Impor Kedelai Ada di Pemain Lama

Kompas.com - 28/08/2013, 10:13 WIB
ILUSTRASI: Kedelai KOMPAS/ALBERTUS HENDRIYO WIDIILUSTRASI: Kedelai
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com -
Kebutuhan kedelai impor yang masih sangat besar, jelas menjadi daya tarik tersendiri bagi pebisnis. Itulah sebabnya banyak pebisnis kini mengajukan diri untuk menjadi importir kedelai.

"Mayoritas pemain lama," kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan (Kemdag) Bachrul Chairi, Selasa (27/8/2013)

Namun, kata Bachrul, selain pemain lama, dari 22 perusahaan yang mengajukan diri menjadi importir kedelai, ada juga nama-nama baru, diantaranya Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) dan Perum Badan Urusan Logistik alias Bulog.

Kemdag memberikan izin kepada perusahaan yang memiliki pengalaman setidaknya tiga tahun untuk melakukan distribusi kedelai di dalam negeri.

Menurut catatan KONTAN, tahun lalu, para importir kedelai itu adalah PT Cargill Indonesia, PT Gerbang Cahaya Utama, PT Sekawan Makmur Bersama, PT Teluk Intan, PT Sungai Budi dan PT Gunung Sewu.

Surat Persetujuan Impor (SPI) dari para pelaku usaha tersebut diberikan dan ditanda tangani oleh Kemdag kemarin (27/8/2013). Alokasi impor yang diberikan kepada masing-masing importir tersebut akan disesuaikan dengan penyerapan kedelai lokal, serta kemampuan finansial dari masing-masing perusahaan.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan meminta kepada para pelaku impor untuk menjaga agar harga kedelai stabil hingga akhir tahun ini. "Kami garis bawahi pasokan akan cukup kedepan," ujar Gita.

Jumlah kedelai yang harus diimpor hingga akhir tahun ini sekitar 1,48 juta ton. Jumlah ini, kurang lebih sama dibandingkan dengan volume impor kedelai tahun lalu.

Data Kementrian Perdagangan menunjukan, sampai Agustus, realisasi impor kedelai sudah mencapai 900.000 ton. Mulai dari September hingga akhir tahun, Kemdag memperkirakan ada tambahan impor 584.000 ton.

Menunggu izin impor

Sementara itu, Aip Syarifudin, Ketua Gakoptindo mengaku belum menerima SPI yang dijanjikan oleh Kemdag. Menurut pengakuan Aip, Gakoptindo meminta impor kedelai sebesar 50.000 ton. "SPI belum keluar, jadi kami belum tahu berapa kuota yang diberikan," kata Aip.

Yang pasti, Gakoptindo sudah membentuk divisi khusus yang akan menangani tugas tersebut. Bahkan, Gakoptindo juga sudah menghubungi eksportir di Amerika Serikat untuk memasok kedelai.

Awalnya Gakoptindo mengharapkan pemerintah segera mengeluarkan SPI kepada Bulog untuk mengimpor kedelai. Apalagi Bulog sudah diberikan tugas untuk menstabilkan harga kedelai.

Keterlambatan pemerintah untuk memberikan izin impor kepada Bulog ini jelas membuat pengrajin pusing. Pasalnya, saat ini harga kedelai impor mengalami lonjakan gara-gara melemahnya mata uang rupiah. Sedangkan pasokan kedelai dari lokal masih belum mencukupi.

Selama ini, para pengrajin tahu tempe membeli kedelai impor di level harga Rp 8.700 hingga Rp 9.000 per kilogram (kg). "Wah, saya lemas sekarang. Bingung juga mau bagaimana," kata Aip.

Bachrul membenarkan, kenaikan harga kedelai pada saat ini bukan karena stok kedelai menipis tetapi disebabkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar. Kedelai yang sebagian besar dipasok dari impor menjadi semakin mahal.

