Kompas.com - 06/09/2013, 13:54 WIB
Kedelai Impor menjadi memonopoli pasaran karena kedelai lokal menghilang. Harga kedelai impor di Pamekasan sampai Selasa (27/8/2013) mencapai Rp. 9.000 per kilo. KOMPAS.com/TAUFIQURRAHMANKedelai Impor menjadi memonopoli pasaran karena kedelai lokal menghilang. Harga kedelai impor di Pamekasan sampai Selasa (27/8/2013) mencapai Rp. 9.000 per kilo.
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta pemerintah untuk serius menata perdagangan dalam negeri. Hal ini untuk menghindari defisit neraca perdagangan yang saat ini terjadi.

"Kebijakan perdagangan kita gagal total. Semua defisit itu terjadi karena impornya besar. Kita itu rakus impor karena policy-nya tidak diatur," ujar Ekonom Kadin Didik J Rachbini saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Jumat (6/9/2013).

Ia menambahkan, selama ini sejak Januari-Mei 2013, defisit neraca perdagangan Indonesia telah mencapai 2,5 miliar dollar AS.  Nilai ini lebih besar dari total defisit selama 2012 yang hanya 1,65 miliar dollar AS. Defisit ini terjadi di hampir semua nehara mitra dagang. Hanya ke Singapura, Malaysia, Inggris, Amerika Serikat dan India saja yang mengalami surplus. Itupun data hingga Januari 2013.

Defisit ini, sebutnya,  pertanda adanya tekanan impor karena kebijakan perdagangan yang absen.

"Padahal defisit perdagangan ini tidak pernah pada zaman pak Suharto memimpin. Ini yang harus menjadi perhatian pemerintah," tambahnya.

Ia juga menyoroti kebijakan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengenai kedelai. Sebab, bahan baku tahu dan tempe ini seharusnya bisa diproduksi dalam negeri sendiri sehingga tidak melakukan impor.

"Makanya kebijakan Menteri Perdagangan soal kedelai ini tidak beres. Tapi mengurus kedelai saja tidak beres, kok malah nyapres?" kata Didik.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca tentang


25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X