Ekspor Makan dan Minuman Jadi Andalan untuk Tekan Defisit Perdagangan

Kompas.com - 25/11/2019, 21:10 WIB
Ilustrasi impor SHUTTERSTOCKIlustrasi impor

JAKARTA, KOMPAS.com - Industri makanan dan minuman (mamin) menjadi salah satu prioritas dalam Making Indonesia 4.0 karena pertumbuhan bisnisnya selalu melampaui pertumbuhan ekonomi.

Hal ini terlihat pada triwulan III-2019 yang pertumbuhan industrinya mencapai 7,72 persen. Sementara, ekonomi di level 5,04 persen.

“Sedikit dorongan, pertumbuhan ekonomi kita dapat lebih bagus lagi, karena 55 persen dari struktur ekonomi kita didukung oleh konsumsi dalam negeri, sehingga kita masih punya kesempatan lebih besar lagi,” ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Perindustrian ( Kemenperin), Achmad Sigit Dwiwahjono dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Senin (25/11/2019).

Baca juga : Industri Makanan dan Minuman Kekurangan Bahan Baku Garam, Perlukah Impor?

Menurut Sigit, saat ini produk makanan dan  minuman yang diproduksi di Indonesia banyak digemari di beberapa negara lain. Misalnya mi instan yang sangat digemari di negara-negara Afrika. Sehingga, untuk meningkatkan ekspor sektor mamin, pemerintah terus menjajaki pasar Amerika Serikat, Jepang, Eropa, serta pasar-pasar non-tradisional.

Upaya mendorong pertumbuhan sektor itu antara lain, dengan aktif menciptakan iklim investasi yang kondusif. Sampai dengan triwulan III-2019, realisasi investasi untuk sektor mamin mencapai Rp 25,81 triliun untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan 984,26 juta dollar AS untuk Penanaman Modal Asing (PMA).

Pemerintah juga terus mendorong sekaligus memfasilitasi promosi produk industri mamin, salah satunya melalui pameran industri di luar negeri yang dinilai bisa menjadi wahana pendorong bagi para pengusaha di bidang industri mamin untuk memperkenalkan produk, kualitas dan citra merek serta memperoleh berbagai masukan serta keinginan dari pelanggannya.

Aspek teknologi dan inovasi, termasuk pula standar dan pengemasan merupakan faktor krusial dalam industri mamin.

Untuk melindungi pasar dalam negeri, proteksi yang dilakukan termasuk penerapan berbagai regulasi yang harus dipenuhi juga oleh produk-produk impor. Hal ini agar industri mamin dapat mendominasi pasar dalam negeri dan mampu berkontribusi dalam menekan defisit neraca perdagangan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X