Penjualan Kendaraan Bermotor Diprediksi Masih Lemah hingga Akhir 2019

Kompas.com - 12/08/2019, 13:10 WIB
Ilustrasi Mobil Baru Stanly/OtomaniaIlustrasi Mobil Baru

JAKARTA, KOMPAS.com - Melambatnya pertumbuhan ekonomi pada kuartal II tahun ini menjadi indikasi awal konsumsi masyarakat tidak sekuat prediksi pasar.

Sebab, konsumsi rumah tangga masih menjadi pilar utama pendukung geliat perekonomian domestik.

Hal ini tentu saja berdampak pada penjualan ritel terkait sektor konsumer termasuk penjualan kendaraan bermotor.

"Dengan berbagai faktor di atas, Bahana Sekuritas memperkirakan, penjualan kendaraan bermotor baik roda empat maupun roda dua masih akan lemah karena kemampuan masyarakat untuk membeli mobil dan motor akan semakin terbatas," kata analis Bahana Sekuritas Anthony Yunus dalam keterangan tertulis, Senin (12/8/2019).

Baca juga: Indonesia Ditargetkan Bisa Ekspor 340.000 Kendaraan pada 2019

Anthony mengatakan, melemahnya sektor konsumer juga disebabkan oleh faktor global, seperti tren penurunan harga komoditas, perang dagang AS-China yang berlanjut pada perang mata uang, dan langkah Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan lebih lanjut demi menopang daya beli masyarakat menjadi tak mudah karena rupiah yang melemah.

"Faktor-faktor ini diperkirakan akan semakin menggerus daya beli masyarakat," ucap Anthony.

Untuk menggenjot sektor konsumer, Anthony menyarankan perusahaan otomotif mesti mengambil inisiatif dan inovasi, seperti memberi diskon untuk pembelian mobil dan motor.

"Demi menggenjot penjualan mobil dan motor hingga akhir tahun di tengah-tengahnya turunnya permintaan, pemberian diskon yang lebih agresif akan terjadi pada semester kedua," saran Anthony.

Baca juga: Menperin Klaim Toyota dan Hyundai Siap Investasi Rp 50 Triliun untuk Kendaraan Listrik

Sebagai informasi, sebelumnya Badan Pusat Statistis (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2019 tumbuh 5,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pengeluaran konsumsi rumah tangga memberi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi hingga 55,79 persen, diikuti dengan sumbangan investasi sebesar 31,25 persen.

Pengeluaran konsumsi pemerintah memberikan kontribusi sebesar 8,71 persen, sedangkan kontribusi ekspor masih negatif akibat masih tingginya impor. 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X