Kemenkop Harap Koperasi Jadi Sentra Bisnis Kopi

Kompas.com - 30/01/2020, 21:42 WIB
Ilustrasi biji kopi Albert SupargoIlustrasi biji kopi

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) Teten Masduki mengatakan bakal menjadikan koperasi sebagai pusat bisnis komoditas kopi.

Untuk itu, petani kopi yang awalnya bersifat perorangan akan dikonsolidasikan dalam lembaga koperasi untuk mengatasi berbagai kendala yang dihadapi petani. 

"Sekitar 90 persen petani kopi di Indonesia adalah petani kecil dengan skala lahan yang sempit. Karena itu, perlu mengonsolidasi petani dari petani perorangan ke dalam koperasi," ujarnya di Jakarta, Kamis (30/1/2020).

Baca juga: Olah Kopi Berkualitas Rendah, Kopi Kreatif Bisa Raup Omzet Ratusan Juta

Tetan menjelaskan, dengan mengonsolidasi petani dalam wadah koperasi sekaligus juga   lahan milik petani, pola tanam yang baik,  sumber daya di pemerintahan dan pembiayaan, akan dapat mendorong peningkatan produktivitas kopi dan memperkuat posisi tawar petani. 

Koperasi yang dibentuk harus memenuhi skala ekonomi sebagai sentra bisnis dengan luas minimum 100 hektare yang akan berperan dari hulu ke hilir. Setiap koperasi akan memiliki pengolahan dari cherry bean ke green bean. 

Dalam hal ini, kata Teten, koperasi akan berperan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk mewujudkan model bisnis koperasi dan melalui lembaga pembiayaan baik swasta atapun BUMN yang berperan sebagai offtaker.

"Koperasi membangun kerja sama dengan offtaker. Offtaker juga sejak awal bantu pembiayaan," jelas Teten. 

Baca juga: Ekspor Kopi Indonesia Turun, Apa Sebabnya?

Dengan pola kemitraan ini, petani hanya fokus bertanam kopi. Proses bisnis seluruhnya dikerjakan koperasi, termasuk untuk menjaga mutu dengan melakukan pendampingan. 

Teten mengatakan, melalui model bisnis kemitraan akan terbangun ekosistem kopi yang lebih baik. Hal itu, akan mendorong kesejahteraan petani dan menjaga kualitas kopi. 

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus SCOPI Irvan Helmi mengatakan sekitar 96 persen produksi kopi di Indonesia berasal dari perkebunan yang dimiliki oleh petani dengan produktivitas yang rendah yaitu berkisar 700 kilogram per hektar .

Rendahnya produktivitas ini dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya minimnya akses ke pengetahuan untuk melakukan Good Agricultural Practices (GAP) dan Penanganan Pascapanen, Akses ke Pasar, dan Akses ke Pembiayaan. 

"Tantangan terbesar peningkatan produktivitas kopi Indonesia saat ini berada di bagian hulu, di mana hampir 50 persen pohon kopi di Indonesia sudah mencapai usia 50 tahun ke atas dan tergolong tidak produktif. Untuk itu, diperlukan kegiatan replanting/penanaman kembali," kata Irvan.  

Baca juga: Pemerintah Diminta Bikin Regulasi Ekspor Biji Kopi Sangrai, Apa Sebabnya?

Lahan perkebunan kopi di Indonesia lebih luas dari negara Vietnam, namun dari segi produktivitas, kopi Indonesia masih di bawah Vietnam. 

"Apa yang salah? Hampir keseluruhan tanaman kopi kita sudah tua dan sudah tidak produktif. Program replanting ini merupakan langkah yang tepat untuk meningkatkan produktivitas kopi kita di masa yang akan datang," pungkasnya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X