KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant
Eileen Rachman dan Emilia Jakob
HR Consultant/Konsultan SDM EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia. EXPERD diperkuat oleh para konsultan dan staf yang sangat berpengalaman dan memiliki komitmen penuh untuk berkontribusi pada perkembangan bisnis melalui layanan sumber daya manusia.

Menilik Pentingnya Memiliki Global Mindset

Kompas.com - 06/02/2021, 08:11 WIB
Ilustrasi global mindset. Dok. ShutterstockIlustrasi global mindset.

SEBUAH bank besar di Indonesia berniat menjadi regional leader atau pemimpin regional pada 2025. Ini berarti, mereka akan bersaing dengan beberapa bank asing yang sudah memiliki banyak cabang di mana-mana. Hal tersebut merupakan ambisi yang patut diacungi jempol.

Sebenarnya, apa yang mendorong perusahaan akhirnya memutuskan mengglobal? Bukankah potensi pasar lokal masih cukup besar? Apakah karena negeri tetangga merupakan pasar potensial untuk dimasuki? Lantas, apa yang menjadi hambatan bagi perusahaan untuk melakukan hal serupa selain kendala bahasa?

Selain kompetisi yang semakin ganas, ada beberapa alasan lain yang mendorong perusahaan untuk memperluas jangkauannya. Dengan mengglobal, perusahaan dapat melakukan transaksi antarnegara.

Transaksi tersebut menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru bagi perusahaan, seperti memberi kesempatan untuk belajar, meluncurkan atau mendapatkan produk baru, dan belajar berkoordinasi secara global.

Mengglobal juga bisa membuat perusahaan berperang di blue ocean dengan sedikit kompetisi ketimbang berdarah-darah dalam kompetisi di red ocean lokal.

Beberapa perusahaan retail sudah mengglobal sejak dahulu, salah satunya Seven Eleven. Pendirinya, Masatoshi Ito, menjadi jutawan bukan karena keberadaan jaringan toko-tokonya di Jepang, melainkan di Asia dan Amerika Serikat (AS).

Setiap tahun, Ito mengajak para eksekutif kelas atasnya untuk mendatangi negara-negara yang belum pernah dikunjungi dan mengeksplorasi hal-hal yang bisa meningkatkan kinerja bisnis mereka. Best practices dari kunjungan itu kemudian diaplikasikan dalam perusahaan mereka.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ada juga perusahaan yang tidak langsung sukses dalam upaya globalisasi. IKEA, perusahaan furnitur dari Swedia dengan desain khas Scandinavian-nya, tidak langsung berhasil di AS. Mereka lebih dulu mempelajari informasi yang akurat mengenai sistem nilai, norma tingkah laku, asumsi-asumsi yang mendasari keputusan, hingga kultur penggunaan furnitur beserta gaya hidup masyarakat setempat.

Mereka belajar menerima heterogenitas sebagai sesuatu yang normal, bahkan sebagai sumber daya dan kesempatan. Sekarang, IKEA selalu berusaha mencari produk-produk lokal untuk dimasukkan ke dalam daftar produknya. Selain bisa memperkaya jenis produknya, langkah ini juga bertujuan untuk membantu produsen lokal mengembangkan usaha mereka.

Coca Cola adalah contoh perusahaan lain yang sudah mengglobal sejak lama. Mereka berinvestasi di China, Meksiko, India, dan Brasil karena negara-negara ini dianggap sebagai high growth market.

Kemudian, 86 persen karyawan Coca Cola di setiap tempat bukanlah tenaga lokal. Sebanyak 80 persen penghasilan perusahaan juga datang dari operasi internasional.

Untuk bisa mengglobal, Coca Cola memilih top management dari orang-orang yang memiliki reputasi internasional. Setiap karyawan pun dituntut untuk memiliki global mindset.

Global mindset

Global mindset is being comfortable with being uncomfortable in uncomfortable places.

Bila kita lihat, perusahaan yang sudah mengglobal pun tetap mensyaratkan seluruh karyawannya menganut global mindset.