Bachrul menjelaskan, stok kedelai yang ada hingga akhir Agustus 2013, baik di gudang importir maupun yang sedang dalam proses pengiriman tersedia sebesar 300.000 ton. Stok ini diklaim cukup untuk kebutuhan 2,5 bulan konsumsi pengrajin tahu dan tempe di Indonesia. (Handoyo, Maria Elga Ratri)

 



Sumber
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ingin Bekerja Nyaman dan Bahagia? Pilih Perusahaan seperti Ini

Ingin Bekerja Nyaman dan Bahagia? Pilih Perusahaan seperti Ini

Work Smart
Pemerintah Beri Pinjaman Rp 650 Miliar ke Perumnas untuk Program 1 Juta Rumah

Pemerintah Beri Pinjaman Rp 650 Miliar ke Perumnas untuk Program 1 Juta Rumah

Whats New
Pertamina Beri Pinjaman Modal ke Pelaku Usaha yang Tak Lagi Gunakan Elpiji 3 Kg

Pertamina Beri Pinjaman Modal ke Pelaku Usaha yang Tak Lagi Gunakan Elpiji 3 Kg

Whats New
Gaji Rp 5 Juta, Sebaiknya Ngontrak atau Cicil Rumah?

Gaji Rp 5 Juta, Sebaiknya Ngontrak atau Cicil Rumah?

Spend Smart
Wika dan CNI Bangun Pabrik Nikel di Kolaka

Wika dan CNI Bangun Pabrik Nikel di Kolaka

Whats New
Pengusaha Sebut Hanya 3 Persen Pekerja yang Bekerja di Perusahaan Besar

Pengusaha Sebut Hanya 3 Persen Pekerja yang Bekerja di Perusahaan Besar

Whats New
Nadine Chandrawinata: Selain Plastik, Sampah Puntung Rokok Juga Banyak Ditemukan di Laut

Nadine Chandrawinata: Selain Plastik, Sampah Puntung Rokok Juga Banyak Ditemukan di Laut

Whats New
Pengusaha Ingin Buruh Tak Sekadar Demo, tapi Berdialog untuk Menyelesaikan Masalah

Pengusaha Ingin Buruh Tak Sekadar Demo, tapi Berdialog untuk Menyelesaikan Masalah

Whats New
[POPULER DI KOMPASIANA] Menyiapkan Guru Masa Depan | Siap-siap 5G | 7 Kesalahan dalam Bisnis

[POPULER DI KOMPASIANA] Menyiapkan Guru Masa Depan | Siap-siap 5G | 7 Kesalahan dalam Bisnis

Rilis
Luhut: Saya Enggak Mau Lama-lama, Kerjaan Saya Banyak

Luhut: Saya Enggak Mau Lama-lama, Kerjaan Saya Banyak

Whats New
Menaker Akui Iklim Terciptanya Lapangan Kerja Baru Masih Belum Bersahabat

Menaker Akui Iklim Terciptanya Lapangan Kerja Baru Masih Belum Bersahabat

Whats New
779 Warga Kota Serang Dapat Kompensasi Tumpahan Minyak dari Pertamina

779 Warga Kota Serang Dapat Kompensasi Tumpahan Minyak dari Pertamina

Whats New
7 Posisi Menteri yang Pernah Dijabat Luhut, Apa Saja?

7 Posisi Menteri yang Pernah Dijabat Luhut, Apa Saja?

Whats New
Menaker Sebut Nilai Upah Minimum RI Tak Sepadan dengan Produktivitas Pekerja yang Rendah

Menaker Sebut Nilai Upah Minimum RI Tak Sepadan dengan Produktivitas Pekerja yang Rendah

Whats New
Ini 7 Kiat Sukses Calon Pemimpin ala Gubernur BI

Ini 7 Kiat Sukses Calon Pemimpin ala Gubernur BI

Rilis
komentar di artikel lainnya
Close Ads X