Siapa Sangka, "Fintech" Ternyata Sudah Berkembang Sejak 1950-an

Kompas.com - 29/08/2016, 13:30 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad pada acara Indonesia Fintech Festival & Conference, Senin (29/8/2016). Sakina Rakhma Diah Setiawan/Kompas.comKetua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad pada acara Indonesia Fintech Festival & Conference, Senin (29/8/2016).
|
EditorAprillia Ika

TANGERANG, KOMPAS.com - Perkembangan layanan keuangan berbasis teknologi alias financial technology (Fintech) begitu pesat, baik secara global, regional, hingga nasional. Siapa sangka, perkembangan dan revolusi Fintech susah terjadi sejak lama?

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad mengungkapkan, dalam beberapa dekade terakhir industri Fintech telah berkembang dan ber-revolusi.

Pada tahun 1950-an, revolusi Fintech 1.0 sudah dimulai dari layanan kartu kredit dan anjungan tunai mandiri (ATM).

Kemudian, internet dan electronic commerce menjamur pada akhir tahun 1990-an, seperti munculnya internet banking dan situs–situs broker saham online.

"Saat itulah kita telah memasuki jenis Fintech yang disebut dengan Fintech 2.0," kata Muliaman saat membuka aara Indonesia Fintech Festival & Conference di ICE BSD, Tangerang, Senin (29/8/2016).

Selanjutnya, ketika mulai munculnya teknologi ponsel dan smartphone seperti pada aplikasi mobile banking di awal dekade 2000-an, saat itulah mulai memasuki era Fintech 3.0.

Era ini memungkinkan kapitalisasi informasi sebagai aset strategis yang dapat dipertukarkan, sehingga bermunculan layanan jasa keuangan bagi masyarakat umum seperti crowdfunding dan peer-to-peer lending.

Secara global, kata Muliaman, Fintech saat ini juga telah berkembang sangat pesat dan memiliki pangsa pasar yang besar.

Berdasarkan laporan yang dipublikasikan oleh lembaga riset Accenture, investasi global dalam usaha teknologi keuangan pada kuartal I 2016 telah mencapai 5,3 miliar dollar AS, naik 67 persen dari periode yang sama tahun lalu.

"Sementara itu, persentase investasi untuk perusahaan Fintech di Eropa dan Asia-Pasifik naik hampir dua kali lipat menjadi 62 persen," ujar Muliaman.

Khusus untuk kawasan Asia-Pasifik, investasi Fintech dalam tiga bulan pertama 2016, meningkat lebih dari 5 kali dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu dari 445 juta dollar AS menjadi 2,7 miliar dollar AS. Adapun hampir semuanya merupakan kontribusi investasi Fintech di China.

Muliaman melanjutkan, di Indonesia pemerintah sendiri terus mengikuti perkembangan start-up digital, baik yang terjadi di lingkup global maupun domestik.

Pada awal 2016 ini Presiden Joko Widodo telah mendeklarasikan visi untuk menjadikan Indonesia sebagai ‘The Digital Energy of Asia’ di Silicon Valley. 

"Visi ini diikuti dengan peluncuran Gerakan Nasional 1.000 Start Up Digital dan peluncuran Roadmap Electronic Commerce," ungkap Muliaman. (Baca: Fintech 2.0 dan 3.0, Apa Bedanya?)

Kompas TV Maraknya "Fintech" di Indo, Apa Sih Itu?

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X