Air Asia Akui Ada Kendala Teknis Pembayaran Klaim Asuransi

Kompas.com - 24/03/2015, 20:08 WIB
Bangkai pesawat yang berhasil diangkat dalam operasi lanjutan oleh tim SAR gabungan Basenas diturunkan dari kapal Crest Onyx di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (2/3/2015).  Bangkai yang merupakan bagian dari serpihan utama pesawat yang jatuh di Selat Karimata tersebut diserahkan Basarnas ke Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk kelanjutan investigasi. KOMPAS / LASTI KURNIABangkai pesawat yang berhasil diangkat dalam operasi lanjutan oleh tim SAR gabungan Basenas diturunkan dari kapal Crest Onyx di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (2/3/2015). Bangkai yang merupakan bagian dari serpihan utama pesawat yang jatuh di Selat Karimata tersebut diserahkan Basarnas ke Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk kelanjutan investigasi.
Penulis Yoga Sukmana
|
EditorJosephus Primus


JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Direktur Indonesia Air Asia Sunu Widyatmoko memberikan penjelasan mengapa pembayaran asuransi atas nama korban QZ 8501 baru diberikan kepada delapan ahli waris. Menurutnya, Air Asia, masih banyak kendala teknis di lapangan terkait kelengkapan dokumen. "Karena untuk pembayaran penuh dibutuhkan dokumen yang lebih lengkap yaitu surat keterangan ahli waris, dan juga untuk penumpang kita yang belum ditemukan dan belum diidentifikasi itu dibutuhkan surat kematian. Surat kematian ini saat menunggu keputusan dari pengadilan, jadi itu yang menyebabkan yang prmbayaran penuh masih sedikit karena surat kematian belum keluar," ujar Sunu saat ditemui di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (24/3/2015).

Dia melanjutkan, AirAsia juga mengalami kesulitan memberikan asuransi karena ada satu keluarga yang menjadi korban. Masalahnya, kata dia, dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk klaim asuransi sulit ditemukan karena tak ada yang tahu disimpan di mana. "Kami dari Air Asia, pemerintah kota, dan lainnya bagaimana untuk mempercepat itu, tapi faktanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses dan birokrasi yang membutuhkan waktu," kata dia.

Meski begitu kata dia, Air Asia akan berusaha menjembatani kebutuhan keluarga korban agar tetap bisa mengajukan klaim meski ketersediaan dokumen tak lengkap. "Oleh karena itu, kita menjembatani, tanpa surat keterangan ahli waris atau surat kematian, kami akan memberikan yang kekauarga bersedia atau membutuhkan, kami akan berikan kompensasi awal bagian dari Rp 1,25 miliar, yaitu sebesar Rp 300 juta per penumpang," ucap Sunu.

Menurut Sunu, pembayaran awal sebesar Rp 300 juta kita sudah diberikan kepada 80 ahli waris korban QZ 8501. Dia berharap pembayaran asuransi tersebut bisa cepat selesai dan ahli waris bener-benar mendapatkan haknya.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.