Kompas.com - 11/09/2012, 09:47 WIB
|
EditorErlangga Djumena

Kompleksnya masalah utang negara anggota Eurozone mau tak mau telah memberikan dampak negatif buat ekonomi China. Berdasarkan catatan, pertumbuhan Beijing saat ini berada di level 7,8 persen (data Q2) dan terindikasi terus menurun. Beberapa lembaga perbankan ternama & institusi internasional pun memastikan terpangkasnya GDP negara pimpinan PM Wen Jiabao di tahun 2012 ini begitu pun di tahun 2013 mendatang.

Tekanan yang melanda China telah menjadi concern pemerintah Negeri Panda hingga mendorong otoritas mengintensifkan kembali pelaksanaan kebijakan moneternya. Bahkan, Bank Sentral China telah mengimplementasikan keputusan penurunan tingkat suku bunga acuan untuk kedua kalinya dalam 3 bulan terakhir ini. Dimana, pada 7 Juni silam 1-year lending rate PBOC diturunkan menjadi 6,31 persen dari 6,56 persen, dan selanjutnya pada 5 Juli 2012, angka tersebut akhirnya menyentuh level 6,00 persen.

Peluang peluncuran stimulus dalam waktu dekat pun menyeruak ke permukaan di tengah isyarat kian melambatnya laju ekonomi China. Walau, kenaikan data Trade Balance China di Bulan Agustus (26,66 miliar dollar AS) sempat memberikan hembusan aura positif buat pasar untuk bangkit bersemangat kembali. Bahkan, berkat kepemimpinan Wen Jiabao yang dianggap responsif dan mampu bertindak cepat dalam mengatasi persoalan di dalam negeri, Beijing pun diperkirakan bakal mampu bertahan. Tak hanya fokus pada kebijakan moneter, PM Jiabao pun aktif mengendalikan sektor properti melalui pencegahan peningkatan harga rumah, berikut dukungan buat kebangkitan sektor kredit perbankan.

Ekspektasi pelonggaran lebih lanjut China di benak investor pun turut menjadi penyemangat bangkitnya aset-aset berisiko di pasar hingga mensupport perbaikan kondisi global market. Terlebih apabila redupnya program Quantitative Easing jilid 3 The Fed kembali menyala. Walau, kecamuk problema EZ debt crisis masih akan terus membayangi perekonomian global.

Dalam waktu dekat, kita lihat saja seberapa cepat Negeri Tirai Bambu bertindak demi topang perekonomian negaranya. Kita tunggu saja…  (Apressyanti Senthaury – BNI Treasury Analyst)

*Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.