Eileen RachmanDok. EXPERD Eileen Rachman

Menurut Javidan (2013), seseorang dianggap memiliki kompetensi going global bila memiliki tiga modal berikut. Pertama, intellectual capital. Modal ini berupa kompleksitas kognitif, pemahaman bisnis secara global, dan wawasan kosmopolitan.

Kedua, psychological capital. Kompetensi ini diwarnai dengan passion pada keberagaman, keinginan untuk eksplorasi, dan kepercayaan diri. Ketiga, social capital. Kompetensi ini terdiri dari empati antarbudaya, impact interpersonal, dan diplomasi.

Kapasitas tersebut memang ada pada individu. Namun, hal ini harus didukung oleh strategi dan kebijakan perusahaan. Langkah strategis perusahaan akan memengaruhi suasana di seluruh tempat kerja.

Selain itu, perusahaan juga harus siap mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi bila memutuskan untuk mengglobal. Contohnya, ketika sebuah perusahaan food moving consumer goods (FMCG) memutuskan untuk mengglobal dan memindahkan beberapa departemen ke negara lain, bisa saja sebagian besar karyawan mengundurkan diri karena tidak siap. Perusahaan sudah harus siap menghadapi situasi seperti itu.

Ingat, perusahaan yang dapat mengakomodasi upaya globalisasi dan tetap memperhatikan detail kehidupan domestik karyawan akan bertahan sebagai perusahaan global.

Think and act both global and local

Dalam globalisasi, banyak salah kaprah terjadi. Ada yang mengira, bila ingin mengglobal, kita perlu mengadaptasi semua perilaku orang asing sampai melupakan budaya sendiri. Padahal, seseorang tidak bisa sepenuhnya menjadi global bila tidak mengenal budayanya sendiri.

Global berarti holistis dan mencakup semua aspek kehidupan. Kita bisa mencontoh cara mantan Duta Besar Jepang untuk Indonesia Ishii Masafumi. Selama menjabat sebagai dubes, ia rajin memperkenalkan makanan tradisional Jepang beserta tata cara dan filosofi kepada masyarakat Indonesia melalui media sosial. Tak lupa, ia juga kerap menyelingi unggahan kuliner Jepang dengan kuliner Indonesia.

Dalam sebuah organisasi, pola pikir global tidak cukup hanya dimiliki oleh pemimpin, sedangkan anggota tim masih gagap dan tidak berani bergerak ke luar. Pertanyaannya, apakah Anda harus melakukan perjalanan ke luar negeri, mempelajari bahasa asing, dan bergaul dengan orang asing untuk membentuk pola pikir global?

Jawabannya tentu saja tidak. Beberapa langkah berikut bisa Anda tempuh untuk mengembangkan pola pikir global.

Pertama, Anda perlu mendalami budaya dan nilai-nilai yang Anda anut. Bila Anda sendiri tidak menyadari, mengenali, atau sadar terhadap budaya sendiri, bagaimana bisa memiliki kerangka untuk mempelajari budaya orang lain?

Kedua, pertanyakan ciri kepribadian Anda. Anda bisa memulai dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan, seperti “apakah Anda memiliki rasa ingin tahu terhadap budaya?”, “apakah Anda memiliki self-awareness yang kuat?”, “apakah Anda cukup bisa merasa dan peka terhadap perasaan orang lain?”, dan “dapatkah Anda menerima hal-hal yang ambigu dan kompleks?”.

Ketiga, pelajari tempat kerja dan bisnis di berbagai negara lain. Setelah itu, bandingkan dengan harapan Anda mengenai situasi ideal bisnis yang dijalankan. Dengan demikian, Anda bisa mendapatkan ide yang benar-benar segar dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Bila ketiga hal di atas sudah dipersiapkan, barulah Anda siap untuk membina hubungan secara interkultural, mengembangkan strategi, dan siap untuk bersikap fleksibel dalam merambah dunia luar.

Be conscious of the global elements in your dreams. When starting local, dream of taking it global sooner,” kata Israelmore Ayivor, penulis buku Shaping the Dream.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.