Kurtubi: Jangan Salahkan Banyak SDM Indonesia yang Bekerja pada Sektor Energi Negara Lain

Kompas.com - 22/11/2016, 16:06 WIB
Kurtubi, Anggota Komisi VII Fraksi Partai Nasedem disela-sela kunjungan kerja di Pusat Saint dan  Teknologi Akselerator (PSTA) - BATAN Yogyakarta, Rabu (14/09/2016) Kontributor Yogyakarta, Wijaya KusumaKurtubi, Anggota Komisi VII Fraksi Partai Nasedem disela-sela kunjungan kerja di Pusat Saint dan Teknologi Akselerator (PSTA) - BATAN Yogyakarta, Rabu (14/09/2016)
|
EditorM Fajar Marta

JAKARTA, KOMPAS.com — Sempitnya lapangan pekerjaan di sektor energi menyebabkan pemuda-pemudi Tanah Air yang memiliki potensi besar dalam membangun negeri terpaksa harus beradu nasib di beberapa negara tetangga.

Anggota DPR RI Komisi VII, Kurtubi, mengatakan, tidak salah jika pemuda-pemudi Indonesia lebih memilih bekerja di negara tetangga dengan upah dan jenjang karier yang lebih menjanjikan.

"Jangan salahkan pemuda-pemudi kita yang bekerja di Malaysia atau negara tetangga lainnya karena di sana lapangan kerjanya lebih besar," ujar Kurtubi saat menghadiri rapat kerja Kementerian ESDM dengan Komisi VII di Jakarta, Selasa (22/11/2016).

Politisi dari Partai Nasional Demokrat ini mengatakan, dengan adanya proyek 35.000 megawatt (MW) yang dicanangkan pemerintah semestinya membuka peluang kerja yang cukup besar bagi pemuda-pemudi untuk turut serta menyukseskan program pemerintah tersebut.

Terkait pernyataan Menteri ESDM yang mengatakan pada 2019 semua daerah akan teraliri listrik, Kurtubi mengaku pesimistis. Pasalnya, penerapan energi baru terbarukan saja baru sampai 10 persen.

"Saya tidak yakin dalam 10 tahun ke depan mencapai 30 persen. Tidak lagi terjadi pemadaman listrik juga masih jauh. Untuk mendorong investor ikut di proyek penyediaan listrik juga masih jauh. Kita kalah sama Malaysia dan negara-negara tangga lainnya," tutur Kurtubi.

Menurut Kurtubi, untuk mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT), harus dicari cara alternatif dalam pengelolaannya.

Kurtubi menyarankan, pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Kurtubi menilai, potensi energi nuklir sangat banyak di dalam negeri. Namun, pada pelaksanaannya, pemerintah masih ragu-ragu karena takut akan risikonya.

Teknologi PLTN, kata Kurtubi, sudah banyak diterapkan di negara-negara tetangga yang sedang berkembang.

Bahkan, kata Kurtubi, sudah ada PLTN yang bisa dioperasikan di atas laut. Kurtubi menambahkan, rakyat tidak perlu takut akan risiko PLTN ke depannya karena sudah ada banyak kajian dalam pengembangannya.

"Teknologinya sudah aman. Rakyat jangan ditakut-takuti nuklir," pungkas Kurtubi.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X