BPS: Kementerian Baru, Butuh Indikator Baru

Kompas.com - 19/09/2014, 12:48 WIB
Presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla mengumumkan postur kabinet di Kantor Transisi, Jalan Situbondo, Meneng, Jakarta Pusat, Senin (15/9/2014) petang. KOMPAS.com/IHSANUDDINPresiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla mengumumkan postur kabinet di Kantor Transisi, Jalan Situbondo, Meneng, Jakarta Pusat, Senin (15/9/2014) petang.
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik (BPS) akan melakukan pengayaan data yang bisa dijadikan referensi pemangku kepentingan. Kepala BPS Suryamin mengatakan, salah satunya adalah soal kemaritiman.

BPS akan menyiapkan data tentang sumber daya laut. "Kita bisa meningkatkan berapa yang bisa dimanfaatkan maritim, berapa yang bisa diproses ke industri," kata dia ditemui usai membuka seminar dalam rangka Hari Statistik Nasional, di Jakarta, Jumat (19/9/2014).

Sebagaimana diberitakan, presiden terpilih Joko Widodo memiliki agenda besar, menjadikan Indonesia sebagai poros maritim. Kementerian baru yang fokus mengatasi soal kemaritiman pun rencananya bakal dibentuk.

Suryamin memaparkan data kemaritiman yang akan dikeluarkan BPS meliputi hasil laut, transportasi, sampai pariwisata. Data ini akan menambah variasi statistik yang dimiliki BPS.

"Akan ada pengayaan data. Ada kementerian baru, butuh indikator baru. Butuh data untuk menilai program yang digunakan untuk meningkatkan kesjahteraan," terang Suryamin.

Suryamin membenarkan ketika dikonfirmasi wartawan, data-data yang dimiliki BPS kadang berbeda dengan yang dirilis Kementerian/Lembaga, atau institusi lain. Dia menjelaskan, data-data yang dikeluarkan BPR bersifat global, sementara yang dirilis pihak luar biasanya lebih bersifat sektoral dan khusus.

Menurut Suryamin, hal itu biasa saja, asal hasil statistik tersebut didapat dengan metodologi dan frame yang benar. Termasuk, dia menyinggung metode hitung cepat atau quick count.

"Mereka (lembaga survei) harus memperhatikan sample, dasar populasi yang digunakan, BPS punya datanya. Jadi survei ini harus hati-hati," sebut dia.

Sebagai informasi, dalam rangka memperingati Hari Statistik Nasional yang jatuh pada 26 September, BPS menggelar sejumlah seminar. Salah satunya yang digelar hari ini dengan menggandeng Ikatan Statistik Indonesia (ISI).

Tema seminar kali ini yaitu "Dengan Semangat Hari Statistik Nasional Kita Tumbuhkembangkan Peran Serta Masyarakat dalam Pembangunan Statistik".

Suryamin bilang, dengan adanya seminar-seminar tentang perstatistikan, diharapkan gaung HSN meluas. Diharapkan pula, pertan serta semua pihak semakin meningkat. "Statistik saat ini sudah sangat membudaya, quick count misalnya," kata Suryamin.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X