Medio by KG Media
Siniar KG Media

Saat ini, aktivitas mendengarkan siniar (podcast) menjadi aktivitas ke-4 terfavorit dengan dominasi pendengar usia 18-35 tahun. Topik spesifik serta kontrol waktu dan tempat di tangan pendengar, memungkinkan pendengar untuk melakukan beberapa aktivitas sekaligus, menjadi nilai tambah dibanding medium lain.

Medio yang merupakan jaringan KG Media, hadir memberikan nilai tambah bagi ranah edukasi melalui konten audio yang berkualitas, yang dapat didengarkan kapan pun dan di mana pun. Kami akan membahas lebih mendalam setiap episode dari channel siniar yang belum terbahas pada episode tersebut.

Info dan kolaborasi: podcast@kgmedia.id

Pentingnya Punya Asuransi Penyakit Kritis

Kompas.com - 02/08/2022, 18:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh: Fauzi Ramadhan dan Ikko Anata

KOMPAS.com - Banyak orang menganggap bahwa memiliki asuransi kesehatan sudah cukup untuk melindungi mereka. Padahal, asuransi kesehatan hanya mencakup perlindungan standar, tak termasuk penyakit kritis.

Mengapa bisa demikian? Dikutip dari Investopedia, faktor utamanya adalah penyakit kritis memiliki biaya pengobatan yang “selangit” sehingga asuransi kesehatan biasa tidak dapat menanggungnya.

Ada sederet penyakit kritis yang tanpa disadari bisa menjangkiti seseorang. Misalnya, stroke, kanker, gagal jantung, diabetes, dan lain sebagainya.

Lantas, adakah jenis asuransi yang dapat memberikan perlindungan terhadap penyakit kritis?

Jawabannya, ada! Bersama Dion Rafael, seorang Insurance Advisor, kita akan diajak mengenal jenis asuransi kesehatan ini melalui siniar (podcast) CUAN - Cari Untung Bareng Teman episode “Asuransi Penyakit Kritis”.

Namun, sebelum lebih jauh membahas jenis asuransi kesehatan tersebut, alangkah baiknya kita memahami seluk-beluknya terlebih dahulu.

Penyakit Kritis

Dalam sebuah studi yang dilakukan Universitas Katolik Leuven, Belgia, penyakit kritis didefinisikan sebagai suatu kondisi kesehatan mengancam jiwa yang dialami oleh pasien.

Ketika mengalami penyakit kritis, pasien menjadi sangat tergantung pada dukungan medis intensif yang intensif agar organ vital tetap dapat berfungsi.

Menurut dr. Ario Perbowo Putra, Sp.PD, selaku Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Primaya Evasari Hospital Jakarta, terdapat beberapa jenis penyakit kritis yang umum terjadi.

Beberapa di antaranya adalah hiperglikemia (penyebab diabetes mellitus), stroke, kanker, jantung koroner, hipertensi emergensi, gagal ginjal stadium akhir, dan lainnya.

Baca juga: 3 Cara Tukarkan Bitcoin Menjadi Rupiah

“Pada intinya, critical illness (penyakit kritis) itu merupakan penyakit yang sudah gawat sehingga biasanya membutuhkan ruang intensif, seperti Intensive Care Unit (ICU) atau High Care Unit (HCU), dalam perawatannya,” ujar dokter spesialis tersebut.

Jika penyakit kritis ini tidak segera ditangani, pasien dapat mengalami kematian mendadak.

Hal ini terbukti lewat laporan World Health Organization pada tahun 2019. Mereka mencatat bahwa penyakit-penyakit kritis, seperti jantung koroner, stroke, dan paru-paru kronik, merupakan urutan tiga teratas penyebab kematian utama di dunia.

Bagaimana Mengatasi Penyakit Kritis?

Perlu diingat bahwa mengalami penyakit kritis bukanlah akhir dari segalanya. Sebab, jika tanda-tanda dari penyakit kritis bisa terdeteksi sejak awal, ia akan mendapat penanganannya lebih awal.

Namun, beberapa jenis penyakit kritis ternyata sulit untuk terdeteksi sehingga kerap dijuluki silent killer. Contohnya, dikutip dari KOMPAS.com, penyakit jantung, kanker prostat, diabetes, dan hipertensi.

Jika terlambat untuk diobati, risiko besar akan menanti para penderitanya. Selain kematian, risiko ekonomi, seperti beban biaya pengobatan juga turut menghantui.

Oleh karena itu, kita memerlukan sebuah perlindungan agar penyakit kritis dapat dicegah dan diatasi dengan baik. Asuransi penyakit kritis adalah jawabannya.

Asuransi Penyakit Kritis

Dilansir dari Investopedia, asuransi penyakit kritis pertama kali dikembangkan pada tahun 1996. Pada saat itu, orang-orang mulai menyadari bahwa bertahan dari penyakit kritis membuat pasien memiliki tagihan medis yang sulit dibayarkan.

“Bahkan, dengan asuransi kesehatan yang terbaik di masanya, satu penyakit kritis dapat menjadi beban keuangan yang luar biasa,” ungkap Jeff Rosi, seorang Certified Financial Planner asal Amerika Serikat.

Meskipun seseorang sudah menyiapkan dana darurat dari jauh-jauh hari, biaya pengobatannya terkadang masih terbilang tinggi.

Masih dalam sumber yang sama, dikatakan bahwa asuransi penyakit kritis dapat membayar biaya yang tidak ditanggung oleh asuransi kesehatan biasa. Dana asuransi ini biasanya sudah mencakup biaya perawatan penyakit, nonmedis, transportasi, dan lain sebagainya.

Baca juga: Mana Lebih Penting, Asuransi Kesehatan atau Asuransi Jiwa?

Biaya polisnya juga tergolong murah, tergantung dari jumlah/luas tanggungan keluarga, jenis kelamin, usia, dan riwayat kesehatan keluarga.

Bagaimana, tertarik untuk mengikuti asuransi penyakit kritis? Jika belum, coba dengarkan siniar CUAN - Cari Untung Bareng Teman episode “Asuransi Penyakit Kritis”.

Bersama Dion Rafael, seorang Insurance Advisor, kita akan diajak mengenal dan membedakan asuransi kesehatan dengan asuransi penyakit kritis secara lebih dalam.

Tak hanya soal asuransi, siniar persembahan Medio by KG Media yang bekerja sama dengan Motion FM, part of KG Radio Network, ini juga akan memberikan tips berkualitas seputar bisnis, investasi, dan finansial lainnya!

Dengarkan CUAN - Cari Untung Bareng Teman di Spotify! Nantikan juga acara virtual menarik lainnya dari Medio by KG Media bersama Motion FM.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.