Kompas.com - 06/09/2014, 08:07 WIB
SHUTTERSTOCK
EditorErlangga Djumena

Kondisi serupa terjadi dengan produksi minyak mentah kita. Selama beberapa tahun terakhir volume produksinya selalu di bawah target. Pada 2014, misalnya, kita menargetkan produksi minyak mentah 870.000 barel per hari, tapi selama Februari 2014 realisasinya hanya 803.000 bph.

Dengan kapasitas kilang kita yang 1,2 juta bph, berarti kita mesti mengimpor crude oil sekitar 400.000 bph. Sama seperti impor BBM yang terus meningkat, volume impor minyak mentah kita bakal terus bertambah. Penyebabnya, itu tadi, permintaan akan minyak mentah terus bertambah, sementara kapasitas produksinya semakin menurun.

Pentingnya I/EOR

Dalam banyak kasus yang terjadi di berbagai negara, produksi minyak mentah akan meningkat cukup signifikan bila ada dua hal. Pertama, adanya penemuan cadangan-cadangan minyak baru dalam jumlah besar di suatu lokasi. Kedua, keberhasilan pengembangan dan aplikasi dari teknologi improved oil recovery/enhanced oil recovery (I/EOR).

Bicara temuan, salah satu yang terbilang cukup besar adalah ladang minyak Cepu di perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur, yang puncak produksinya diperkirakan bakal terjadi pada tahun 2015-2016. Meski begitu produksi dari ladang tersebut mungkin juga hanya mampu mengangkat volume produksi minyak mentah nasional dari yang sekarang 800.000-an bph menjadi sekitar 900.000 bph.

Lalu, yang juga perlu menjadi catatan, setelah ladang minyak Cepu, Indonesia praktis tak memiliki temuan ladang-ladang minyak baru lagi yang volumenya betul-betul signifikan.

Maka, dalam konteks itu upaya Improve Oil Recovery/Enhanced Oil Recovery (I/EOR) menjadi penting untuk menahan laju penurunan produksi minyak mentah kita. Di sini, saya kira, kendati mafia migas menggurita fimana-mana, Pertamina akan memainkan peranan yang sangat penting. Kata William Moulton Marston, seorang penemu mesin polygraf, “Every crisis offers you extra desired power.”

Bicara soal ini, capaian  Papua Field seakan mulai mengukuhkan kompetensi perusahaan minyak kita  dalam penguasaan teknologi I/EOR. Di sumur minyak itu, selama Januari 2014 - Juni 2014, Pertamina sudah mulai mampu membukukan rata-rata produksi sebesar 1.156 bph. Padahal, target yang ditetapkan Pemerintah adalah 1.047 bph. Jadi volume  produksinya bisa 10 persen di atas target.

Menariknya, upaya peningkatan produksi tersebut tidak dilakukan dengan pengeboran baru, melainkan hanya memanfaatkan sumur-sumur yang sudah ada di sana. Untuk merawat sumur-sumur tua tersebut dan memasang 7 unit pompa dengan kapasitas 3.000 barel fluida per hari.

Keberhasilan meningkatkan eksplorasi pada sumur-sumur minyak tua di Papua ini seakan melengkapi keberhasilan sebelumnya diantara segala kegetiran memudarnya minyak Indonesia . Kita tahu, di sumur minyak Bunyu di Kalimantan Timur, perusahaan minyak kita mampu mengeksplorasi minyak dengan volume produksi 5.400 bph. Catatan penting dari Bunyu adalah semua dilakukan dengan biaya yang jauh lebih murah.

Sebelumnya, perusahaan minyak kita juga lumayan sukses mengeksplorasi sumur minyak lainnya, seperti sumur minyak Tanjung, juga di Kalimantan Timur. Lalu, sebelumnya adalah sumur minyak tua di Banyu Urip, Jambaran-Tiung Niru, dan Natuna.

