit seperti transaksi derivatif di pasar komoditas dan memberikan uang banyak seperti investasi pada properti. "Saya berinvestasi emas sejak tahun 2006 ketika membelikan emas kawin untuk istri saya Waktu itu satu gram seharga Rp 186.000," ujar Deden Wahyu (35), seorang karyawan swasta di Jakarta. Sekarang harga emas lebih dari Rp 300.000 per gramnya.

Dia membeli emas di PT Aneka Tambang, Pulogadung. Dimulai dari membeli emas sebesar 10 gram, investasi emasnya terus bertambah. "Kalau membeli di Antam ada sertifikat, menjualnya jadi tidak sulit, jika kepepet dapat digadaikan di Pegadaian. Emas merupakan investasi baik untuk jangka panjang," ujarnya lagi.

Deden juga mengatakan, investasi emas dalam bentuk lempengan lebih menguntungkan ketimbang perhiasan karena, kalau dijual kembali, emas perhiasan akan terpotong biaya pembuatan.

Lain pula dengan Marco. Pria ini sudah makan asam garam dalam berinvestasi saham di bursa saham sejak 1996. Dia berinvestasi saham dengan aktif memperjualbelikan sahamnya setiap hari. "Kalau sedang ramai, saya berada di depan komputer memerhatikan pergerakan saham. Ya, memang kadang rugi juga," ujarnya. Dia tertarik berinvestasi saham karena keuntungannya menjanjikan meskipun risiko keragiannya besar.

Dia sempat merugi sebesar Rp 120 juta ketika terjadi guncangan di bursa pada tahun 2008. Meski demikian, dia tidak kapok karena hasil yang menjanjikan.

Sementara itu, Maya Harso, seorang karyawati swasta, memilih berinvestasi pada reksa dana dengan cara autodebet agar dapat berinvestasi teratur setiap bulannya. Sidik, karyawan swasta, nekat meminjam uang ke bank untuk membuat rumah kontrakan. "Kalau ada rezeki, saya menabung besi. Saya tidak ingin sengsara pada saat pensiun nanti," katanya.

Bukan tergantung pendapatan

Kurangnya pengetahuan mengenai perencanaan keuangan pribadi, termasuk soal investasi, juga menjadi salah satu kendala seseorang dalam menata sisi finansialnya. Banyak orang beranggapan akan mulai menabung atau berinvestasi nanti jika pendapatannya sudah besar. Namun sebenarnya, semakin besar pendapatan, semakin besar pula pengeluaran kita. Contohnya, dengan pendapatan Rp 1 juta per bulan, seorang karyawan cukup naik angkutan umum ke kantor karena biayanya murah.

Ketika pendapatan naik dan dia sanggup mencicil sepeda motor, pengeluarannya akan bertambah untuk membeli bensin, oli, perawatan sepeda motor, dan lainnya. Ketika gajinya semakin besar, keinginan untuk membeli mobil muncul. Padahal, biaya yang harus dikeluarkan pun bertambah.

Berbagai cara memang dapat dilakukan untuk memperoleh masa depan keuangan yang lebih cerah. Masa depan tersebut tergantung pada bagaimana kita menyikapi dan bertindak untuk memulai investasi.

Berinvestasi sebesar Rp 100.000 per bulan secara teratur setiap bulan selama 20 tahun dengan imbal hasil 25 persen sudah dapat mengumpulkan uang sebesar Rp 1 miliar Iho. Kalau uang yang disisihkan naik menjadi Rp 500.000 per bulan, dana sebesar Rp 1 miliar dapat dicapai dalam waktu 15 tahun, dengan asumsi tingkat imbal hasil sebesar 25 persen juga.

Jadi, pilih mana: mulai berinvestasi teratur atau selalu mengeluh tidak dapat memenuhi berbagai kebutuhan? (Joice Tauris Santi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.