Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

HET Beras Bulog Naik, YLKI Khawatir Daya Beli Masyarakat Tergerus

Kompas.com - 06/05/2024, 21:39 WIB
Haryanti Puspa Sari,
Erlangga Djumena

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, kenaikan harga eceran tertinggi (HET) beras stabilitas pasokan dan harga pangan (SPHP) atau beras Bulog dapat menggerus daya beli masyarakat.

"Menaikkan HET beras jelas akan menggerus pendapatan konsumen, dan bahkan bisa memukul daya beli, dan ujung-ujungnya akan menaikkan laju inflasi," kata Tulus saat dihubungi Kompas.com, Senin (6/5/2024).

"Apalagi jika HET itu tidak diikuti dengan keuntungan pada petani," sambungnya.

Baca juga: Bapanas Ungkap Alasan HET Beras SPHP Naik

Menurut Tulus, kenaikan HET beras Bulog saat ini tidak tepat mengingat beberapa harga bahan pangan kian melambung.

"Jadi siapa yang diuntungkan dengan kenaikan HET, di satu sisi merugikan konsumen, di sisi lain tidak menguntungkan petani," ujarnya.

Lebih lanjut, Tulus menyarankan pemerintah dan Bulog memperbaiki tata niaga rantai distribusi beras dari hulu hingga hilir sehingga harga beras bisa dikendalikan.

"Sehingga harga beras stabil dan tidak perlu menaikkan HET. Bandingkan dengan negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura, Thailand yang harga beras lebih murah," ucap dia.

Sebelumnya, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memutuskan untuk menaikkan Harga Eceren Tertinggi (HET) beras Bulog merek SPHP semula 10.900 menjadi Rp 12.500 per kilogram. Kebijakan itu sudah berlaku sejak awal Mei 2024 kemarin.

Baca juga: HET Beras Bulog Resmi Naik Jadi Rp 12.500 per Kilogram

Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi mengungkapkan, kenaikan HET beras SPHP itu dilakukan lantaran biaya produksi beras saat ini ada penyesuaian. Dengan demikian, diharapkan dengan adanya kenaikan HET itu, petani bisa lebih mendapatkan lebih banyak untung.

“Karena adanya penyesuaian agro input,” ujar Arief saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (4/5/2024).

Namun Arief belum bisa memastikan apakah kenaikan HET itu bersifat permanen atau tidak karena bergantung pada kondisi perberasan baik dari sisi kestabilan harga hingga ketersediaan stok. “Ini harus direview berkala,” katanya.

Baca juga: Beras di Ritel Modern Sempat Langka, Bos Bulog: Kita Salurkan Beras SPHP 13.748 Ton

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Simak 10 Tips Investasi di Pasar Modal bagi Pemula

Simak 10 Tips Investasi di Pasar Modal bagi Pemula

Earn Smart
Pantau Dampak Pelemahan Rupiah, Kemenhub: Belum Ada Maskapai yang Mengeluh

Pantau Dampak Pelemahan Rupiah, Kemenhub: Belum Ada Maskapai yang Mengeluh

Whats New
Cara Cek Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Aktif atau Tidak

Cara Cek Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Aktif atau Tidak

Whats New
Pengamat: Starlink Harusnya Jadi Penyedia Akses bagi Operator Telekomunikasi...

Pengamat: Starlink Harusnya Jadi Penyedia Akses bagi Operator Telekomunikasi...

Whats New
Studi Ungkap 20 Persen Karyawan di Dunia Mengalami Kesepian, Ini Cara Mengatasinya

Studi Ungkap 20 Persen Karyawan di Dunia Mengalami Kesepian, Ini Cara Mengatasinya

Work Smart
PGN Sebut Penjualan Gas Bumi di Jawa Barat Mencapai 45 BBTUD

PGN Sebut Penjualan Gas Bumi di Jawa Barat Mencapai 45 BBTUD

Whats New
Kemenhub dan US Coast Guard Jajaki Peluang Kerja Sama Pengembangan SDM KPLP

Kemenhub dan US Coast Guard Jajaki Peluang Kerja Sama Pengembangan SDM KPLP

Whats New
Indonesia Disebut Berpotensi Jadi Pemimpin Produsen Hidrogen Regional, Ini Alasannya

Indonesia Disebut Berpotensi Jadi Pemimpin Produsen Hidrogen Regional, Ini Alasannya

Whats New
Kuota BBM Subsidi 2025 Diusulkan Naik Jadi 19,99 Juta KL

Kuota BBM Subsidi 2025 Diusulkan Naik Jadi 19,99 Juta KL

Whats New
Bos Superbank Akui Selektif  Jalin Kerja Sama Pembiayaan Lewat 'Fintech Lending'

Bos Superbank Akui Selektif Jalin Kerja Sama Pembiayaan Lewat "Fintech Lending"

Whats New
Sambangi Korsel, Pertamina Gas Jajaki Peluang Bisnis Jangka Panjang LNG Hub

Sambangi Korsel, Pertamina Gas Jajaki Peluang Bisnis Jangka Panjang LNG Hub

Whats New
Kata Sandiaga soal Banyaknya Keluhan Tiket Pesawat yang Mahal

Kata Sandiaga soal Banyaknya Keluhan Tiket Pesawat yang Mahal

Whats New
Elpiji 3 Kg Direncanakan Tak Lagi Bebas Dibeli di 2027

Elpiji 3 Kg Direncanakan Tak Lagi Bebas Dibeli di 2027

Whats New
Blibli Catat Penjualan 1.000 Motor Yamaha NMAX Turbo dalam 40 Menit

Blibli Catat Penjualan 1.000 Motor Yamaha NMAX Turbo dalam 40 Menit

Whats New
Bos Pupuk Indonesia: Produksi Padi akan Turun 5,1 Juta Ton jika Program HGBT Tak Dilanjutkan

Bos Pupuk Indonesia: Produksi Padi akan Turun 5,1 Juta Ton jika Program HGBT Tak Dilanjutkan

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com