Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Vinsensius Loki, Membawa Kopi Ngada Mendunia

Kompas.com - 07/05/2012, 10:18 WIB

Tahun 2002 atau tiga tahun kemudian, pohon kopi mereka mulai berbuah. Ketika itu, harga vanili mulai turun, bahkan pada 2003 harga vanili di Ngada terpuruk. Harga biji vanili kering Rp 4.500 per kg, sedangkan biji vanili basah Rp 2.500 per kg.

Tahun 2002 Vinsensius mengajukan proposal pemberdayaan kelompok kepada DPRD setempat. Proposal mereka disetujui, dan pengurus kelompok ini pun mendapat pendidikan dan pelatihan dari Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Ngada. Mereka antara lain belajar tentang kepemimpinan sampai manajemen keuangan.

Tahun 2003 mereka dikukuhkan menjadi kelompok tani produktif. Pada tahun 2004 Dinas Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Timur bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI) memberikan pelatihan dan pendampingan. Tujuannya, agar kelompok ini dapat meningkatkan produksi dan mengolah kopi bermutu yang berorientasi pasar nasional maupun internasional.

Tahun 2005, untuk pertama kali di Ngada dibentuk Unit Pengolahan Hasil (UPH) kopi bernama UPH Kopi Arabika Flores Bajawa (AFB) Fa Masa. Di sini Vinsensius pun menjadi ketua. PPKKI lalu melakukan uji laboratorium. Hasilnya, mutu fisik kopi UPH AFB Fa Masa berkategori mutu 1 dan diminati pembeli dari Amerika Serikat (AS). Jadilah tujuh ton kopi UPH AFB Fa Masa diekspor ke AS.

Jumlah ekspor itu masih jauh dari permintaan AS sebanyak 1.000 ton per tahun. PPKKI lalu merekomendasikan dibentuknya lebih banyak UPH. Maka, tahun 2011 terbentuk 14 UPH kopi. Sampai tahun 2011, ekspor kopi ke AS rata-rata baru terpenuhi sekitar 300 ton per tahun.

Geografis menunjang

Dari sembilan kecamatan di Ngada, hanya dua yang menghasilkan kopi AFB karena faktor geografisnya menunjang, yakni Kecamatan Bajawa dan Kecamatan Golewa. Harga kopi arabika di Ngada pun meningkat dan menguntungkan petani. Tahun 2011 harga gelondong merah (buah kopi masak dipetik dari pohon) yang dijual petani ke UPH sekitar Rp 6.000 per kg, dan kopi biji kering yang dijual ke eksportir Rp 51.000 per kg.

”Dalam satu musim, petani bisa berpenghasilan Rp 20 juta,” kata Vinsensius, yang anggota kelompoknya kini 151 orang. Areal kebun di Beiwali pun menjadi 167 hektar.

UPH AFB Fa Masa pun berkembang. Tahun 2007 dibentuk Koperasi Serba Usaha Fa Masa. Dalam lima tahun, aset koperasi itu sekitar Rp 2 miliar.

Ia terus berinovasi. Gelondong kopi sortiran yang tak memenuhi standar kualitas eksportir diolah menjadi kopi bubuk. Kopi ini lalu dipasarkan ke luar Nusa Tenggara Timur, bahkan sampai Filipina. Selain itu, sejak tahun 2002, kelompoknya juga mempersiapkan lahan seluas sembilan hektar untuk mengembangkan kakao.

”Penanaman kakao dimaksudkan sebagai alternatif pendapatan sebab masa panen dan pengolahan kopi itu antara Mei dan Oktober. Di luar masa itu, kakao diharapkan dapat memberi penghasilan bagi petani. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia juga menjamin akan menyerap produksi kakao kami,” tutur Vinsensius yang memiliki 500 pohon kakao.

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com