Pengusaha Jepang Buru Bahan Bakar Pembangkit Listrik dari Indonesia

Kompas.com - 08/04/2016, 08:32 WIB
Kapal MV Fortune yang berlayar dari Belgia dan membawa mesin pembangkit listrik untuk PLTG Gorontalo sedang berlabuh menunggu penurunan mesin ke darat. Kompas.com/Ronny Adolof BuolKapal MV Fortune yang berlayar dari Belgia dan membawa mesin pembangkit listrik untuk PLTG Gorontalo sedang berlabuh menunggu penurunan mesin ke darat.
Penulis Aprillia Ika
|
EditorAprillia Ika

OSAKA, KOMPAS.com - Pengusaha Jepang yang bergerak di bidang pembangkit energi listrik mulai berburu palm oil, wood pellet, dan palm kernel shell (PKS) dari Indonesia.

Sejumlah permintaan (inquiry) sudah dilayangkan ke Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Osaka. Inquiry tersebut berasal dari ORIX, DMM.com, dan Sankei Energy.

"Ini dampak dari kebijakan baru Pemerintah Jepang yang membebaskan pengelolaan listrik dan penjualan listrik tidak lagi dimonopoli oleh Pemerintah Jepang. Ketentuan ini berlaku sejak 1 April 2016," kata Kepala ITPC Osaka Hotmida Purba, dari Osaka, melalui keterangan pers ke kOmpas.com.

Menurut dia, tingginya kebutuhan bahan bakar pembangkit listrik dan semakin maraknya pembangunan pembangkit listrik di Jepang adalah peluang emas bagi eksportir Indonesia.

Wood pellet yang dibutuhkan sebesar 240 ribu ton per tahun, palm oil 48 ribu ton per tahun, dan PKS 10 ribu ton/bulan.

Selama ini, penjualan listrik dimonopoli oleh perusahaan listrik milik pemerintah Jepang, seperti Kansai Electric Power Company dan Tokyo Electric Power Company (Tepco).

Sejak perubahan peraturan itu diberlakukan, beberapa perusahaan swasta seperti Tokyo Gas, Showa Shell, J:Com, dan HIS mulai menjual listrik langsung kepada masyarakat Jepang.

Hotmida menambahkan, harga yang diberikan oleh pihak swasta pun relatif lebih murah dibanding harga yang ditawarkan oleh perusahaan listrik negara sebelumnya.

Misal Tokyo Gas, perusahaan gas terbesar di wilayah Kanto yang sekarang juga merambah bisnis penjualan listrik memberikan tarif untuk penggunaan listrik di perumahan sekitar ± 4.700 KW/tahun atau lebih murah 8.500 yen dibandingkan dengan tarif Tepco.

Secara sederhana, pada daya 350 KW oleh Tokyo Gas dibanderol sebesar 25,93 yen, sedangkan Tepco sebesar 30,03 yen.

Dengan perbedaan yang cukup mencolok ini, sebagian besar konsumen listrik di Tokyo telah berpindah ke Tokyo Gas. Saat ini, Tokyo Gas telah mendapatkan klien baru sebanyak 54 ribu orang yang berpindah dari Tepco.

Diperkirakan, Tokyo Gas akan menguasai 10 persen pangsa pasar listrik di wilayah Kanto hingga 2020.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X