Pasar CPO Bisa Terebut

Kompas.com - 11/01/2013, 02:06 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Pemerintah mempertimbangkan untuk menurunkan bea keluar minyak sawit mentah (CPO). Hal itu dilakukan menyusul langkah Malaysia yang sudah menetapkan bea keluar CPO sebesar nol persen. Selama tiga bulan terakhir bea keluar sudah turun drastis.

Menteri Perdagangan Gita Irawan Wirjawan di Jakarta, Kamis (10/1), mengatakan, pihaknya tengah mempertimbangkan langkah untuk menurunkan bea keluar CPO secara sengaja. ”Akan kami pertimbangkan. Memang Malaysia sudah menurunkan sampai nol persen, kami akan coba. Sekarang sudah 7,5 persen, nanti akan kami kaji dulu,” ujarnya.

Dia mengatakan, penurunan bea keluar diperlukan untuk menjaga pasar utama CPO Indonesia. Tanpa penyikapan, Malaysia bisa merebut pasar tersebut karena CPO mereka lebih kompetitif dengan bea keluar nol persen. Tiga pasar yang dikhawatirkan terebut adalah India, Pakistan, dan China. Malaysia sebelumnya menetapkan bea keluar di kisaran 4,5-8 persen, tetapi belakangan kembali memangkas hingga ke level nol persen.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan mengatakan, saat ini memang sudah terjadi penurunan bea keluar CPO. Namun, penurunan tersebut lebih alamiah karena faktor penentunya, yakni harga internasional yang turun. Akibatnya tidak cukup efektif untuk mendorong ekspor. ”Kita butuh penurunan bea keluar yang disengaja atau didesain oleh pemerintah,” katanya.

Fadhil berharap pemerintah tidak terlalu lama mempertimbangkan langkah penurunan bea keluar CPO. ”Kita butuh respons cepat, sebelumnya ekspor kita makin terpuruk. Kita berharap pemerintah bisa cepat,” katanya.

Bea keluar CPO untuk bulan Januari 2013 ditetapkan sebesar 7,5 persen. Angka tersebut adalah yang terendah sepanjang sejarah. Sebelumnya, bea keluar CPO ditetapkan 9 persen pada Desember dan November 2012. Penurunan bea keluar tak lepas dari pengaruh penurunan harga CPO. Berdasarkan data Kemendag, harga referensi CPO selama satu bulan terakhir adalah 780,26 dollar AS per metrik ton, turun 5,4 persen dibandingkan harga sebulan sebelumnya yang ada di kisaran 825,34 dollar AS per ton.

Menurut Sekretaris Jenderal Gapki Joko Supriyono, selain kendala bea keluar, kendala lainnya adalah moratorium. Satu tahun sejak pemberlakuan moratorium pelepasan hutan alam primer dan lahan gambut, industri sawit nasional kurang berkembang. (ENY)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.