Kembali Menguat, Harga Minyak Dunia Sentuh Level Tertinggi 2015

Kompas.com - 04/02/2015, 08:40 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi
EditorErlangga Djumena

NEW YORK, KOMPAS.com - Harga minyak dunia melonjak untuk hari ketiga berturut-turut pada Selasa (3/2/2015) waktu setempat (Rabu pagi WIB), menyentuh level puncak akhir 2014. Kenaikan harga emas hitam ini, di tengah harapan menguatnya kembali permintaan energi global dan pengurangan produksi.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret, melonjak 3,48 dollar AS atau tujuh persen, menjadi 53,05 dollar AS per barel, penutupan WTI tertinggi sejak 31 Desember.

Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Maret melompat naik 3,16 dollar AS atau 5,8 persen, menjadi menetap di 57,91 dollar AS per barel, angka terbaiknya sejak 30 Desember.

"Reli kuat berlanjut di pasar minyak karena keduanya kontrak berjangka bulan depan Brent dan WTI memperpanjang keuntungan dan naik lebih tinggi, didukung oleh peningkatan minat di tengah harapan rebound permintaan minyak global pada semester pertama 2015," kata Myrto Sokou, analis di broker Sucden.

WTI telah meningkat 8,53 dollar AS atau hampir 20 persen, sejak reli yang dimulai Jumat (30/2/2015) seiring dengan sinyal bahwa industri ini sedang mempercepat pengetatan kegiatan eksplorasi.

Baker Hughes North America pada Jumat lalu melaporkan penurunan tajam jumlah rig di AS untuk pekan yang berakhir 30 Januari, jatuh 128 rig menjadi 1.937 rig untuk pekan hingga 30 Januari, dibandingkan dengan 2.393 rig setahun lalu.

Pemotongan belanja modal oleh perusahaan-perusahaan minyak besar, termasuk pengumuman terbaru pada Selasa oleh BP dan BG Group, juga menunjukkan pasokan akan menjadi lebih ketat di masa mendatang.

"Banyak faktor yang berperan. Jelas, pemotongan belanja modal akan terus datang, dengan BP, dan kita melihat salah satu penurunan tercepat belanja di sektor ini yang bisa saya ingat," kata Phil Flynn dari Price Futures Group.

"Selain itu, pasar minyak juga merasakan cengkeraman dollar AS mulai melemah pada Selasa," kata dia. "Ini bukan hanya tentang penawaran dan permintaan -- dollar pasti memiliki pengaruh."

Beberapa analis memperingatkan rebound harga minyak saat ini kemungkinan besar tidak akan bertahan karena persediaan masih jauh lebih besar daripada permintaan.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X