Hindari Harga Anjlok, Bulog Akan Beli Beras Petani Sebanyak-banyaknya

Kompas.com - 29/02/2016, 21:37 WIB
Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat melakukam kunjungan kerja ke desa Mernek, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, Senin (29/02/2016) Rd. Ramanda JahansyahtonoMenteri Pertanian Amran Sulaiman saat melakukam kunjungan kerja ke desa Mernek, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, Senin (29/02/2016)
|
EditorM Fajar Marta
CILACAP, KOMPAS.com - Menteri Pertanian, Amran Sulaiman menginstruksikan kepada Bulog untuk membeli gabah langsung dari petani di periode panen raya yang diprediksi Maret-April 2016.

"Saya sudah minta Bulog untuk membeli gabah langsung pada petani," ujar Amran di Cilacap, Minggu (28/02/2016).

Hal ini dilakukan untuk menghindari anjloknya harga gabah di level petani seperti yang terjadi di setiap musim panen raya sebelumnya.

Amran menilai, setiap kali memasuki musim panen puncak, harga gabah kerap anjlok karena pasokan yang melimpah.

Maka dari itu, dengan langkah Bulog membeli gabah langsung ke petani, dipastikan petani akan mendapatkan harga yang wajar.

"Kami tetapkan harga patokan pembelian Gabah Kering Panen (GKP) Rp 3.700 per kilogram, jadi bisa mengangkat petani," lanjut Amran.

Amran melanjutkan, pemerintah sudah menginstruksikan Bulog untuk dapat menyerap 5 juta gabah dari petani selama musim puncak panen.

Produksi gabah pada periode panen raya Maret tahun 2016 ini diprediksi bisa mencapai 12,8 juta ton GKG atau setara dengan 7,9 juta ton beras.

Dia mengatakan, jumlah tersebut sudah mencukupi kebutuhan konsumsi beras nasional.

"Jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi beras penduduk sekitar 2,6 juta ton per bulan," lanjut Amran.

Harian Kompas/M Fajar Marta Neraca Beras Nasional

Direktur Pelayanan Perum Bulog Wahyu Suparyono mengatakan pihaknya siap untuk membeli gabah dari petani sebanyak-banyaknya.

Untuk itu, pihaknya sedang mempersiapkan gudang dan beberapa fasilutas lainnya.

Selain itu, wahyu juga berjanji untuk lebih aktif untuk membeli beras dari petani.

"Kalau dulu ada istilah petani malas menjual ke Bulog karena jauh, sekarang kami datangi ke lapangan," pungkas Wahyu.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X