Seberapa penting peningkatan volume produksi dari sumur-sumur tua tersebut? Bagi saya, sangat penting. Apalagi kalau melihat tren penurunan volume produksi minyak nasional. Ini persis seperti pernyataan Martin Luther King Jr., “Only in the darkness you can see the stars.(Prof. Rhenald Kasali)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sri Mulyani Putuskan Harga Pertalite dan Tarif Listrik Subsidi Tak Naik Tahun Ini

Sri Mulyani Putuskan Harga Pertalite dan Tarif Listrik Subsidi Tak Naik Tahun Ini

Whats New
Tahan Harga Pertalite, Kas Pertamina Bisa Tekor Rp 190 Triliun

Tahan Harga Pertalite, Kas Pertamina Bisa Tekor Rp 190 Triliun

Whats New
Serap Ide Masyarakat, IWIP Berikan Alat Tangkap Perikanan kepada 20 Nelayan di Halmahera Timur

Serap Ide Masyarakat, IWIP Berikan Alat Tangkap Perikanan kepada 20 Nelayan di Halmahera Timur

Rilis
IHSG Diprediksi Menguat Jelang Akhir Pekan, Simak Rekomendasi Sahamnya

IHSG Diprediksi Menguat Jelang Akhir Pekan, Simak Rekomendasi Sahamnya

Whats New
Bitcoin dkk Menguat, Cek Harga Kripto Hari Ini

Bitcoin dkk Menguat, Cek Harga Kripto Hari Ini

Whats New
Usai Jokowi Resmi Cabut Larangan Ekspor CPO, Organisasi Petani Kelapa Sawit Minta Pembenahan Regulasi di BPDPKS

Usai Jokowi Resmi Cabut Larangan Ekspor CPO, Organisasi Petani Kelapa Sawit Minta Pembenahan Regulasi di BPDPKS

Whats New
Wall Street Berakhir Merah, Investor Masih Lakukan Aksi Jual, Saham–saham Retail Masih Tertekan

Wall Street Berakhir Merah, Investor Masih Lakukan Aksi Jual, Saham–saham Retail Masih Tertekan

Whats New
SPKS Sambut Baik Keputusan Jokowi Cabut Larangan Ekspor Minyak Goreng

SPKS Sambut Baik Keputusan Jokowi Cabut Larangan Ekspor Minyak Goreng

Whats New
Syarat dan Biaya Cabut Berkas Motor Tanpa Calo

Syarat dan Biaya Cabut Berkas Motor Tanpa Calo

Spend Smart
Keran Ekspor CPO dan Minyak Goreng Dibuka Lagi, GAPKI: Terima Kasih Bapak Presiden

Keran Ekspor CPO dan Minyak Goreng Dibuka Lagi, GAPKI: Terima Kasih Bapak Presiden

Whats New
E-Toll Bakal Diganti MLFF Buat Bayar Tol, Bagaimana Nasib Uang Elektronik Perbankan?

E-Toll Bakal Diganti MLFF Buat Bayar Tol, Bagaimana Nasib Uang Elektronik Perbankan?

Whats New
[ POPULER MONEY ] Tarif Listrik Pelanggan 3.000 VA Bakal Naik | Eropa Bingung Bayar Impor Gas dari Rusia

[ POPULER MONEY ] Tarif Listrik Pelanggan 3.000 VA Bakal Naik | Eropa Bingung Bayar Impor Gas dari Rusia

Whats New
Subsidi BBM dan Listrik Bengkak, Sri Mulyani Minta Anggaran Ditambah

Subsidi BBM dan Listrik Bengkak, Sri Mulyani Minta Anggaran Ditambah

Whats New
Dapat Restu Jokowi, Sri Mulyani Siap Naikkan Tarif Listrik Orang Kaya

Dapat Restu Jokowi, Sri Mulyani Siap Naikkan Tarif Listrik Orang Kaya

Whats New
STA Resources Target Ekspansi Perkebunan Sawit hingga 50.000 Hektar 2025

STA Resources Target Ekspansi Perkebunan Sawit hingga 50.000 Hektar 2025

Rilis
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.