Sarjana Teknik Ini Sukses di Bisnis Agrowisata

Kompas.com - 05/12/2014, 10:36 WIB
 Irfandie Adi Pradana KONTAN/RANI NOSSAR Irfandie Adi Pradana
EditorErlangga Djumena

Terinspirasi keluarga
Meski memiliki latar belakang pendidikan yang jauh dari bisnis yang dia kelola saat ini, namun Fandie bisa mengatasi hal tersebut. Sebab, sejak kecil, dia sudah terbiasa melihat orangtuanya berbisnis.

Sebelum mendirikan kebun stroberi dan restoran khusus stroberi, orangtuanya menggeluti berbagai bisnis mulai dari usaha toko material, tempat cuci motor dan mobil, bengkel, warteg, hingga memproduksi batako. "Mereka jatuh bangun menjalankan bisnis-bisnis tersebut," katanya.  

Karena itulah, Fandie sudah biasa untuk ikut terjun dalam proses bisnis. Sampai akhirnya di tahun 2009, orangtua Fandie mendirikan restoran Sunda yang berlokasi di Ciburial, Lembang. Kebetulan restoran Sunda itu berdiri di lahan sendiri dan di sampingnya terdapat lahan kosong yang hanya ditanami pepohonan.

Lahan kosong itu juga milik orangtuanya lantas dibuatkan kebun stroberi. Bibit stroberi didatangkan dari Garut, Jawa Barat.  "Dulu kebun stroberi dan restoran luasnya hanya 1 ha," kata dia.

Kala itu, Fandie masih kuliah di ITB dan kebun stroberinya masih sangat sederhana bahkan dari jauh masih nampak seperti hutan. Restorannya pun masih menyajikan menu-menu masakan Sunda dan belum ada menu olahan stroberi. Mendapat inspirasi dari salah satu petani kebun stroberi yang sukses, Fandie mengajak ayahnya untuk mulai membenahi sedikit-sedikit kontur tanah agar menjadi tempat wisata.

Hal itu bukan hal yang sulit bagi Fandie, sebab sedari kecil dia dan keluarga suka bercocok tanam. Ia bercerita sayur-sayuran yang ia makan kebanyakan hasil tanam sendiri. Akhirnya, kebun stroberi banyak dilirik pengunjung meski masih belum besar. Di tahun 2011, Fandie mengusulkan agar lahan kebun diperluas agar semakin banyak pengunjung dan stroberi yang dihasilkan makin banyak.

Dia juga mewajibkan stroberi yang ditanam harus ditanam dengan teknik organik. "Jadi bapak saya beli lahan warga, dan totalnya kini semua ada 3 ha. Mulai dari situ saya semakin gencar ingin mengembangkan bisnis, membuat kontur berundak-undak agar lebih menarik," kata dia.

Saat masih kuliah, dia bertugas membantu untuk urusan promosi salah satunya membuat situs resmi dan berpromosi di media sosial. "Saat itu saya memang belum fokus membantu penuh waktu karena ada tugas kuliah," kata dia.  

Fandie juga tidak dipersiapkan menjadi penerus bisnis ini. Sempat selama setahun ayahnya memperkerjakan orang untuk menjadi manajer restoran dan kebun stroberinya. Namun, penjualan tidak maksimal dan akhirnya ayahnya kembali mengurus semuanya.

Akhirnya, ketika di tingkat akhir kuliahnya Fandie sadar bahwa jalannya adalah menjadi seorang pengusaha. "Jika ingin kaya harus jadi pengusaha, " kata dia.  (Rani Nossar)

Halaman:


Sumber
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X