Kompas.com - 19/11/2014, 08:09 WIB
EditorErlangga Djumena


JAKARTA, KOMPAS.com
— Sinyal era bunga mahal makin dekat. Efek kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi mulai menjalar. Tak hanya mengerek tarif transportasi dan harga kebutuhan pokok, harga baru BBM juga menyulut kenaikan bunga bank.

Kemarin, Bank Indonesia (BI) menaikkan bunga acuan (BI rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 7,75 persen. Kenaikan ini merupakan respons BI atas kenaikan harga BBM sebesar Rp 2.000 per liter. Kini, BI rate berada di level tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Gubernur BI Agus Martowardojo menyatakan, kenaikan BI rate bertujuan mengendalikan inflasi. Maklum, harga bahan kebutuhan pokok mulai merangkak naik. Estimasi BI, kenaikan harga BBM akan menyumbang tambahan inflasi 2,6 persen sehingga inflasi pada tahun ini diprediksi 7,7 persen.

Selain BI rate, bank sentral juga menaikkan bunga lending facility sebesar 50 bps menjadi 8,00 persen, tetapi tetap mempertahankan bunga deposit facility sebesar 5,75 persen. Tujuannya agar bank lebih memilih mencari dana di pasar uang ketimbang meminjam dana dari BI.

Bisa jadi, tren bunga ke depan bakal menanjak. Apalagi kalau Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) menaikkan bunga acuan tahun depan menjadi 1 persen–1,5 persen pada medio tahun 2015.

Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, berpendapat, kerja pemerintahan Joko Widodo–Jusuf Kalla menunjukkan hasil pada tahun depan, BI tak perlu kembali menaikkan BI rate demi menangkal aksi The Fed. "Perbaikan itu akan menggiring arus investasi asing dan mungkin saja rating Indonesia naik lagi," tutur David, kemarin.

Sebaliknya, jika kinerja pemerintah tak sesuai harapan, BI rate bisa saja mengekor besaran kenaikan bunga The Fed hingga 150 bps. "Tapi skenario terburuk itu tidak pernah saya bayangkan akan terjadi," imbuh David.

Kenaikan BI rate bakal berefek domino. Salah satunya, bakal menyeret kenaikan bunga kredit perbankan. Sejauh ini, para bankir belum mau berspekulasi tentang peluang menaikkan bunga kredit.

Bahkan, Direktur Utama Bank Mandiri Tbk Budi Gunadi Sadikin menyatakan, meski BI rate naik 25 bps, bank belum tentu menaikkan bunga kredit. Direktur Keuangan Bank Rakyat Indonesia Achmad Baiquni mengaku akan berhati-hati menghitung bunga kredit. Dia tak ingin kenaikan bunga kredit malah menaikkan kredit bermasalah. Aksi kerek-mengerek bunga kredit juga bisa dicegah.

Misalnya, kata Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah, jika pemerintah mampu menggelontorkan dana subsidi BBM ke kegiatan produktif, bank tidak punya alasan menaikkan bunga kredit. (Dea Chadiza Syafina, Margareta Engge Kharismawati, Nina Dwiantika, Yuwono Triatmodjo)

baca juga: Ini Kata Menteri Keuangan soal Alokasi Pengalihan Subsidi BBM

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.