Agrobisnis Harus Cari Peluang Baru

Kompas.com - 24/12/2008, 10:18 WIB
Editor

JAKARTA, RABU — Indonesia harus segera mencari peluang baru di samping usaha meningkatkan efisiensi dan efektivitas agrobisnis yang telah ada. "Indonesia harus dan perlu mencari peluang baru," kata Rektor Unika Atma Jaya, Prof Dr FG Winarno di Jakarta, Rabu (24/12).
  
Ia menekankan usaha agrobisnis yang telah ada jangan sampai ditinggalkan tetapi justru harus dipelihara, dievaluasi terus-menerus, dan dikembangkan bila ada peluang.

Namun, katanya, tidak boleh pula terlalu terpukau dengan yang ada saat ini, tetapi mutlak segera mencari peluang baru. "Kebijakan industri agrobisnis yang baru terus diupayakan, dengan syarat harus unik tetapi memiliki advantage terhadap suplai sumber bahan mentah yang berkesinambungan dalam kurun waktu lama," katanya.

Menurut dia, Indonesia harus pandai-pandai menggali potensi yang melimpah di Tanah Air dan mengemban prioritas serta keunggulan dunia berdasarkan potensi lokal.

Indonesia yang hanya merupakan 1,3 persen luas daratan di dunia memiliki 17 persen dari seluruh jumlah spesies yang terdapat di seluruh penjuru bumi.

Oleh karena itu, Indonesia menjadi "World Mega Biodiversity Center" (Keragaman Hayati Dunia) kedua terbesar setelah Brasil.

Dengan perincian spesies meliputi 11 persen spesies tumbuhan berbunga, 12 persen spesies binatang menyusui, 15 persen spesies reptilia amphibia, 17 persen spesies burung, dan 11 persen spesies ikan di dunia. "Dari data di atas secara jelas Indonesia berpotensi besar dalam peningkatan agriindustri dan agribisnis," katanya.

Ia mengatakan, untuk mencapai hal itu kebijakan makro khususnya harus diubah ke arah yang lebih kondusif sebab perubahan merupakan kunci kemajuan dalam era saat ini.

Dalam kaitannya dengan komoditas misalnya kelapa sawit dan coconut, Indonesia merupakan produsen utama bahan mentah minyak goreng.

"Kita perlu meningkatkan industri kelapa sawit dan coconut oil menjadi produk baru yang bernilai tambah yang akan secara langsung meningkatkan potensi ekspor dan menyerap tenaga kerja," katanya.

Ia menambahkan, Indonesia perlu segera mengembangkan peluang baru dengan contohnya melakukan perkebunan nontradisional di kawasan kering dan terbelakang. "Kawasan tidak subur itu bisa ditanami dengan misalnya perkebunan tanaman baru bunga matahari dan tanaman buah zaitun," katanya.
  
Selain itu, menurut Winarno, perlu paradigma alam kebijakan agrobisnis di Indonesia khususnya pengembangan SDM yang kompeten melalui pendidikan dan latihan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.