Salin Artikel

Milenial Perlu Siapkan Dana Pensiun Sejak Dini, Begini Tips Memulainya

JAKARTA, KOMPAS.com - Kebanyakan milenial nyaris tak terpikir menyisihkan uang untuk dana pensiun.

Biasanya hal ini memang disebabkan oleh banyak faktor, seperti banyak kebutuhan di masa produktif, memiliki pendapatan kecil, atau bahkan merasa masa pensiun masih lama sehingga kebutuhan dana pensiun tidak mendesak.

Padahal, semua perencana keuangan sepakat mencicil dana pensiun selagi muda dan di masa puncak produktivitas banyak manfaatnya. Utamanya membuat pengeluaran dana pensiun di masa depan jauh lebih ringan.

Apalagi, milenial cenderung tak banyak dibuntuti kebutuhan mendesak, seperti biaya sekolah anak, cicilan kredit pemilikan rumah (KPR), bayar listrik, maupun bayar air setiap bulan.

Paling-paling keuangannya kerap dihabiskan untuk kebutuhan konsumtif, seperti minum kopi di kafe kekinian hingga beli baju yang terlalu sering.

Untuk itu, mulailah mencicil dana pensiun sedini mungkin.

Bila Anda masih bingung soal perencanaannya dan aja saja yang perlu Anda persiapkan untuk menabung dana pensiun, tips-tips di bawah ini mungkin bisa membantu Anda.

1. Targetkan umur pensiun

Perencana keuangan Eko Endarto mengatakan, Anda perlu menargetkan beberapa hal, seperti di usia berapa Anda akan pensiun, berapa angka harapan hidup Anda, dan berapa besaran dana yang diperlukan.

"Tentu harus dihitung dulu kapan pensiunnya, seberapa kebutuhan dia, dan berapa angka harapan hidupnya," kata Eko Indarto kepada Kompas.com, Senin (19/8/2019).

Misalnya, Anda memiliki target pensiun di usia 55 tahun. Bila saat ini Anda berusia 20-30 tahun, berarti Anda punya waktu sekitar 25-35 tahun ke depan untuk mempersiapkan dana pensiun.

Setelah menghitung target pensiun, Anda juga perlu menghitung dan mengasumsikan angka harapan hidup Anda.

Misalnya, jika Anda akan pensiun di usia 55 tahun dan Anda akan hidup hingga usia 80 tahun, maka dana pensiun yang Anda butuhkan setara dengan 25 tahun hidup.

Dari situ, Anda bisa menghitung besaran dana pensiun yang bisa Anda cicil. Bila kebutuhan bulanan Anda sekitar Rp 5 juta, maka dana pensiun yang Anda butuhkan untuk 25 tahun ke depan sekitar Rp 1,5 miliar.

2. Bangun kebiasaan

Eko menyarankan, milenial perlu membangun kebiasaan untuk menyisihkan dana pensiun dari gajinya maupun pendapatan lain.

Adapun membangun kebiasaan ini membutuhkan komitmen dan kedisiplinan.

"Yang penting adalah disiplin dan komitmen, minimal 10 persen dari penghasilan. Coba untuk disisihkan di awal. Pasti agak susah, namanya juga awal-awal. Tapi ini untuk membangun kebiasaan," kata Eko.

Bila tiba-tiba Anda mengalami kebutuhan mendesak, Eko pun tak melarang Anda menggunakan dana pensiun terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan itu.

Tapi yang jelas, pastikan Anda memiliki komitmen untuk menambah sedikit demi sedikit pemasukan untuk dana pensiun dan berusaha tak lagi memakainya.

"Boleh diambil lagi tapi enggak semua. Makin lama makin sedikit yang diambil. Jadi memang butuh komitmen sebenarnya, coba dulu di awal. Kalaupun nanti butuh, ya itu urusan nanti," terang Eko.

3. Kurangi konsumsi dan alihkan ke dana darurat

Bila Anda gemar berbelanja atau sekedar minum kopi di kafe kekinian, ada baiknya kebiasaan itu dikurangi.

Alih-alih minum kopi setiap hari atau seminggu sekali, alokasikanlah dana konsumtif tersebut ke dana darurat.

Tindakan ini, kata Eko, berguna untuk mengamankan dana pensiun bila suatu saat ada kebutuhan mendadak. Anda bisa menggunakan dana darurat ketimbang dana pensiun yang telah Anda kumpulkan.

Adapun idealnya, besaran dana darurat harus setara dengan 3 kali pengeluaran bulanan.

"Dana darurat adalah dana yang dibutuhkan ketika ada masalah di keuangan. Maka, untuk milenial yang masih muda-muda sebenarnya 3 kali pengeluaran bulanan sudah cukup, enggak usah terlalu banyak karena masih muda," ungkap Eko.

