Apakah "Resign" Massal di Pelindo 2 untuk Melawan Perubahan?

Kompas.com - 23/12/2013, 06:45 WIB
Kapal pengangkut barang bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia II, Rabu (21/12/2011). KOMPAS/HERU SRI KUMOROKapal pengangkut barang bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia II, Rabu (21/12/2011).
EditorBambang Priyo Jatmiko

Tradisi-tradisi seperti itu tentu harus diubah, dan tak ada kompromi bagi seorang change leader. Kita tentu tak bisa berpura-pura lugu bahwa itu tak ada sama sekali di sini, hanya menuduh tanpa bukti dan seterusnya.

Tetapi, nanti dulu. Generasi yang lebih tua sudah biasa melindungi anak buah yang juga pernah menyervis kita bukan? Jadi, amat sangat biasa surat hukuman tidak ditandatangani, bahkan tidak diteruskan kepada yang bersangkutan.

Kita menjadi takut berhadapan dengan anak-anak buah yang tahu sebagian besar “rahasia” kita.  Bukan hal baru, banyak manajer dalam institusi yang menjadi feodal itu selalu mengatakan begini "Sebentar ya saya tanya anak-anak dulu ya,". Lho, kok manajer minta pendapat anak buahnya?

Jadi kita ini mau bersekutu dengan siapa?

Dengan bos baru yang belum kita kenal yang memimpin perubahan ataukah dengan anak buah yang melindungi kita?

Keduanya ada risikonya. Kalau ikut bos, anak buah akan sakit hati dan berpotensi membuka rahasia hidup kita, bahkan membuka aib kita. Tetapi, bos akan memercayai kita, budaya perusahaan bisa lebih mudah dibangun, perubahan ada dalam genggaman.

Lantas bagaimana kalau kita berpaling ke anak buah? Tentu mereka senang dan bos besar akan marah, jabatan kita menjadi taruhannya. Pilihannya hanya dua: diberhentikan atau minta berhenti. Berhenti pun ada 2 cara: mengundurkan diri sendirian atau beramai-ramai. Kalau sendirian, kita akan dituduh macam-macam, tapi kalau beramai-ramai maka bosnyalah yang akan jadi sasaran kemarahan publik. Sederhana saja, bukan?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Uji karat perubahan

Seperti emas, pemimpin perubahan juga ada ukuran karatnya. Semuanya bisa diukur dengan memeriksa sejumlah elemen. Tetapi, ambil saja tiga hal ini: integritas, end-result, dan popularitas.

Integritas tak bisa diukur dari popularitas, bahkan keduanya sangat bertolak belakang. Semakin kuat integritas seseorang, kalau ia memimpin perubahan dalam organisasi tua yang berbudaya guyup, maka sangat mungkin ia akan menjadi tidak populer.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.