Muhammad Fajar Marta

Wartawan, Editor, Kolumnis 

Kegagalan Bank Sentral Bernama BI Rate

Kompas.com - 29/04/2016, 07:08 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorAmir Sodikin

Gagal mengantisipasi inflasi rendah

Dalam menggunakan BI Rate, BI juga gagal mengantisipasi inflasi rendah.

Pada APBN 2009, target inflasi sebesar 6,2 persen yang kemudian direvisi dalam APBNP 2009 menjadi 4,5 persen.

Namun di akhir tahun, inflasi hanya 2,8 persen.

Dalam kurun 2005 – 2015, seluruh target inflasi tahunan bisa dikatakan meleset, bahkan dengan perbedaan angka yang mencolok.

Hanya tahun 2007, perbedaannya di bawah satu persen poin yakni target 6 persen, realisasi 6,6 persen.

Kesimpulannya, sinyal BI Rate sama sekali tidak efektif dalam memengaruhi ekspektasi pasar.

Pasar seolah tidak peduli apapun kebijakan yang akan diambil bank sentral, apakah ingin memperketat atau melonggarkan moneter.

 

 Suku bunga

Kegagalan BI Rate dalam mengendalikan inflasi tidak terlepas dari kurang lancarnya transmisi BI Rate ke suku bunga perbankan.

Sebelum pengaruh BI Rate sampai ke inflasi, BI Rate terlebih dahulu akan melewati suku bunga perbankan.

Dalam kondisi normal, pertama-tama BI Rate akan memengaruhi suku bunga pinjaman antarbank sebagai cermin likuiditas perbankan.

Selanjutnya, BI Rate akan ditransmisikan ke suku bunga simpanan, terutama tabungan dan deposito.

Setelah terjadi penyesuaian suku bunga simpanan, barulah bank akan menyesuaikan suku bunga kreditnya.

Namun fakta yang terjadi, transmisi BI Rate ke suku bunga perbankan tidak selalu mulus.

Bahkan, pada beberapa momen, pergerakan BI Rate dan suku bunga dana berlawanan arah.

Padahal seharusnya, pergerakan keduanya harus seiring sejalan dan seirama.

Contohnya pada Desember 2008. Saat itu BI menurunkan BI Rate 25 basis poin dari 9,5 persen menjadi 9,25 persen.

Namun, pada periode yang sama, rata-rata suku bunga deposito berjangka 1 bulan perbankan malah naik 35 basis poin dari 10,4 persen menjadi 10,75 persen.

Saat terjadi tren penurunan suku bunga, transmisi juga berlangsung amat lambat.

Contohnya, dalam periode Oktober – November 2011, bank sentral menurunkan BI Rate sebesar 75 basis poin menjadi 6 persen.

Namun, selama periode tersebut, rata-rata suku bunga deposito satu bulan hanya turun 27 basis poin dan suku bunga kredit komersial hanya turun 10 basis poin.

Karena sama-sama bertenor satu bulan, besaran suku bunga deposito satu bulan seharusnya sama atau berada di kisaran BI rate, dengan perbedaan yang tipis.

Faktanya, perbedaan suku bunga deposito dan BI Rate bisa mencapai lebih dari 100 basis poin.

Kesimpulannya, transmisi BI rate tidak berjalan mulus selama ini akibat berbagai faktor yang gagal diantisipasi Bank Sentral.

 

BI/M Fajar Marta Perkembangan BI Rate dan Bunga Deposito 1 Bulan Sumber : Bank Indonesia, diolah

Suku bunga kebijakan baru

BI mengakui, sejak krisis global 2010 – 2012, BI Rate tidak lagi efektif untuk memengaruhi suku bunga pasar.

Derasnya aliran modal asing telah menyebabkan perbedaan yang besar antara suku bunga BI Rate dengan suku bunga di pasar uang antarbank (PUAB).

Besarnya ekses likuiditas di PUAB menyebabkan suku bunga PUAB tenor jangka pendek menjadi sangat rendah mendekati suku bunga Deposit Facility Bank Indonesia dan jauh di bawah bunga BI Rate.

Kondisi itu juga menyebabkan struktur bunga di PUAB tidak berkembang, khususnya untuk tenor 3 bulan hingga 12 bulan.

Karena itulah, mulai 19 Agustus 2016, BI akan menggunakan suku bunga kebijakan yang baru yakni BI 7-day (reverse) Repo Rate atau suku bunga (reverse) repo 7 hari.

BI 7-day Repo Rate merupakan salah satu instrumen moneter yang aktif digunakan BI selama ini dalam operasi pasar terbuka (OPT).

Instrumen ini bersifat transaksional antara BI dan perbankan dengan skema repo atau repurchase agreement menggunakan surat berharga negara (SBN) atau surat utang negara (SUN).

Dalam transaksi ini, bank menjual SUN-nya kepada BI dengan perjanjian akan dibeli lagi pada 7 hari mendatang. Pada saat pengembalian, bank membayar bunga yang ditetapkan BI.

Atau bisa juga sebaliknya, bank membeli SUN dari BI dengan perjanjian akan dijual lagi 7 hari mendatang. Dalam transaksi reverse ini, bank mendapat bunga.

Dengan menggunakan BI 7-day Repo Rate, berarti tenor suku bunga kebijakan menjadi lebih pendek yakni hanya 7 hari. Adapun BI rate merupakan suku bunga bertenor satu bulan.

Saat ini suku bunga BI 7-day Repo Rate adalah 5,5 persen, sementara BI Rate sebesar 6,75 persen.

BI menilai BI 7-day Repo Rate, yang bertenor pendek, akan membuat transmisi kebijakan moneter menjadi lebih efektif dan lebih cepat sehingga pada akhirnya, dapat mencapai target inflasi yang ditetapkan.

Bank Sentral juga berharap dengan suku bunga kebijakan yang baru, sinyal kebijakan moneter menjadi lebih kuat sehingga langsung direspons pasar.

Kita tentu berharap, ke depan, kinerja BI semakin baik dalam mengelola inflasi dengan suku bunga kebijakan yang baru ini.

Sebelas tahun penggunaan BI Rate menjadi pelajaran mahal yang tidak boleh terulang.

Tahun 2016 ini, pemerintah menargetkan inflasi sebesar 4 persen.

Kita akan melihat apakah BI bisa mencapai target tersebut di akhir tahun.

 

Kompas TV Ini Dia Sejarah Pergerakan BI Rate

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.