Kompas.com - 25/04/2015, 08:00 WIB
EditorBambang Priyo Jatmiko

Bila setiap hari hal itu dilakukan, maka kita akan mendapatkan sebuah garis yang disebut garis pergerakan harga 200 hari bursa, dalam bahasa analisis harga dikenal dengan Moving Average 200 (MA200).

Tapi dari sekian banyak rata-rata harian penutupan bursa, misalnya 10 hari, 30 hari, 100 hari, mengapa contohnya harus 200 hari bursa?

Mari kita berhitung. Dalam waktu 1 bulan, rata-rata terdapat 20 hari bursa (5 hari kerja dalam seminggu x 4 minggu dalam sebulan), dan dalam 1 tahun terdapat 12 bulan, yang berarti kita mendapatkan 240 hari bursa. Bila mengeliminasi hari libur atau tanggal merah, kita akan mendapatkan 200 hari bursa dalam satu tahun.

Artinya, bila sebuah saham memiliki harga di atas rata-rata 200 hari bursa saat ini, dapat dikatakan saham itu sedang bertumbuh harganya. Begitu pula dengan kebalikannya. Berikut ilustrasinya:

Dan yang di bawah pergerakan 200 hari bursa:

ist Ilustrasi pergerakan harga saham

Sekali sebuah perusahaan bergerak di atas pergerakan 200 hari bursanya, maka sahamnya dapat terus menguat. Sebaliknya sekali melemah di bawah 200 hari, biasanya saham tersebut akan terus melemah.

Namun bila sebuah pergerakan saham mampu bertahan dan kembali ke atas 200 hari bursa, perusahaan itu bisa kembali pulih. Inilah contoh lainnya:

ist Tabel pergerakan harga saham

Dengan analisis sederhana inilah kita bisa melihat apakah sebuah perusahaan lebih baik dari 1 tahun lalu, atau justru lebih buruk dari 1 tahun lalu, dari segi pergerakan harganya.
Dalam analisis saham, inilah salah satu cara seorang pengguna analisis teknikal menganalisis mahal atau murahnya sebuah saham. Dan tentunya, alat-alat analisis ini dapat membantu Anda mencari momen untuk membeli maupun menjual suatu saham.

Apakah Anda merasa terbantu dengan menggunakan alat analisis ini? Bila ya, mungkin Anda harus mulai memperdalam analisis teknikal pada pergerakan harga saham.

Salam investasi untuk Indonesia

dok pribadi Ryan Filbert

Ryan Filbert
merupakan praktisi dan inspirator investasi Indonesia. Ryan memulai petualangan dalam investasi dan keuangan semenjak usia 18 tahun. Aneka instrumen dan produk investasi dijalani dan dipraktikkan, mulai dari deposito, obligasi, reksadana, saham, options, ETF, CFD, forex, bisnis, hingga properti. Semenjak 2012, Ryan mulai menuliskan perjalanan dan pengetahuan praktisnya. Buku-buku yang telah ditulis antara lain: Investasi Saham ala Swing Trader Dunia, Menjadi Kaya dan Terencana dengan Reksa Dana, Negative Investment: Kiat Menghindari Kejahatan dalam Dunia Investasi, dan Hidden Profit from The Stock Market. Ryan juga baru saja menerbitkan dua seri buku baru yang berjudul Bandarmology dan investasi pada properti Rich Investor from Growing Investment. Setiap bulannya, Ryan Filbert sering mengadakan seminar dan kelas edukasi di berbagai kota di Indonesia.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.