Kisah Narman, Pemuda Baduy yang Sukses Pasarkan Kerajinan Via Internet

Kompas.com - 12/03/2019, 06:07 WIB
Narman (27), pemuda Baduy yang berhasil memasarkan produk kerajinan tangan melalui internet.KOMPAS.com/AKHDI MARTIN PRATAMA Narman (27), pemuda Baduy yang berhasil memasarkan produk kerajinan tangan melalui internet.

JAKARTA, KOMPAS.com - Suku Baduy merupakan suku asli provinsi Banten. Tradisi dan budaya menjadi salah satu hal yang sangat dijaga oleh suku tersebut.

Salah satu adat yang dijaga adalah pelarangan penggunaan teknologi modern di kehidupan sehari-hari mereka.

Namun, hal tersebut tak berlaku bagi Narman (27). Pria warga Baduy Luar yang tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten ini mencoba memasarkan produk kerajinan tangannya melalui internet.

Sejak 2016 lalu, Narman mulai menggunakan akun Instagram bernama Baduy Craft untuk memasarkan hasil kerajinan tangannya. Dia menjual produk kerajinan tangan seperti gelang, kain tenun, tas dan kalung.

Baca juga: Kisah Sejoli Membangun Usaha, Modal Rp 182.000 Kini Beromzet Rp 500 Juta

Tak hanya itu, anak kedua dari empat bersaudara ini juga turut menampung dan menjualkan hasil kerajinan tangan dari warga Baduy lainnya. Saat ini, Narman menggandeng 25 perajin Baduy sebagai mitranya.

Mulanya, Narman tertarik menggeluti bisnis ini setelah melihat sebuah pameran Baduy Festival yang diselenggarakan pemerintah daerah.

“Saya lihat di sana (Baduy) kan ada (kerajinan) tenun, tas dan berbagai macam lainnya. Saya rasa itu bisa dikembangkan. Jadi dari 2016 saya membuat Baduy Craft. Itu bisnis yang saya kelola sendiri, di sana ada teman-teman yang membantu, ada tim produksinya yang kebetulan warga asli sana sebagai perajin lokal,” ujar Narman di Jakarta, Senin (11/3/2019).

Dia mengaku belajar internet secara otodidak. Narman harus berjalan kaki sepanjang dua kilometer ke Desa Ciboleger untuk bisa belajar internet dan komputer. Hal ini karena tradisi di Baduy tidak membolehkan warganya menggunakan teknologi modern dalam kehidupan sehari-harinya.

“Di sana saya belajar baca tulis dan sebagainya. Jadi mulai dari situ saya mulai tumbuh minat belajar. Kenapa enggak dari pedalaman yang memang adatnya seperti itu bisa maju. Saya ingin bisa maju seperti teman-teman yang lain,” kata Narman.

Sempat alami penolakan

Namun, usaha yang ditekuni Narman itu sempat mengalami penolakan dari ketua adat Baduy Luar. Sebab, penggunaan internet untuk berjualan bisa merusak adat istiadat yang selama ini berlaku di Baduy.

“Kepala adat bilang kalau saya mau melanjutkan kegiatan ini, saya enggak boleh jadi orang Baduy, karena kegiatan saya katanya bukan kegiatan orang Baduy. Itu teguran keras bagi saya,” ucap dia.

Meski mendapat penolakan, pria yang tak sempat mengecap bangku sekolah ini tak patah arang. Dia mencoba menjelaskan ke kepala adat Baduy bahwa usaha yang dia lakukan bukan untuk menghancurkan tradisi nenek moyang.

Halaman:



Close Ads X