Namun pastikan, jangan satukan simpanan dana darurat dengan simpanan dana pensiun. Dana darurat harus ditaruh di instrumen yang likuid, sementara dana pensiun mesti ditaruh dalam instrumen jangka panjang.

4. Pilih instrumen

Mengingat dana pensiun adalah simpanan jangka panjang, Eko menyarankan Anda untuk mencari produk yang berisiko tinggi dan return yang tinggi.

Pun produk yang minim bahkan tidak bisa tergerus inflasi.

"Bisa taruh di saham, properti, bisa juga ke investasi emas minimal. Tapi harus yang investasi, jangan produk perbankan seperti deposito. Karena produk perbankan itu bukan jangka panjang," saran Eko.

Jika Anda belum mengerti saham langsung, pelajarilah atau pilihlah instrumen lain yang bisa Anda mengerti, seperti reksa dana saham.

Anda juga bisa memulai bisnis yang keuntungannya bisa digunakan untuk dana pensiun.

"Kalau memang merasa saham terlalu sulit, mungkin milenial bisa mencoba dahulu ke reksadana. Reksadana saham itu kan ada pengelolanya, nah itu lebih aman dibanding saham langsung. Atau bisnis juga bisa. Zaman sekarang bisnis bisa digunakan sebagai dana pensiun," pungkas Eko.

https://money.kompas.com/read/2019/08/20/080600226/milenial-perlu-siapkan-dana-pensiun-sejak-dini-begini-tips-memulainya

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Harga Emas Antam Turun Rp 3.000 Per Gram, Ini Rinciannya

Harga Emas Antam Turun Rp 3.000 Per Gram, Ini Rinciannya

Spend Smart
Alpha JWC Ventures: Suntikan Rp 71 Miliar ke Bisnis Es Doger Gibran Masih Wajar

Alpha JWC Ventures: Suntikan Rp 71 Miliar ke Bisnis Es Doger Gibran Masih Wajar

Whats New
Rincian Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, dari 0,5 Gram hingga 1 Kg

Rincian Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, dari 0,5 Gram hingga 1 Kg

Spend Smart
Menpan RB: Rekrutmen Tenaga Honorer Mengacaukan Hitungan Kebutuhan Formasi ASN

Menpan RB: Rekrutmen Tenaga Honorer Mengacaukan Hitungan Kebutuhan Formasi ASN

Whats New
Negara Maritim: Pengertian, Ciri-ciri, dan Pilar Penyangganya

Negara Maritim: Pengertian, Ciri-ciri, dan Pilar Penyangganya

Whats New
Ini 5 Komoditas Ekspor Unggulan Indonesia

Ini 5 Komoditas Ekspor Unggulan Indonesia

Whats New
Heboh soal Bisnis Es Doger Gibran Disuntik Rp 71 Miliar, Alpha JWC Ventures Buka Suara

Heboh soal Bisnis Es Doger Gibran Disuntik Rp 71 Miliar, Alpha JWC Ventures Buka Suara

Whats New
IHSG Bakal Lanjut Melemah? Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

IHSG Bakal Lanjut Melemah? Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Whats New
Tidak Buka Seleksi CPNS Tahun Ini, Pemerintah Hanya Rekrut PPPK

Tidak Buka Seleksi CPNS Tahun Ini, Pemerintah Hanya Rekrut PPPK

Whats New
Link Live Streaming Webinar Babak Baru Perpajakan Indonesia Pasca-Terbitnya UU HPP

Link Live Streaming Webinar Babak Baru Perpajakan Indonesia Pasca-Terbitnya UU HPP

Whats New
Nekat Jual Minyak Goreng di Atas Rp 14.000 Per Liter, Ini Sanksinya

Nekat Jual Minyak Goreng di Atas Rp 14.000 Per Liter, Ini Sanksinya

Whats New
Minyak Goreng Resmi Dijual Rp 14.000 Per Liter Mulai Hari Ini, di Mana Belinya?

Minyak Goreng Resmi Dijual Rp 14.000 Per Liter Mulai Hari Ini, di Mana Belinya?

Whats New
Cara Cek Sertifikat Vaksin Tanpa Perlu Install Aplikasi PeduliLindungi

Cara Cek Sertifikat Vaksin Tanpa Perlu Install Aplikasi PeduliLindungi

Whats New
Pengertian UMKM, Kriteria, Ciri dan Contohnya

Pengertian UMKM, Kriteria, Ciri dan Contohnya

Whats New
Kendala Terowongan Kereta Cepat Diselesaikan berkat Tenaga Ahli China

Kendala Terowongan Kereta Cepat Diselesaikan berkat Tenaga Ahli China

Whats New
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.