Kompas.com - 13/11/2015, 11:29 WIB
Mentri ESDM Sudirman Said KOMPAS.com/SRI LESTARI Mentri ESDM Sudirman Said
EditorErlangga Djumena

Pembubaran Petral

Budiman:
Salah satu kehebohan ketika Mas Dirman menjadi Menteri ESDM adalah Petral dibubarkan dan audit kabarnya sudah selesai.

Sudirman:
Dirut Pertamina menerima laporan final untuk periode tiga tahun, 2014, 2013, 2012. Dan, tentu saya akan mendapat copy dan itu memang kami yang menugasi. Betul, audit sudah ada dan kami akan lihat laporan itu.

Budiman:
Kira-kira dari proses audit apa yang diketahui sebenarnya pada Petral sehingga ketika ingin dibubarkan selalu tak pernah bubar dan baru sekarang bisa bubar?

Sudirman:
Saya harus memberikan kredit kepada pemimpin kita, Presiden Jokowi. Karena beliau yang betul-betul sejak awal memberikan dorongan bahwa ini mesti diselesaikan. Dari dulu, kan, urusan saya di sana. Jadi, kalau bicara peta selama bulan ini, kan saya mendapat update.

Contohnya, ada suatu transaksi di mana Pertamina sebagai pembeli BBM terakhir dan ada penjualnya. Di antara penjual Pertamina ada tiga atau empat perusahaan.

Dan, tiga-empat perusahaan itu ditengarai milik satu perusahaan yang sama, yang selama ini dicurigai atau ditengarai sebagai bagian dari kelompok yang mendominasi transaksi itu. Grup ini dalam tiga tahun review pembukuan transaksi mendapatkan bisnis kira-kira 18 miliar dollar AS dalam waktu tiga tahun. Artinya, setahun 6 miliar dollar AS. Itu artinya mendapatkan mayoritas deal.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kemudian juga contoh lain, dari e-mail, bisa dilacak bahwa satu dokumen tender yang akan dipublikasikan kepada peserta tender dikirimkan dulu ke perusahaan kelompok tersebut. Ini sudah terjadi dan komunikasi e-mail mereka bisa dengan cepat dilacak.

Dan, saya sebetulnya agak takjub kenapa mereka begitu terang-terangan mendemonstrasikan penyimpangan-penyimpangan itu. E-mail itu e-mail dari Petral, dari perusahaan X, yang sering disebut sebagai bagian dari mafia minyak.

Budiman:
Jadi, audit dari Kordamentha itu melacak e-mail-e-mail sejak beberapa tahun yang lalu?

Sudirman:
Jadi, audit forensik itu pertama dilakukan adalah mengambil seluruh interaksi dan komunikasi, terutama elektronik, kemudian direkam, setelah itu dianalisis, dipilah-pilah, dan ketika ditemukan bukti dikonfrontir kepada si pelakunya. Sesuatu yang mereka tak bisa mengelak sebetulnya.

Budiman:
Apakah pemain-pemain ini masih punya korelasi, hubungan dengan politisi-politisi yang tadi ikut bermain?

Sudirman:
Saya rasa sulit dibuktikan dengan hard evidence, tetapi nanti kalau itu mengarah pada penegakan hukum, kan, pasti ditanya, kenapa dilakukan ini, kenapa begitu. Dan, saya kira kalau mendengar, jangan mendengar.

Pengalaman saya di Pertamina menunjukkan, network-nya terlalu kentara. Siapa yang mengontrol apa dan siapa yang memutuskan terlihat semua. Saya kira yang membuat itu menjadi heboh ketika diaudit itu reaksi mereka begitu keras. Mereka cemas. Dan, kami sudah bisa menduganya.

Budiman:
Siapa yang cemas sebetulnya?

Sudirman:
Ya, orang-orang yang dulu mengelola ini semua. Di Pertamina, ada cerita bahwa saya diberhentikan. Ketika mau pasang iklan untuk mendaftar ulang vendor, ada larangan dari Pertamina, itu kan sesuatu yang nyata. Dan, orang tidak membantah karena saya mengalami itu semua.

Ketika saya ada di sini, kami lakukan audit, dan audit itu hanya bisa memberikan pembuktian bahwa cerita itu memang ada.

Budiman:
Audit sudah selesai dan setelah itu audit itu mau diapakan?

Sudirman:
Audit ini disebut sebagai audit forensik atau investigasi dan hasilnya ada dua. Satu, perbaikan ke dalam. Bagaimana kekeliruan-kekeliruan kemarin tidak diulang. Kedua, kalau hasil audit memberikan indikasi penyimpangan pelanggaran hukum, ya, harus disampaikan kepada penegak hukum. Dan, itu nanti setelah kita lihat laporannya, baru kita tentukan akan ke mana.

Budiman:
Siapa yang akan menentukan policy apa semata-mata untuk perbaikan internal atau dilanjutkan ke proses hukum? Siapa yang mengambil keputusan?

Sudirman:
Saya kira pemerintah, pimpinan tertinggi pemerintah adalah Presiden. Saya akan laporkan kepada Presiden dan terserah beliau mau bagaimana nanti. Tetapi, rasanya sejak dulu Presiden mengatakan, kalau ada pelanggaran hukum, jangan ragu-ragu, teruskan saja ke penegak hukum.

Budiman:
Advis dari Mas Dirman sendiri sebaiknya apa? Dibuka kepada publik supaya bangsa ini tahu bagaimana sebenarnya?

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.