Lagi, Gula Impor Jadi Andalan Pemerintah Jokowi Stabilkan Harga

Kompas.com - 16/03/2021, 10:21 WIB
Ilustrasi gula pasir menjadi bahan utama untuk mengubah warna lampu LED. Riset yang dilakukan peneliti LIPI ini dapat menjadi ide usaha rumahan lampu hias yang murah. SHUTTERSTOCK/Alexander ProkopenkoIlustrasi gula pasir menjadi bahan utama untuk mengubah warna lampu LED. Riset yang dilakukan peneliti LIPI ini dapat menjadi ide usaha rumahan lampu hias yang murah.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali mengandalkan gula impor untuk stabilisasi harga di pasar di tahun 2021, terutama guna meredam kenaikan permintaan bahan pemanis itu saat Ramadan dan Lebaran.

Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lutfi, mengungkapkan harga gula yang stabil adanya impor gula sebanyak 680.000 ton gula mentah (raw sugar) yang telah dilakukan sejak awal tahun sebagai stok pegangan (idle capacity).

Saat ini, sudah 148.000 ton yang digiling dan sebanyak 88.000 ton telah didistribusikan. Artinya baru sekitar satu per delapan dari total impor tersebut yang sudah dikeluarkan.

Adapun gula konsumsi yang diimpor akan menjadi cadangan stok yang dikelola oleh badan usaha milik negara (BUMN).

Baca juga: Kalau Harus Impor, Bulog Mengeluh Berasnya Cuma Menumpuk di Gudang


"Jadi masih ada sekitar 500.000 ton yang akan terus beredar di masyarakat antara hari ini sampai Idul Fitri,” ujar Lutfi dalam keterangannya, Selasa (16/3/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dari pemantauan Kementerian Perdagangan menunjukkan, harga gula per Jumat (12/3/2021) lalu mencapai Rp 13.070 per kilogram (kg). Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis, rata-rata nasional harga gula di pasar tradisional per Jumat Rp 14.250 per kg.

Jamin harga stabil

Dengan pasokan gula yang melimpah tersebut, dia janji tidak akan ada kelangkaan gula pasir dan harganya pun akan stabil. Tak seperti pada momentum Ramadhan dan Lebaran tahun lalu yang harganya bisa mencapai Rp 16.000-Rp 17.000 per kilogram.

“Jadi karena jumlahnya melimpah dibandingkan tahun lalu, saya pastikan tidak akan ada kenaikan yang berarti," imbuh dia.

Baca juga: Indonesia Segera Impor Garam

Meski demikian, Lutfi mengakui, saat ini harga gula di tingkat pasar masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah yakni sebesar Rp 12.500 per kg.

Lutfi menambahkan, pada Mei 2021 sudah masuk periode masa giling tebu rakyat, sehingga di Agustus-September 2021 juga akan didapatkan hasil panen tersebut. Rata-rata produksi gula dalam diperkirakan negeri 5.000-6.000 kilogram per hari.

"Jadi saya ingin pastikan, karena ini barangnya banyak, maka pedagang tidak mungkin bisa memojokan kita," tutup dia.

Penjelasan Kementan

Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan, sebagian kebutuhan gula dalam negeri masih dipenuhi lewat impor, terutama dalam menjaga stok untuk permintaan periode bulan Ramadhan dan Lebaran.

"Untuk beberapa komoditas, seperti gula pasir itu sebagian masih didatangkan melalui impor," ujar Sekretaris Jenderal Kementan Momon Rusmono dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi IV DPR RI, Senin (15/3/2021).

Baca juga: BPS Sebut Nilai Impor RI Naik 2 Digit

Momon menjelaskan, berdasarkan prognosa, kebutuhan gula sepanjang Januari-Mei 2021 sebanyak 1,21 juta ton.

Sementara stok gula dalam negeri diperkirakan sebesar 940.480 ton. Terdiri dari 804.685 ton limpahan stok tahun lalu dan 135.795 hasil produksi dalam negeri.

Artinya, hingga akhir Mei 2021, stok gula Indonesia defisit sekitar 278.484 ton. Oleh sebab itu, kebutuhan ini dipenuhi dengan importasi gula untuk konsumsi.

Meski demikian, pemerintah memutuskan untuk mengalokasikan impor gula sebanyak 646.944 ton sehingga diperkirakan stok gula pada akhir Mei 2021 menjadi surplus 368.460 ton.

"Jadi hampir 650.000 ton itu untuk konsumsi saja," ungkap Momon.

Baca juga: Kementan Klaim Stok Beras Berlebih, Kemendag Bilang Perlu Impor

Dia menambahkan, pada dasarnya kebutuhan gula nasional mencapai 5,8 juta ton di 2021. Itu mencakup kebutuhan gula rafinasi untuk industri dan gula kristal putih untuk konsumsi.

Namun, produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi 2,1 juta ton. Artinya, terjadi defisit gula sebanyak 3,7 juta ton yang berpotensi dipenuhi melalui impor.

"Total kebutuhannya hampir 6 juta ton, sekitar 5,8 juta ton, dan kita baru bisa memenuhi 2,1 juta ton," ungkap Momon.

Data BPS

Sementara itu dikutip dari Harian Kompas, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan impor kelompok barang dengan kode HS 17, yakni gula dan kembang gula, sehingga menempatkannya di posisi ketiga pada Februari 2021.

”Kenaikan kelompok barang ini (kode HS 17) mencapai 75,6 juta dollar AS,” kata Kepala BPS Suhariyanto.

Nilai impor gula sepanjang Januari-Februari 2021 mencapai 481,7 juta dollar AS. Angka ini 99,38 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Gula diimpor antara lain dari Australia, Brasil, dan India.

Baca juga: Jeritan Petani: Harga Gabah Lagi Murah, Kok Impor Beras

(Sumber: KOMPAS.com/Yohana Artha Uly | Editor: Bambang P. Jatmiko, Ambarita Nadia Kemala Movanita)



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.