KPI Cermati Penjualan VIVA

Kompas.com - 05/05/2013, 17:22 WIB
EditorErlangga Djumena

PONTIANAK, KOMPAS.com — Komisi Penyiaran Indonesia mencermati rencana penjualan saham PT Visi Media Asia Tbk atau VIVA yang menguasai stasiun televisi ANTV dan TVOne.

"Kami masih menunggu aksi korporasi terjadi. Kalau terjadi, barulah kami akan memberi legal opinion," kata Komisioner KPI Iswandi Syahputra saat dihubungi di Pontianak, Minggu (5/5/2013).

Menurut dia, kondisi itu seperti dalam akuisisi stasiun televisi Indosiar oleh PT EMTK (Elang Mahkota Teknologi) yang juga menguasai saham stasiun televisi SCTV.

Ia mengatakan, salah satu dasar hukum kajian adalah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. "Terutama yang mengatur tentang pemusatan kepemilikan," ujar dia.

Selain itu, di Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Swasta melarang monopoli dan penguasaan informasi pada satu orang atau perusahaan.

Iswandi mengakui, transaksi jual beli tersebut bersifat bisnis semata. Namun, ia mengingatkan, dampak dari transaksi bisnis itu ke perizinan yang dimiliki.

Ia menegaskan, kalau perusahaan tidak mampu mengelola izin frekuensi yang diberikan, sebaiknya dikembalikan ke negara selaku pemilik.

Seperti diberitakan, Komisaris Utama PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) Anindya Bakrie tidak membantah, tetapi juga tidak membenarkan mengenai minat Chairul Tanjung untuk memborong 100 persen saham VIVA. "Namanya perusahaan terbuka, setiap hari memang selalu ada jual beli. Bahkan, ketertarikan itu datang dari banyak pihak dan mekanisme seperti itu tidak salah. Tapi, saya senang kok VIVA banyak yang meminati," kata Anindya saat ditemui selepas konferensi pers Kadin di Hotel Grand Melia Jakarta, Senin (8/4/2013).

Namun, Anindya enggan menjelaskan siapa investor yang berminat membeli saham VIVA tersebut. Bahkan, saat ditanyakan soal ketertarikan Chairul Tanjung, Anindya hanya melempar senyum khasnya sambil terus berlalu.

Hingga saat ini, Anindya mengaku bahwa kinerja VIVA masih gemilang. Dari laporan belum audit, pendapatan VIVA di kuartal I-2013 saja sudah meningkat sekitar 40 persen. "Minat dari investor lain pasti ada, yang lain juga banyak. Tapi, kalau bicara soal itu (rencana akuisisi), lebih baik bicara ke perusahaan sendiri saja," katanya.

Seperti diberitakan, Chairul Tanjung akhirnya buka suara terkait pembelian VIVA. Orang terkaya kelima di Indonesia ini mengaku ingin membeli saham pengendali VIVA seorang diri secara tunai. "Kami salah satu penawar utama. Kami mengajukan proposal untuk membeli semuanya, saku saya masih dalam," ucap pria berusia 51 tahun ini di Bali, seperti dikutip Reuters, Jumat (29/3/2013).

"Hanya kami yang bisa membayar tunai 100 persen, tapi masih belum ada kesepakatan," kata Bos CT Corp ini.

Chairul mengatakan, CT Corp akan mencari pinjaman baru untuk membeli tunai saham perusahaan media milik keluarga Bakrie itu. Namun, ia menolak menyebutkan berapa nilai yang akan dipinjamnya. Keluarga Bakrie memasang valuasi VIVA 1,2 miliar dollar AS - 2 miliar dollar AS.

