Industri Film Jadi Program Unggulan Badan Ekonomi Kreatif

Kompas.com - 27/07/2015, 17:13 WIB
Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf, diabadikan usai menonton bareng film 2014, di Plaza Senayan XXI, Jakarta Pusat, Sabtu (28/2/2015) malam. KOMPAS.com/IRFAN MAULLANAKepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf, diabadikan usai menonton bareng film 2014, di Plaza Senayan XXI, Jakarta Pusat, Sabtu (28/2/2015) malam.
|
EditorSandro Gatra


JAKARTA, KOMPAS.com
- Kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEKraf) Triawan Munaf mengatakan bahwa program kerja unggulan pihaknya akan menyasar pada industri film nasional. Ia mengaku telah berkoordinasi dengan semua pihak terkait agar program tersebut dapat berjalan mulus saat dieksekusi nanti.

Triawan mengatakan, selain berkoordinasi dengan kementerian/lembaga, dirinya juga telah berkoordinasi dengan banyak asosiasi industri kreatif, khususnya di bidang perfilman. Ia melakukan koordinasi untuk memperoleh data dan mempelajari aturan perundang-undangan agar program yang dijalankan nanti tidak menabrak aturan yang ada.

"Unggulan kita di film, dan musik. Tapi yang utama adalah pondasinya, Undang-Undangnya mesti kita lihat supaya ngga bertabrakan dengan kementerian. Karena kita tidak bisa jalan sendiri, semua saling terkait," ucap Triawan di Gedung Setneg, Jakarta, Senin (27/7/2015)

Triawan menambahkan, BEKraf belum dapat mengeksekusi programnya karena saat ini tidak memiliki anggaran yang cukup. Bahkan, BEKraf belum memiliki kantor. Menurut Triawan, BEKraf mengemban tugas berat karena harus meningkatkan industri kreatif nasional untuk memberi sumbangsih pada devisa.

Meski demikian, Triawan menyebut kesenian dan kuliner tradisional Indonesia memiliki potensi menghasilkan devisa jika dikemas secara tepat.

Mengenai strategi, kata Triawan, ia tengah mematangkan konsep beberapa subsektor yang akan dijadikan pilar utama untuk mendongkrak potensi subsektor lainnya. Selain film, ia menilai subsektor kesenian dan kuliner tradisional dapat menjadi lokomotif untuk 'dipasarkan' di dalam dan luar negeri.

"Harus kita pilih dari subsektor tertentu untuk menjadi lokomotif di mana yang lain ikut. Karena kalau semua ingin ditangani secara langsung hanya seperti membuang garam di laut," ujarnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X