[KURASI KOMPASIANA] Lucunya Adopsi Kucing di Rumah | Cacing Gelang pada Induk Kucing | Kisah Penderita Ailurophobia Memelihara Kucing

Kompas.com - 23/03/2021, 11:11 WIB
Ilustrasi kucing, kucing peliharaan. PIXABAY/MAJA CVETOJEVICIlustrasi kucing, kucing peliharaan.

KOMPASIANA---Sepertinya kucing telah jadi hewan peliharaan terpopuler saat ini. Tingkahnya lucu, menggemaskan, dan bisa diajak bermain oleh yang memeliharanya.

Meskipun tampak cuek, kucing tetap saja membuat senang yang merawatnya. Akan tetapi sebenarnya kucing tersebut sudah menaruh cinta dan kepercayaan kepada pemiliknya.

Terlebih jika kucing sudah suka memeluk kita ketika sedang mengerjakan sesuatu atau menggenggam tangan kita dengan erat.

Jika sudah begitu biasanya kucing sedang ingin diajak bermain. Rumah yang akhirnya berantakan pun tetap saja senang.

Apakah kamu juga mengadopsi kucing di rumah?

1. Adopsi Kucing, Jangan Mau Lucunya Saja

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sayangnya, menurut Kompasianer Farrel Aribah, mereka yang mengadopsi kucing itu hanya ingin bermain dan menikmati kelucuannya saja.

Banyak hal-hal penting yang mestinya diperhatikan ketika mengadopsi kucing jadi terabaikan. Dampaknya, jika sudah sakit justru kucing ditelantarkan.

"Jika akan mengadopsi kucing perhatikanlah hal-hal berikut ini agar kucing tidak menjadi korban dalam keburukan kita sebagai manusia," tulis Kompasianer Farrel Aribah.

Karena pada dasarnya kucing juga membutuhkan kasih sayang seperti kita. (Baca selengkapnya)

2. Cacing Gelang, Parasit yang Menular Melalui ASI Induk Kucing

Kucing yang dipelihara itu tidak cukup hanya dijamin makan dan minum, tapi juga harus diperhatikan kebersihan badan dan kandangnya.

Apalagi anak berbulu (anabul) ini terkena parasit cacing yang ditularkan induknya melalui air susu.

Kompasianer Ayra Amirah menceritakan pengalamannya merawat kucingnya yang terkena parasit cacing gelang itu.

Suatu ketika anak kucingnya memuntahkan air susu yang diminum sebelumnya. Muntahan itu menyerupai gumpalan susu basi berwarna putih.

"Dari muntahan itu, ternyata ada yang bergerak menggeliat, seekor cacing gelang yang merupakan parasit dalam usus," tulis Kompasianer Ayra Amirah. (Baca selengkapnya)

3. Pintu dan Bantal Khusus Buat Si Kucing

Adakah yang memelihara kucing di rumah sampai membuat pintu kucing pada pintu utama di rumahnya?

Kompasianer Dewi Puspasari mencoba itu di rumahnya, walau sedikit sulit menemukan jasa pemesanan pintu yang bisa membuatnya.

"Setelah pintu kucing dipasang, kucing-kucing di rumah malah bengong. Mereka bingung bagaimana cara bisa masuk keluar rumah dengan mudah," tulis Kompasianer Dewi Puspasari, menceritakan reaksi kucing-kucingnya.

Akan tetapi Kompasianer Dewi Puspasari tidak menyerah, karena biar bagaimanapun pintu kucing sudah dibuatkan untuk para anabul itu.

"Aku pun lalu memberikan sosialisasi dan edukasi kepada para kucing, kutunjukkan boneka masuk dan keluar dari pintu tersebut," lanjutnya. (Baca selengkapnya)

4. Ini Kisahku, Seorang Ailurophobia yang Memelihara Kucing

Penderita ailurophobia itu memiliki penyimpangan pemikiran bahwa kucing memberikan ancaman.

Hal itulah yang dialami oleh Kompasianer Sabila Hayuningtyas, tetapi ia berkeras hati untuk tetap memeliharanya sendiri di rumah.

Ketakutan itu sudah dirasakannya sejak kecil. Jadi, dulu, ketika ada kucing datang ke rumahnya justru merasa cemas karena terus mengikuti ke mana saja gerak-geriknya.

"Rupanya hidup berdampingan dengan kucing di setiap harinya juga belum membuat ketakutan saya hilang. Saya masih merasa panik jika ada kucing di dekat saya," tulis Kompasianer Sabila Hayuningtyas.

Memang cukup melelahkan, tapi hingga saat ini masih berusaha untuk terbiasa. (Baca selengkapnya)

***

Untuk mengikuti dan/atau menulis terkait topik serupa, bisa ikuti Topik Pilihan Kompasiana di sini: Adopsi Kucing.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.