Namun, menurut sumber-sumber Reuters, tampaknya nilai penjualan VIVA sekitar 1,8 miliar dollar AS. Padahal, kapitalisasi pasar VIVA hingga pekan ini hanya sekitar 800 juta dollar AS. Jika rencana akuisisi tersebut mulus, CT Corps bakal mengontrol 4 stasiun televisi, sehingga menguasai lebih dari 40 persen belanja iklan media televisi yang nilainya mencapai 1,7 miliar dollar AS pada tahun 2011. Saat ini, CT Corp menguasai Trans TV dan Trans 7.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Daftar Lengkap Kode Bank di Indonesia untuk Keperluan Transfer

Daftar Lengkap Kode Bank di Indonesia untuk Keperluan Transfer

Work Smart
[TREN LOVE KOMPASIANA] Move On dari 'Ghosting' | Seni Merayakan 'Ghosting' | Dampak 'Sidebarring' dengan Pasangan

[TREN LOVE KOMPASIANA] Move On dari "Ghosting" | Seni Merayakan "Ghosting" | Dampak "Sidebarring" dengan Pasangan

Whats New
Intip Kekayaan Moeldoko, Eks Panglima TNI dan Ketum Demokrat Versi KLB

Intip Kekayaan Moeldoko, Eks Panglima TNI dan Ketum Demokrat Versi KLB

Whats New
Simak Poin Penting Aturan Turunan UU Cipta Kerja Sektor Perikanan dan Kelautan

Simak Poin Penting Aturan Turunan UU Cipta Kerja Sektor Perikanan dan Kelautan

Whats New
Telah Disetujui Senat, Masyarakat AS Bakal Dapat Bantuan Rp 20 Juta

Telah Disetujui Senat, Masyarakat AS Bakal Dapat Bantuan Rp 20 Juta

Whats New
Perlu Transfer? Ini Kode Bank BRI, BNI, BTN, dan Mandiri

Perlu Transfer? Ini Kode Bank BRI, BNI, BTN, dan Mandiri

Work Smart
Ingin Beli Rumah? Bank Syariah Indonesia Tawarkan Bunga Rendah dan Bebas Biaya Administrasi

Ingin Beli Rumah? Bank Syariah Indonesia Tawarkan Bunga Rendah dan Bebas Biaya Administrasi

Whats New
[KURASI KOMPASIANA] Langkah Mudah Beli Rumah DP Nol Persen | Kelola Penghasilan dengan 'Jirolupat' | Ingat 3 Hal Ini Sebelum Berutang

[KURASI KOMPASIANA] Langkah Mudah Beli Rumah DP Nol Persen | Kelola Penghasilan dengan "Jirolupat" | Ingat 3 Hal Ini Sebelum Berutang

Rilis
Berapa Gaji Pokok yang Didapatkan CPNS dan PPPK Lulusan SMA/SMK?

Berapa Gaji Pokok yang Didapatkan CPNS dan PPPK Lulusan SMA/SMK?

Whats New
Rute KA Mutiara Timur Diperpanjang Jadi Ketapang-Surabaya-Yogyakarta

Rute KA Mutiara Timur Diperpanjang Jadi Ketapang-Surabaya-Yogyakarta

Whats New
OJK: Saat Ini Ada 60 Bank Wakaf Mikro di Indonesia

OJK: Saat Ini Ada 60 Bank Wakaf Mikro di Indonesia

Whats New
Ini Jurus Pemerintah Dongkrak Sektor Industri Untuk Pemulihan Ekonomi Nasional

Ini Jurus Pemerintah Dongkrak Sektor Industri Untuk Pemulihan Ekonomi Nasional

Rilis
Penumpang Buka Jendela Darurat, Wings Air Ganti Pakai Pesawat Lain

Penumpang Buka Jendela Darurat, Wings Air Ganti Pakai Pesawat Lain

Whats New
Cara Membuka Tabungan Emas Pegadaian, Syarat, Biaya, dan Kekurangannya

Cara Membuka Tabungan Emas Pegadaian, Syarat, Biaya, dan Kekurangannya

Spend Smart
Tarif Retribusi dan Pajak Daerah di Tangan Jokowi, Setoran ke Pemda Makin Seret?

Tarif Retribusi dan Pajak Daerah di Tangan Jokowi, Setoran ke Pemda Makin Seret?

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X